Dalam rangka kelancaran dan persiapan pelaksanaan kegiatan Napak Tilas Penjanjian Damai Tumbang Anoi, Pemkab Gumas, Senin (13/7/2026) menggelar rapat di Ruang Rapat Lantai 1 Kantor Bupati Gumas dengan agenda pembahasan teknis pelaksanaan kegiatan, pembagian tugas dan tanggung jawab dan hal lain yang dianggap perlu. Rapat dipimpin Sekda Gumas Richard didampingi Asisten II Setda Baryen serta Kepala Bapperida Gumas Yantrio Aulia.(Media Dayak/Novri J H)
Kuala Kurun, Media Dayak
Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas) tidak ingin pelaksanaan Napak Tilas Penjanjian Damai Tumbang Anoi Tahun 2028 sekedar menjadi agenda seremonial. Jauh sebelum hari pelaksanaan, seluruh kekuatan pemerintah mulai digerakkan untuk memastikan momentum bersejarah itu menjadi titik balik kebangkitan budaya Dayak, pariwisata, hingga pembangunan kawasan Tumbang Anoi.
Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Gumas Richard didampingi Asisten II Setda Baryen serta Kepala Bapperida Gumas Yantrio Aulia, di Ruang Rapat Lantai I Kantor Bupati Gumas,Senin (13/7/2026). Rapat turut dihadiri Asisten I Setda Roby Haris, para kepala OPD dan pejabat eselon III terkait untuk membahas secara rinci kesiapan teknis, pembagian tugas, strategi pendanaan, hingga arah besar pengembangan kawasan Tumbang Anoi.
Dalam paparannya, Kepala Bapperida Gumas Yantrio Aulia menegaskan bahwa Napak Tilas Penjanjian Damai Tumbang Anoi merupakan salah satu program unggulan Tambun Bungai Bermartabat yang telah ditetapkan sebagai agenda dua tahunan daerah.
Meski kondisi keuangan daerah saat ini belum memungkinkan penyelenggaraan kegiatan berskala besar, Yantrio menegaskan bahwa pelaksanaan paling realistis adalah pada tahun 2028. Namun, seluruh persiapan harus dimulai sejak sekarang agar kegiatan tersebut benar-benar mampu memberikan dampak besar bagi Kabupaten Gumas.
“Persiapan tidak boleh terlambat. Tahun 2028 harus menjadi momentum kebangkitan sejarah Tumbang Anoi sekaligus penguatan identitas budaya Dayak,” tegas Yantrio.
Ia mengungkapkan, langkah awal yang akan dilakukan adalah membentuk Steering Committee sebagai panitia pengarah sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Tim ini akan bertanggung jawab menyusun proposal strategis guna memperoleh dukungan pendanaan, dukungan politik, hingga percepatan pembangunan infrastruktur kawasan Betang Damang Batu di Desa Tumbang Anoi.
Proposal tersebut nantinya akan diajukan kepada berbagai kementerian dan lembaga pemerintah pusat, sekaligus menjadi dokumen utama dalam agenda safari Bupati Gumas, termasuk rencana kunjungan ke Sabah, Malaysia.
Target besarnya bukan hanya menyukseskan pelaksanaan Napak Tilas,tapi juga mengangkat Betang Damang Batu di Desa Tumbang Anoi menjadi Cagar Budaya Nasional.
“Status Cagar Budaya Nasional adalah target utama yang harus kita perjuangkan bersama,” tandas Yantrio.
Menurutnya, keberhasilan target tersebut harus didukung dengan pembenahan kawasan secara menyeluruh, mulai dari pembangunan alun-alun, peningkatan jaringan listrik dan telekomunikasi, hingga penyediaan akomodasi berbasis homestay yang melibatkan masyarakat setempat.
Selain Steering Committee, Pemkab juga akan membentuk Organizing Committee yang bertugas menangani seluruh aspek teknis pelaksanaan kegiatan.
Yantrio menambahkan, proposal yang telah disusun saat ini telah mencapai sekitar 80 persen dan masih akan disempurnakan sebelum diajukan secara resmi. Proposal tersebut mengusung judul “Penataan Kawasan Betang Damang Batu Menuju Cagar Budaya Nasional Melalui Napak Tilas Rapat Tumbang Anoi 1894 di Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah.”
