Bupati Gumas Jaya S Monong sedang manugal pada kegiatan Harubuh Manugal, Handep Hapakat Menggali Kearifan Lokal Budaya Dayak dengan Tradisi Manugal di lokasi lahan / ladang Desa Upon Batu, Kecamatan Tewah, Selasa (24/10). (Media Dayak/Novri JK H)
Kuala Kurun, Media Dayak
Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) menggelar kegiatan Harubuh Manugal, Handep Hapakat Menggali Kearifan Lokal Budaya Dayak dengan Tradisi Manugal di lokasi lahan / ladang Desa Upon Batu, Kecamatan Tewah, Selasa (24/10).
Turut hadir Bupati Gumas Jaya S Monong, Wakil Bupati (Wabup) Efrensia LP Umbing dan suami D K Mandarana, unsur Forkopimda, anggota DPRD Punding S Merang, Evandi, Polie L Mihing dan Yuniwa. Staf Ahli Bupati bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan (Ekobang) Guanhin, beberapa kepala perangkat daerah dan sejumlah pejabat eselon tiga, Camat Tewah, Ketua TP PKK Ny Mimie Mariatie Jaya S Monong, beberapa kepala desa, perwakilan tokoh masyarakat / adat / pemuda dan undangan lainnya.
Pada sambutannya, Jaya menerangkan Harubuh Manugal berarti tradisi menanam padi secara tradisional yang dilakukan masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah (Kalteng) secara bersama-sama atau bergotong royong.
“Manugal salah satu kearifan lokal di Kalimantan Tengah yang dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Dayak Kalimantan Tengah. Tradisi ini harus terus dirawat untuk diketahui generasi yang akan datang,” kata Jaya.
Jaya mengaku dirinya sudah terbiasa mengikuti kegiatan Harubuh Manugal sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Kegiatan Harubuh Manugal mencerminkan persaudaraan dan kebersamaan dalam perbedaan yang ada.
Dalam laporannya, Kepala Disbudpar Gumas Hansli Gonak menyampaikan tujuan kegiatan, untuk meningkatkan kerjasama dan kebersamaan pemkab dengan masyarakat desa dalam rangka melestarikan adat budaya dan tradisi serta menumbuh rasa kekeluargaan.
Melestarikan adat tradisional masyarakat Dayak Kalteng khususnya di Kabupaten Gumas. Memperkenalkan kearifan budaya lokal. Sebagai sarana promosi budaya dan pariwisata kabupaten / kota di Kalteng.
Membangkitkan kembali semangat masyarakat untuk berladang dan bercocok tanam yang selama ini hamper ditinggalkan.
Meningkatkan kesejahteraan melalui bercocok tanam dan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Gumas.
Pantauan Media Dayak, sebelum kegiatan dilakukan, didahului dengan ritual adat Dayak Kalteng khususnya di Gumas, yakni manawur, mampisik ganan petak, manimang binyi dan mengambil benih.
Setelah ritual, dilanjutkan dengan kegiatan manugal menggunakan kayu yang diruncingkan pada bagian depan untuk membuat lubang di tanah. Selanjutnya benih padi dimasukkan pada lubang tersebut.
Pembuatan lubang di tanah dilakukan oleh laki-laki, sedangkan para ibu menaburkan benih padi pada tanah yang sudah berlubang.
Kegiatan harubuh manugal semakin seru dengan tradisi hajamuk, yakni tradisi adat Dayak Kalteng khususnya Gumas berupa mengoles pipi bahkan seluruh wajah dari arang kayu hasil pembakaran lahan untuk berladang.
Semua peserta harubuh manugal dari segala lapisan usia, baik tua maupun muda, melakukan hajamuk sehingga tampak pipi bahkan seluruh wajah peserta harubuh manugal menjadi hitam lantaran dioles arang kayu hasil pembakaran lahan untuk berladang. (Nov/Aw)












