Penelitian Ungkap Nilai Pendidikan dalam Bertani di Kalteng

Palangka Raya, Media Dayak 
 
Tim peneliti dari Universitas Palangka Raya (UPR), yang terdiri dari Dr. Linggua Sanjaya Usop M.Si., Dr. Indra Perdana M.Pd., dan Paul Diman M.Pd., baru saja merampungkan penelitian mengenai nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi menanam padi suku Dayak di Kalimantan Tengah. 
 
Penelitian ini didukung oleh Bappedalitbang Provinsi Kalimantan Tengah, bertujuan untuk mendokumentasikan dan mengkaji nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi agraris masyarakat Dayak tersebut.
 
Salah seorang Peneliti dari UPR Paul Diman M.Pd, Belum lama ini mengatakan , Kalimantan Tengah yang kaya akan potensi pertanian, kini mendapatkan sorotan baru berkat penelitian yang mendalam tentang budaya menanam padi masyarakat Dayak. 
 
Tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun ini tidak hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai luhur yang mendidik dan memperkuat ikatan sosial, katanya lagi.
 
“Penelitian ini mengungkap bahwa proses menanam padi pada masyarakat dayak Ngaju terdiri dari tahapan-tahapan penting seperti Manugal (menanam benih dengan tugal), Mesei (membersihkan lahan dari gulma), Ngasek (pemeliharaan tanaman), Mamanggung (melindungi tanaman dari hama), Manggetem (panen manual), dan Nganyam (mengolah padi menjadi beras),” ungkap Paul Diman, M.Pd yang juga merupakan salah Seorang dosen di FKIP UPR ini. 
 
Lebih lanjut dikatakan Paul Diman,M. Pd, pada masyarakat dayak Maanyan menanam padi disebut Muau atau Muau Entu yang secara spesifik yang dapat berarti tradisi menanam benih padi pada lahan kering atau dataran tinggi (bukan Gambut). Adapun tahapan dalam tradisi Muau terdiri dari numang, yaitu membuka lahan. 
 
Apabila lahan yang mau digarap pohon-pohonnya masih kecil disebut numang lasi muda, sedangkan lahannya pohonnya besar-besar disebut numang katuan, dan lahan yang dibuka tahun sebelumnya disebut jajapan. 
 
 Dijelaskannya, pembukaan lahan dilakukan dengan menebang pohon-pohon yang besar maupun kecil dan rumput liar (namaruh dan neweng). Setelah pembersihan lahan dengan cara tamaruh (menebas atau membersihkan pohon-pohon berukuran kecil), kemudian neweng (menebang pohon-pohon berukuran besar), iradah (memotong dahan dan ranting pohon yang ditebang), iranrang (membersihkan sekeliling lahan supaya tidak terjadi kebakaran hutan atau kebun di dekat lahan,  nutung (membakar lahan), setelah lahan dibakar selanjutnya ipanruk (mengumpulkan puing-puing kayu sisa pembakaran untuk dibakar lagi). Setelah lahan siap baru dilaksanakan muau atau menugal.
 
 “Setiap tahapan ini tidak hanya melibatkan keterampilan teknis tetapi juga diperkaya dengan upacara adat dan ritual spiritual yang menghormati leluhur dan alam,” ujarnya.
 
Ditambahkan Paul Diman, M.Pd, metode penelitian yang digunakan meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun daerah yang menjadi sampel dalam penelitian ini meliputi berbagai desa di Kabupaten Kapuas, Katingan, dan Barito Timur. Penelitian ini mencakup gotong royong dan kerja sama yang mengajarkan pentingnya bekerja bersama dan saling membantu dalam komunitas, penghormatan terhadap alam yang menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, dan pewarisan pengetahuan di mana generasi muda belajar keterampilan dan pengetahuan tradisional yang berharga dari para tetua.
Temuan ini menggarisbawahi pentingnya integrasi nilai-nilai budaya dalam kurikulum pendidikan lokal, sehingga generasi mendatang dapat terus menghargai dan melestarikan warisan leluhur mereka.
 
Hal Senada diungkapkan Dr. Linggua Sanjaya Usop, M.Si., ketua tim peneliti, menyatakan, “Penelitian ini mengungkapkan betapa kaya dan berharganya tradisi menanam padi suku Dayak, tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga sebagai alat pendidikan yang efektif. Kami berharap hasil penelitian ini dapat mendorong pengembangan kurikulum pendidikan yang lebih inklusif dan berbasis pada kearifan lokal.”
 
Penelitian ini merupakan panggilan bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih menghargai dan melestarikan tradisi menanam padi, menjadikannya bagian integral dari pendidikan dan kebudayaan lokal di Kalimantan Tengah, demikian Dr. Linggua Sanjaya Usop, M.Si.(Ist/Lsn)
 
 
 
 
image_print

Pos terkait