Menuju Napak Tilas Tumbang Anoi 2028, Distan Gumas Genjot Kebangkitan Padi Ladang Lokal demi Wujudkan Kemandirian Pangan

Kepala Dinas Pertanian Gumas, Aryantoni.(Media Dayak/Novri J H)

Kuala Kurun, Media Dayak

Bacaan Lainnya

Target Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas) menjadikan Desa Tumbang Anoi sebagai kawasan mandiri pangan dengan cadangan beras lokal menjelang pelaksanaan Napak Tilas Perjanjian Damai Tumbang Anoi Tahun 2028 mulai diterjemahkan ke dalam langkah-langkah strategis di sektor pertanian.

Menanggapi target yang disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Gumas Richard tersebut, Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Gumas, Aryantoni, menegaskan bahwa kemandirian pangan merupakan cita-cita besar yang harus terus diperjuangkan, meski dihadapkan pada berbagai tantangan kondisi alam, karakteristik lahan, hingga aspek sosial budaya masyarakat.

“Kemandirian pangan suatu wilayah adalah cita-cita mulia yang idealnya dimiliki setiap daerah. Untuk mencapainya tentu tidak mudah, karena kondisi alam, lahan, dan sosial masyarakat memiliki tantangan tersendiri yang membutuhkan pendekatan yang tepat,” ujar Aryantoni, Senin (20/7/2026).

Menurutnya, salah satu strategi utama yang kini ditempuh distan adalah mengembangkan sistem budidaya yang selaras dengan kearifan lokal masyarakat Dayak, yakni menghidupkan kembali budaya bertanam padi ladang yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Pendekatan berbasis budaya tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan memaksakan pola budidaya yang belum tentu sesuai dengan karakter wilayah maupun kebiasaan masyarakat setempat.

“Salah satu upaya yang kami lakukan adalah mengadaptasikan pola pertanaman dengan budaya lokal, khususnya budaya tanam atau budidaya padi ladang lokal,” jelasnya.

Aryantoni mengakui, sistem pertanian tradisional yang selama ini diterapkan masih mengandalkan pola ekstensifikasi lahan dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah. Namun demikian, kondisi tersebut bukan menjadi alasan untuk meninggalkan budaya bertani masyarakat, melainkan menjadi dasar untuk melakukan pembinaan dan peningkatan produktivitas secara bertahap melalui inovasi teknologi serta pendampingan kepada petani.

“Walaupun budaya tanam lokal masih mengedepankan ekstensifikasi dengan produktivitas yang belum optimal, kami melihat potensi besarnya tetap ada untuk terus dikembangkan,” katanya.

Ia menambahkan, revitalisasi budaya bertani padi ladang tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi beras lokal,tapi juga membangkitkan kembali semangat masyarakat Dayak dalam mengelola lahan sebagai sumber ketahanan pangan keluarga.

Dengan penguatan budaya bercocok tanam tersebut, distan berharap masyarakat Desa Tumbang Anoi mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri sekaligus membangun cadangan beras lokal yang menjadi salah satu simbol kesiapan daerah menyambut Napak Tilas Perjanjian Damai Tumbang Anoi Tahun 2028.

Upaya ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Gumas.(Nov/Aw)

image_print

Pos terkait