Akan Terjadi Inflasi, Pasca Asap dan Jelang Pilkada

Staf ahli Gubernur Yuas Elko di dampingi Wakil Ketua Harian TPID Setian, saat press release TPID Kalteng, Kantor Gubernur Kalteng, Rabu (2/10) (Media Dayak/Yanting).

Palangka Raya, Media Dayak

Bacaan Lainnya

      Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kalteng memperkirakan akan terjadi inflasi di Kalteng pasca terjadinya bencana asap akibat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan jelang pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020.

Wakil Ketua Harian TPID yang juga Deputi BI Kalteng Setian, di dampingi Staf ahli Gubernur Yuas Elko menyebutkan, pasca terjadinya asap beberapa komoditas penyumbang inflasi di Kalteng ini berada di komoditas sayur-sayuran yang diproduksi langsung oleh petani di Kalteng. Lantaran, ada kemungkinan terjadi gangguan panen dan produksi berkurang.

“Tetapi, tekanan inflasi ini tidak berdampak signifikan lantaran tidak semua komoditas sayuran ini diproduksi langsung oleh Kalteng tetapi ada yang dari Kalimantan Selatan (Kalsel),” kata Setian saat rilis TPID di Kantor Gubernur Kalteng, Rabu (2/10). 

Menurutnya, berdasarkan laporan dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kalteng tidak ada ganguang aktivitas transportasi selama asap. Sehingga, tidak ada dampak terhadap pengiriman sayuran dari Kalsel ke Kalteng.

Sementara itu, pihaknya juga memprediksi akan terjadi penekanan inflasi menjalang Pilkada 2020. Biasanya, lanjutnya, efek daripada Pilkda ini berkenaan dengan kegiatan dan akan mempengaruhi terhadap core. Di antaranya barang-barang jadi seperti spanduk, baliho, sablon dan barang-barang yang berhubungan dengan publikasi Pilkada.

“Sedangkan Volatile Foods juga akan berpengaruh yakni terhadao komoditas makanan jadi, lantaran dalam Pilkada ini bakalan sering terjadi perkumpulan dan menekan inflasi makanan jadi,” katanya.

Sementara itu, secara umum pada September 2019 ini, Kalteng mengalami deflasi sebesar -0,07 persen (mtm), tidak sedalam bulan Agustus 2019 yang mengalami deflasi -0,29 persen (mtm). Kelompok penyumbang deflasi yakni volatile foods dan administered price. “Masing -masing mengalami deflasi sebesar -1,03 persen (mtm) dan -0,05 persen (mtm).

Ditambahkannya, pada bulan September 2019, sebagian besar kota sampel inflasi di Pulau Kalimantan mengalami deflasi. Kota Palangka Raya mengalami inflasi tertinggi ketiga di Kalimantan dan Sampit mengalami deflasi yang cukup dalam, dengan tingkat deflasi tertinggi keempat di Kalimantan. “Deflasi diKalteng merupakan yang tertinggi ketiga se-Kalimantan,” pungkasnya. (Ytm/Lsn)

image_print

Pos terkait