Tumpukan buah durian yang didagangkan oleh Mama Devi, di bahu jalan Soekarno Hatta – Kasongan setiap harinya, dari pagi hingga sore hari.(Media Dayak/Ist)
Kasongan, Media Dayak
Durian Kasongan Kabupaten Katingan kembali membanjiri kota Kasongan dan sekitarnya. Hal ini terbukti kian banyaknya masyarakat Katingan yang mendagangkan duriannya di sejumlah tempat. Diantaranya, di sepanjang jalan Tjilik Riwut KM 1 arah hingga KM 7 Kereng Pangi, di sepanjang jalan Soekarno Hatta – Kasongan dan di beberapa tempat lainnya.
Sedangkan pembeli (konsumennya), bukan hanya masyarakat lokal Katingan saja, tapi banyak pula masyarakat yang berasal dari luar daerah Kabupaten Katingan, seperti dari Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim ), dari Banjarmasin (Kalsel) serta dari beberapa Kabupaten dan Kota lainnya di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Bahkan ada pula pedagang musiman dari Kota Palangka Raya dan dari Banjarmasin (Kalsel). Mereka sengaja datang ke Kasongan hanya untuk membeli dengan menggunakan mobil pickup, untuk dijualnya ke kota Palangka Raya dan ke kota Banjarmasin (Kalsel).
Mama Devi, salah seorang ibu rumah tangga (IRT) yang juga pedagang buah musiman yang mendatangkan buah duriannya, saat diwawancarai oleh sejumlah awak media, Rabu (30/6), mengatakan, harga jual buah durian yang dijualnya bervariasi, diantaranya dengan harga Rp 35 ribu/biji, Rp 50 ribu/biji, Rp 75 ribu/biji dan Rp 100 ribu/biji, serta ada pula dengan harga perpaket, tergantung besar kecil dan jenis buah duriannya.
Ditanya tentang jenis buah durian asal Kasongan Kabupaten Katingan yang dimaksud menurutnya, terdiri dari durian gelapir, durian otak udang dan durian mentega serta jenis lainnya. “Dari semua jenis durian Kasongan pada dasarnya, bukan hanya terkenal dengan ketebalan isinya saja, tapi terkenal pula legit dan harumnya yang menggugah selera,” kata Mama Devi.
Terkait penghasilan yang didapat dari berdagang durian, khususnya setiap datangnya musim durian di Kasongan ini menurutnya, meskipun tidak terlalu banyak namun hasil atau keuntungannya mampu untuk menghidupi dua orang anaknya yang hingga kini sudah beranjak dewasa dan remaja. Yang pertama perempuan, sudah menamatkan sarjana Starta (S1) dan yang nomor dua pria sudah menamatkan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas (SMA). “Ini semua berkat berdagang buah musiman, termasuk buah durian. Bahkan dari hasil berdagang durian ini bukan hanya bisa menghidupi keluarga saja, tapi ada kelebihannya, yang bisa kami tabung,” jawabnya dengan jujur. (KAs/Aw)











