Ruang Opini Publik

Oleh : Mia Komariah

Bacaan Lainnya

Kemajuan teknologi jelas memberikan dampak yang luar biasa bagi umat manusia. Salah satunya adalah memudahkan komunikasi dan memberikan informasi-informasi dengan cepat tanpa ada batasan ruang dan waktu. Namun, disamping segala kemudahan yang dihasilkan oleh teknologi, juga membawa dampak negatif yang tidak dapat dihindari. Salah satunya adalah hoax.

Hoax merupakan fitnah yang sangat merugikan bagi semua pihak, berkat hoax orang yang tidak bersalah menjadi salah, orang yang berniat baik menjadi bulan-bulanan netizen, dan orang yang tidak tahu menahu menjadi seperti pesakitan. Hoax biasanya paling banyak disebarkan melalui sosial media, sehingga penyebarannya sangat cepat.

Menuju pemilihan presiden pada tanggal 17 April 2019, panggung politik Indonesia semakin memanas. Berbagai rumor dan isu tersebar untuk menggiring opini publik agar memilih paslon yang menadi jagoan. Ditengah-tengah kebingungan masyarakat untuk memilih pemimpin bangsa ini, hoax semakin merajalela dan tak dapat dibendung lagi penyebarannya.

Berbagai hoax muncul untuk mewarani panasnya suasana politik di negeri ini, seperti yang di lansir pada laman liputan6.com dengan judul artikel “3 Hoax yang Menghebohkan Terkait Pilpres 2019”. Brikut hoax-hoax yang termuat pada artikel tersebut: a) Ustadz Abdul Somad masuk timses Probowo-Sandi, b) Surat Susilo Bambang Yudhoyono, dan c) Survei pilpres 2019.

Sifat masyarakat yang langusng percaya membuat hoax ini viral dan ramai diperbincangkan. Inilah yang menyebabkan hoax terus berkembang, yaitu kurangnya rasa ragu pada diri pembaca sehingga langsung menyebarkan berita yang diterimanya, terlebih apabila orang yang menyebarkan edaran tersebut adalah orang yang memiliki jabatan atau orang yang dipandang terhormat, maka berita tersebut akan langsung di broadcast ke semua sosial media.

Mengapa bisa demikian? menurutku, hal tersbut terjadi karena literasi kita masih terbilang rendah, sehingga ketika ada sebuah pemberitaan, tidak ada rasa ragu sedikitpun dalam benak pembaca. Kemudian, literasi juga belum menjadi akar yang membudaya di tengah-tengah masyarakat kita, sehingga untuk melakukan literasi terhadap suatu fenomena yang terjadi sangat tidak menarik untuk dilakukan, jangankan untuk melakukan research agar dapat membuktikan kebenaran dari sebuah berita, kebanyakan dari kita lebih memilih untuk menyalin dan mem-paste-nya, lalu auto sebarkan.

Begitulah keadaan yang sedang melanda negara kita, terlebih ketika masa pesta demokrasi akan segera kita laksanakan, peneybaran hoax semakin menjadi-jadi seakan tidak ada batasan dan filter untuk mencegahnya.

Literasi, itulah yang saat ini paling dibutuhkan bagi bangsa ini, jika tidak mampu berliterasi, maka diskusilah jawabannya, kita membutuhkan tempat untuk saling bertukar pendapat, memastikan kebenaran suatu berita, dan tidak menelan bulat-bulat setiap pemberitaan yang beredar. Oleh karena itu, pada masa-masa perpolitikan yang panas ini, diperlukan suatu wadah atau tempat yang dapat diakses oleh semua orang untuk mendiskusikan setiap berita yang sedang hangat diperbincangkan, beradu argumen berdasarkan data dan fakta, juga yang mampu memberikan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Maka, aku berfikir bahwa KPU sebegai penyelenggara pemilihan umum, harus menciptakan “Ruang Opini Publik”. Ruang Opini Publik tersebut merupakan tempat dimana kita dapat berpendapat membicarakan suatu topik bersama-sama berbasis online, sehingga ketika suatu pemberitaan muncul dapat dikaji bersama-sama dan memastikan kebenaran dari pemberitaan tersebut. Kemudian, luaran atau kesimpulan yang dihasilkan dari Ruang Opini Publik ini dijadikan sebuah tulisan yang sudah jelas kebenarannya, sehingga dapat menangkal berita hoax yang sedang beredar.

Dengan adanya ruang diskusi seperti ini, diharapkan bukan hanya memberikan pemberitaan-pemberitaan yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi juga mampu meningkatkan literasi, pemahaman masyarakat terhadap suatu fenomena, dan meningkatkan kemampuan analisis serta meneliti bagi masyarakat kita. Sehingga, masyarakat yang awam terhadap perpolitikan dapat mengkonsumsi berita-berita yang kredibel dan memilih pemimpin Indonesia seperti yang diharapkan.

 Penulis Pengamat Sosial

image_print

Pos terkait