Suasana haru saat prosesi pemakaman Ibu Prof. Dr. Birutė Mary Galdikas di Kobar, Rabu (15/4/2026) (Media Dayak/Riduan)
Pangkalan Bun, Media Dayak
Suasana duka yang mendalam menyelimuti prosesi pemakaman ibu Prof. Dr. Birutė Mary Galdikas yang berlangsung khidmat di kediamannya, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Rabu (15/4/2026).
Prosesi berlangsung penuh haru, diiringi doa, penghormatan terakhir, serta kehadiran keluarga, pejabat daerah, tokoh masyarakat, dan warga yang datang memberikan penghormatan.
Acara adat turut mewarnai jalannya pemakaman dengan penampilan tari babukung khas Adat Dayak Lamantuha Pasir Panjang. Tarian yang sarat makna spiritual tersebut menjadi simbol penghormatan terakhir sekaligus pengantaran arwah menuju keabadian, mencerminkan kuatnya nilai budaya lokal yang tetap terjaga dalam setiap sendi kehidupan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, putra almarhumah, Frederick Pahlerang Bohap Galdikas, menyampaikan bahwa pengabdian ibunya sebagai ilmuwan perintis, pelindung orangutan, sekaligus suara bagi hutan Kalimantan selama 55 tahun hidupnya untuk penelitian dan pelestarian alam tanpa mengharapkan imbalan.
“Ibu adalah sosok yang mengajarkan kami untuk melihat dunia dengan kasih sayang. Ia menunjukkan bahwa kesabaran adalah perjuangan, dan komitmen satu orang dapat membuat perubahan besar jika dilakukan dengan tulus,” ungkapnya.
Frederick juga mengisahkan perjalanan panjang dan pengorbanan ibunya, termasuk berbagai tantangan yang pernah dihadapi, namun tidak pernah menggoyahkan keyakinannya dalam memperjuangkan kebenaran. Ia menegaskan bahwa pesan hidup yang selalu dipegang sang ibu adalah bekerja dengan tulus, lurus, dan terus.
Ia juga mengenang sosok ibunya sebagai pribadi yang penuh kasih sayang, yang tidak hanya mencintai keluarga, tetapi juga mencintai Indonesia, khususnya Kalimantan, yang telah dianggap sebagai rumahnya sendiri, lengkap dengan budaya, masyarakat, serta nilai-nilai kehidupan yang menyatu dalam kesehariannya.
“Ibu mencintai Indonesia dengan sepenuh hati, mencintai Pangkalan Bun, Desa Pasir Panjang, Taman Nasional, serta budayanya. Ketika di perjalanan dalam mobil selalu mendengarkan musik karungut. Hal ini menunjukkan betapa dekatnya beliau dengan kehidupan masyarakat lokal,” kenangnya.
Frederick juga mengajak seluruh pihak untuk tidak larut dalam kesedihan yang berlarut-larut, melainkan menjadikan momen ini sebagai pengingat untuk melanjutkan perjuangan dan warisan yang telah ditinggalkan oleh almarhumah, serta menjaga nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan dengan penuh dedikasi.
Dalam acara ini, Wakil Bupati Kobar Suyanto, menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya Ibu Birutė Mary Galdikas kepada keluarga besar, khususnya ahli waris Frederick dan Jane, serta seluruh keluarga besar.
“Kita semua sangat menyayangi beliau, namun Tuhan lebih menyayangi beliau. Ungkapan duka ini tidak hanya sebatas kata-kata, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita untuk melanjutkan jalan hidup yang beliau tempuh sebagai inspirasi,” ujar Suyanto.
Ia menegaskan, almarhumah dikenal sebagai sosok akademisi, ilmuwan, peneliti, sekaligus praktisi konservasi lingkungan yang telah mendedikasikan hidupnya bagi pelestarian orangutan dan habitatnya. Melalui Orangutan Foundation International (OFI) yang didirikannya, berbagai upaya rehabilitasi dan pelestarian lingkungan terus dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, prinsip hidup yang selama ini dipegang almarhumah harus terus dijaga dan dilanjutkan oleh keluarga serta OFI dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk menjadikan perjuangan tersebut sebagai inspirasi dalam menjaga kelestarian alam.
“Perjalanan hidup tentu memiliki akhir, namun beliau meninggalkan warisan yang luar biasa, tidak hanya bagi masyarakat Desa Pasir Panjang, Arut Selatan, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Indonesia, tetapi juga dunia. Beliau dikenal sebagai ‘Ibu Orangutan’ karena kedekatan dan kepeduliannya terhadap makhluk hidup lain secara utuh dan menyeluruh,” tuturnya.
Suyanto juga menyampaikan bahwa penelitian panjang yang dilakukan sejak tahun 1971 hingga Maret 2026 merupakan bentuk pengabdian luar biasa yang belum selesai sepenuhnya. Oleh karena itu, ia mengajak keluarga, OFI, serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama melanjutkan perjuangan tersebut.
“Kami pemerintah daerah bersama keluarga dan OFI berkomitmen untuk terus menjaga konservasi lingkungan, memastikan kelestarian orangutan di habitatnya, agar dapat terus disaksikan oleh generasi saat ini hingga anak cucu kita di masa depan,” katanya.
Wabup juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas perjuangan beliau yang penuh dedikasi dan kegigihan, dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip kehidupan yang diyakininya.
“Berkat upaya beliau, hingga hari ini kita masih dapat menikmati keberadaan orang utan di Tanjung Puting, serta tumbuhnya kesadaran publik untuk merehabilitasi dan mengembalikan satwa tersebut ke alam liar. Semua itu merupakan sebagian kecil dari perjuangan beliau yang patut kita hargai dan kenang,” imbuhnya.
Di akhir penyampaiannya, Suyanto mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan almarhumah agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Semoga segala amal ibadah beliau diterima dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya,” pungkasnya. (Rd/Lsn/Aw)











