Siswa SDN 4 Ketapang menanam dan merawat bawang dayak di lingkungan sekolah sebagai bagian dari pembelajaran yang mengajak siswa mengenali serta mengembangkan potensi lokal di sekitar mereka, mulai dari proses budidaya hingga pengolahan menjadi produk bernilai guna.(Media Dayak/Ist)
Sampit, Media Dayak
Upaya mendorong inovasi sejak dini semakin menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran di sekolah, terutama melalui pendekatan yang mengajak siswa belajar dari lingkungan sekitar. Di SDN 4 Ketapang, Sampit, Kalimantan Tengah, pendekatan tersebut berkembang menjadi praktik nyata dalam beberapa tahun terakhir. Berawal dari pemanfaatan lahan bekas kebakaran di lingkungan sekolah, siswa mulai mengolah tanaman bawang dayak menjadi minuman herbal. Inovasi ini merupakan hasil dari proses pembelajaran berbasis praktik yang dikembangkan melalui pendampingan Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI) dari Trakindo yang mendorong eksplorasi dan pembelajaran berbasis tantangan.
dalam siaran pers yang diterima Media Dayak.id pada Jumat (8/5/2026). Asykuriah, Guru sekaligus Ketua Adiwiyata SDN 4 Ketapang menjelaskan bahwa melalui pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa mengenali dan mengembangkan potensi di sekitar mereka, anak-anak mulai diajak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. “Inovasi olahan bawang dayak ini tidak terjadi secara instan, tetapi melalui proses yang cukup panjang. Awalnya kami hanya mengolah secara sederhana, kemudian terus dikembangkan agar lebih praktis dan mudah dikonsumsi,” ujarnya.
Seiring berjalannya proses pembelajaran, eksplorasi siswa terhadap bawang dayak terus berkembang. Dari pengolahan sederhana dalam bentuk rajangan, siswa mulai mencoba berbagai cara untuk menghasilkan produk yang lebih praktis dan mudah dikonsumsi. Dalam prosesnya, siswa melakukan berbagai percobaan sebagai bagian dari pembelajaran di kelas maupun di luar kelas.
“Dalam beberapa percobaan awal, hasilnya belum sesuai harapan. Bawang dayak yang seharusnya menjadi serbuk justru berubah seperti dodol karena prosesnya belum tepat. Tapi dari situ anak-anak belajar untuk terus mencoba dan memperbaiki, sampai akhirnya bisa mendapatkan hasil yang diinginkan,” tambah Asykuriah.
Pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada pengembangan produk, tetapi juga pada cara belajar siswa. Mereka didorong untuk mengidentifikasi masalah, mencoba berbagai solusi, dan belajar dari proses. Pola ini mendorong berkembangnya inovasi, termasuk pengolahan bawang dayak. Selain belajar bercocok tanam dan mengolah bahan, siswa juga dilibatkan dalam menjelaskan proses pembuatan serta manfaat bawang dayak kepada pengunjung maupun pihak luar. Dari sini, mereka belajar menyampaikan ide dan hasil kerja secara langsung, yang kemudian mendorong kepercayaan diri dan keberanian mereka. Keterlibatan ini kemudian membawa perubahan pada siswa. Anak-anak yang sebelumnya cenderung pasif mulai menunjukkan kepercayaan diri yang lebih tinggi, berani mencoba, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Awalnya saya sempat takut kalau harus maju dan menjelaskan di depan orang lain. Tapi setelah sering mencoba, sekarang jadi lebih berani. Bahkan saya senang kalau diminta menjelaskan proses pembuatan bawang dayak ke orang lain,” ujar Nafisa, salah satu siswa SDN 4 Ketapang.
Seiring perkembangannya, dukungan terhadap inovasi ini terus menguat. Bahkan, sekolah lain, komunitas pendidikan, hingga perwakilan pemerintah daerah datang langsung untuk melihat dan mempelajari pendekatan pembelajaran yang diterapkan. Dukungan juga datang dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, hingga Dinas Perdagangan setempat dalam memastikan aspek kualitas, keamanan, dan pengembangan produk. Kolaborasi dengan Puskesmas juga dilakukan untuk mendorong pemanfaatan tanaman herbal di masyarakat, sementara Bank Kalteng mendukung melalui fasilitas ruang produksi dan galeri penjualan, sehingga siswa juga juga memahami distribusi serta cara berinteraksi dengan konsumen.
“Awalnya kami hanya ingin anak-anak bisa membuat sesuatu yang bermanfaat. Tapi ternyata berkembang lebih jauh dan kini sering dipesan untuk kebutuhan acara di tingkat pemerintah daerah. Sekarang bukan hanya siswa yang belajar, tetapi masyarakat juga ikut merasakan manfaatnya. Ada yang datang untuk membeli, ada yang meminta bibit, bahkan sekolah lain datang untuk belajar. Dari situ kami melihat bahwa ketika pembelajaran dilakukan dari hal yang dekat dengan mereka, dampaknya bisa meluas,” jelas Asykuriah.
Mendorong Inovasi melalui Pembelajaran Berbasis Tantangan
Melalui Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI), pendekatan pembelajaran berbasis tantangan diterapkan untuk mendorong siswa lebih aktif mengeksplorasi potensi di sekitar mereka. Pendampingan ini membantu siswa belajar dari teori sekaligus melalui pengalaman langsung dalam menghadapi dan menyelesaikan tantangan.
Firman Apriandi, pendamping Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI) Trakindo menjelaskan bahwa pengalaman ini mencerminkan pendekatan pembelajaran berbasis tantangan untuk membentuk pola pikir yang terus berkembang. “Kuncinya ada di growth mindset atau pola pikir untuk terus tumbuh dan berkembang. Bu Asykur sebagai penggerak di SDN 4 Ketapang tidak berhenti pada satu inovasi, tetapi selalu terbuka untuk mencoba hal baru dan melihat tantangan sebagai peluang. Itu yang membuat inovasi di sekolah ini bisa berjalan konsisten, karena yang dibangun bukan hanya programnya, tetapi juga cara berpikirnya,” katanya.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong transformasi pembelajaran di sekolah. Upaya tersebut diperkuat melalui pendampingan yang mendorong sekolah mengembangkan cara belajar yang lebih kontekstual dan dekat dengan pengalaman siswa.
“Melalui Program Gerakan Transformasi Edukasi (GENERASI), Trakindo mendorong inovasi di tingkat sekolah sekaligus membangun pola pikir pembelajaran yang lebih kontekstual dan berkelanjutan. Kami melihat bahwa ketika sekolah konsisten mengembangkan cara belajar seperti ini, dampaknya dirasakan tidak hanya oleh siswa, tetapi juga oleh lingkungan di sekitarnya,” ujar Candy Sihombing, Corporate Communication & CSR Manager PT Trakindo Utama.(rls/Aw)