Ia juga menegaskan bahwa penyelenggaraan tahun 2028 akan menjadi Napak Tilas Penjanjian Damai Tumbang Anoi yang ketiga, sehingga seluruh persiapannya harus jauh lebih matang dibanding pelaksanaan sebelumnya.
Sementara itu, Sekda Gumas Richard menekankan pentingnya penyamaan persepsi terkait penyebutan kawasan bersejarah tersebut, apakah menggunakan istilah Betang Tumbang Anoi atau Betang Damang Batu.
“Budaya masyarakat Dayak lebih mengenal Betang Damang Batu. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita mempersiapkan semuanya sejak dini agar pelaksanaan tahun 2028 benar-benar sukses,”ujar Richard.
Richard meminta seluruh OPD tidak hanya fokus pada penyelenggaraan acara, tapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Napak Tilas pertama dan kedua agar berbagai kekurangan tidak kembali terulang.
Ia menilai, kesiapan infrastruktur menuju Desa Tumbang Anoi menjadi faktor utama yang harus segera dibenahi. Selain itu, masyarakat setempat juga harus dipersiapkan menjadi tuan rumah yang ramah dan profesional melalui edukasi budaya, pelayanan tamu, hingga penguatan ketahanan pangan desa.
“Jangan sampai tamu datang tetapi kebutuhan pangan tidak tersedia. Desa Tumbang Anoi harus mampu mandiri, bahkan memiliki cadangan beras lokal sebagai bagian dari kesiapan menyambut tamu dari berbagai daerah maupun mancanegara,” tegas Richard.
Richard juga menyepakati pembentukan tim kecil untuk menyempurnakan proposal sebelum disampaikan kepada pemerintah pusat.
Pada kesempatan yang sama, Asisten II Setda Gumas Baryen menilai kegiatan Napak Tilas Tumbang Anoi merupakan agenda besar yang tidak hanya menjadi milik Kabupaten Gumas,tapi juga seluruh masyarakat Dayak.
Karena itu, menurutnya, dukungan politik di tingkat nasional menjadi faktor yang sangat penting.
“Gunung Mas harus menjadi inisiator. Nantinya seluruh elemen masyarakat Dayak akan ikut terlibat sehingga gaung kegiatan ini semakin besar,” ujar Baryen.
Baryen mengusulkan agar proposal difokuskan kepada Bappenas serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, dengan sasaran utama memperoleh dukungan terhadap penetapan Betang Damang Batu sebagai Cagar Budaya Nasional.
Baryen juga menilai rencana pertemuan di Sabah akan menjadi momentum strategis untuk memperluas dukungan terhadap pelestarian sejarah Tumbang Anoi.
Selain itu, Baryen meminta segera dilakukan peninjauan lapangan guna melihat secara langsung kondisi infrastruktur menuju Desa Tumbang Anoi sehingga seluruh kebutuhan pembangunan dapat dipetakan secara komprehensif.
Sebagai referensi pengembangan kawasan wisata sejarah, Yantrio mengungkapkan bahwa Desa Punthuk Setumbu di Magelang, Jawa Tengah, dapat dijadikan contoh dalam penataan destinasi wisata berbasis budaya dan masyarakat.
Menurutnya, Napak Tilas Tumbang Anoi nantinya juga harus menjadi ajang promosi produk unggulan daerah, termasuk tiga produk kopi khas Gunung Mas serta empat varietas padi lokal yang dapat dipadukan dalam rangkaian kegiatan.
Dalam rapat tersebut juga disepakati pembagian peran lintas OPD. Diskominfosantik Gumas diminta mulai menggaungkan dan memviralkan seluruh tahapan persiapan Napak Tilas, Dinas Pertanian bertanggung jawab memastikan kesiapan pangan, sedangkan Badan Kesbangpol Gumas akan mengoordinasikan aspek keamanan bersama organisasi kemasyarakatan yang ada di Kabupaten Gumas.
Melalui langkah-langkah strategis yang dimulai sejak sekarang, Pemkab Gumas optimistis Napak Tilas Penjanjian Damai Tumbang Anoi 2028 tidak hanya menjadi peringatan sejarah,tapi juga menjadi momentum besar mengangkat warisan budaya Dayak ke panggung nasional bahkan internasional, sekaligus mendorong percepatan pembangunan kawasan Tumbang Anoi sebagai salah satu destinasi budaya unggulan di Kalimantan Tengah.(Nov/Aw)













