Di Balik Ramainya Taman Kota Kuala Kurun, Mama Ranti Bertahan dari Rebusan Kacang: Omzet Ratusan Ribu, Berharap Pemkab Kembangkan Kacang Tanah Lokal

Deretan kios pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berjajar di Jalan Sangkurun, tepat di depan Sekolah Rakyat Rintisan, Kuala Kurun. Di lokasi sederhana inilah Mama Ranti menggantungkan harapan hidup keluarganya dengan menjajakan kacang rebus serta aneka minuman panas dan dingin, sembari berharap ramainya aktivitas masyarakat mampu menjaga roda usahanya tetap berputar. (Media Dayak/Novri J H)

Kuala Kurun, Media Dayak

Bacaan Lainnya

Di tengah ramainya aktivitas masyarakat yang memadati kawasan Taman Kota Kuala Kurun setiap malam, ada kisah perjuangan yang nyaris luput dari perhatian. Di balik kepulan uap rebusan kacang tanah, Mama Ranti, seorang pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM), menggantungkan harapan untuk menghidupi keluarganya.

Setiap malam, perempuan yang telah memiliki empat anak dan dua cucu itu membuka kios sederhana di pinggir Jalan Sangkurun, tepat di depan Sekolah Rakyat Rintisan Kabupaten Gunung Mas (Gumas). Dari usaha tersebut, ia mampu mengantongi omzet sekitar Rp 200 ribu hingga Rp300 ribu per malam, tergantung ramainya pembeli.

Mama Ranti mengungkapkan, awalnya ia berjualan di kawasan Taman Kota Kuala Kurun. Namun, karena tidak diperbolehkan berjualan di lokasi tersebut, ia kemudian memindahkan kiosnya ke tepi Jalan Sangkurun yang kini menjadi tempatnya mencari nafkah setiap malam.

“Waktu tutup jualan tidak menentu. Kalau masih ada pembeli, saya tetap melayani sampai malam,” tuturnya kepada mediadayak.id, Jumat (17/7/2026) malam.

Untuk bisa berjualan, Mama Ranti mengaku harus mengeluarkan biaya sewa lapak setiap hari yang dibayarkan kepada petugas parkir. Besaran biaya sewa lokasi kios bervariasi, mulai dari Rp 10 ribu, Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu per hari, tergantung lokasi yang ditempati. Selain itu, ia juga membayar iuran kebersihan atau retribusi sampah sebesar Rp15 ribu setiap bulan kepada dinas terkait.

Di balik sederhananya usaha itu, terdapat tantangan lain yang harus dihadapi. Kacang tanah rebus yang menjadi dagangan utamanya ternyata belum bisa dipenuhi dari hasil pertanian lokal Gumas. Mama Ranti mengaku selama ini harus memesan pasokan dari Palangka Raya, bahkan hingga Barabai, Kalimantan Selatan, agar usahanya tetap berjalan.

Kondisi tersebut menjadi harapan tersendiri bagi dirinya. Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gumas dapat mendorong pengembangan budidaya kacang tanah di daerah sehingga para pedagang kecil tidak lagi bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Kalau kacang tanah bisa ditanam dan diproduksi di Gunung Mas, tentu akan sangat membantu pedagang seperti kami. Selain lebih mudah mendapat barang, petani lokal juga bisa ikut merasakan manfaat ekonominya,” ujarnya penuh harap.

Kisah Mama Ranti menjadi potret nyata perjuangan pelaku UMKM yang terus bertahan di tengah berbagai keterbatasan. Dengan kerja keras yang dimulai setiap sore hingga larut malam, ia tidak hanya menghidupi keluarganya, tapi juga menjadi bagian dari denyut ekonomi kerakyatan yang tumbuh di sudut-sudut Kota Kuala Kurun. Perjuangan pedagang kecil seperti dirinya sekaligus menjadi pengingat bahwa penguatan sektor UMKM dan pengembangan komoditas lokal dapat berjalan beriringan demi menciptakan ekonomi daerah yang lebih mandiri dan berkelanjutan.(Nov/Aw)

image_print

Pos terkait