Palangka Raya, Media Dayak
Stunting dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu jumlah anak usia kurang dari 5 tahun, usia ibu saat melahirkan, pengetahuan ibu yang rendah, status gizi ibu saat kehamilan, durasi mendapatkan ASI, defisiensi besi, defisiensi zink, usia dan frekuensi terkena infesi saluran nafas, pendapatan keluarga. Faktor masyarakat juga dikaitkan dengan kejadian stunting, khususnya, akses yang buruk ke perawatan kesehatan dan tinggal di daerah pedesaan. Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap kejadian stunting anak yaitu kurangnya pendidikan dan budaya masyarakat, sistem pertanian dan pangan, air, sanitasi, dan lingkungan.
Ketua Tim Dr. dr. Nawan, M.Ked.Trop, menjelaskan, Pemerintah Indonesia pada Januari 2021 menargetkan pada tahun 2024 kasus stunting di Indonesia dapat ditekan hingga berada di angka 14 persen. Pada tahun 2022, sesuai dengan Survey Status Gizi Indonesia tahun 2022, angka stunting di Indonesia 21,6%. Kalimantan Tengah menurut SSGI 2022, angka stunting yaitu 26,9%. Kabupaten Gunung Mas, selama tahun 2022 mampu menurunkan angka stunting dengan sangat signifikan. Angka SSGI 2022, stunting di Gunung Mas yaitu 17,9%.
Menurutnya, walaupun prevalensi stunting di Kabupaten Gunung Mas telah turun, angka stunting di Kecamatan Kurun mengalami kenaikan yakni 11,75% dibandingkan dengan angka di tahun 2021 yakni 8,19 persen.
Dijelaskan Dr. dr. Nawan, M.Ked.Trop, Universitas Palangka Raya semenjak tahun 2019 sudah menjadi mitra pemerintah Kabupaten Gunung Mas terkait percepatan penurunan stunting. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah melalui kegiatan program dosen pendamping pemberdayaan masyarakat (PDPPM). Tema dari kegiatan ini adalah “penguatan pengetahuan masyarakat tentang hubungan penyakit infeksi anak, sosial budaya, dan rendahnya tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting di kecamatan kurun, kabupaten gunung mas, kalimantan tengah”.
Menurutnya lagi, Tujuan umum dari kegiatan ini yaitu memberikan pendampingan khususnya untuk mempertahankan prevalensi stunting di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah pada tahun 2023 yaitu tetap di bawah 20%.
Tujuan khusus kegiatan ini yaitu:
Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hubungan penyakit infeksi pada anak dengan stunting di Kecamatan Kurun, kabupaten Gunung Mas.
Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hubungan sosial budaya dengan stunting di Kecamatan Kurun, kabupaten Gunung Mas.
Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hubungan rendahnya tingkat pendidikan ibu dengan stunting di Kecamatan Kurun, kabupaten Gunung Mas.
Peserta kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat di wilayah Kecamatan Kurun.
Kegiatan penyuluhan dilakukan di Desa Tumbang Tariak, Teluk Nyatu, Tanjung Riu. Kegiatan, meliputi antara lain: penyuluhan/ sosialisasi dan pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, dan gula darah.
Tim pengabdian terdiri dari 4 (empat) orang dosen yang mempunyai kualifikasi yang berbeda dan mahasiswa yang akan berkolabarasi dalam kegiatan ini. Pada kegiatan ini diperlukan kepakaran untuk menyelesaikan persoalan dan kebutuhan mitra, kata DR.dr.Nawan,M.Ked.Trop.
Adapun tersebut diketuai oleh Dr. dr. Nawan, M.Ked.Trop., dengan anggota yaitu, Dr. Joni Rusmanto, M.Si., Seth Miko, M.Pd., dr. Septi Handayani, M.Si. DR.dr.Nawan,M.Ked.Trop, menambahkan kesimpulan dari kegiatan penguatan pengetahuan masyarakat tentang hubungan penyakit infeksi anak, sosial budaya, dan rendahnya tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting di Kecamatan Kurun, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah telah memberikan penguatan pengetahuan mitra yang sudah ada (meningkatnya pengetahuan peserta mengenai hubungan penyakit infeksi anak, sosial budaya, dan rendahnya tingkat pendidikan ibu dengan kejadian stunting).(Ist/Lsn)












