Rakor pengelolaan persampahan di Gumas dipimpin Asisten II Setda Gumas Baryen dihadiri Wabup Efrensia LP Umbing didampingi kepala DLHKP Gumas, Senin (13/4).(Media Dayak/Novri JK Handuran)
Kuala Kurun,Media Dayak
Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas) dihadapkan pada tekanan serius terkait pengelolaan persampahan. Dalam rapat koordinasi (rakor) yang digelar di Ruang Rapat Lantai I Kantor Bupati Gumas, Senin (13/4), Wakil Bupati (Wabup) Gumas Efrensia LP Umbing melontarkan peringatan tegas kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD),agar jangan lagi bekerja tanpa arah, tanpa ukuran, dan tanpa hasil nyata.
Efrensia menegaskan, berbagai program yang selama ini dibahas masih bersifat normatif dan belum terukur secara detail. Ia meminta setiap OPD segera merumuskan indikator kinerja yang jelas, lengkap dengan angka-angka kuantitatif yang bisa dievaluasi.
“Program itu harus jelas kata kerjanya. Sementara output, dampak, dan indikator itu harus konkret, terukur, dan bisa dibuktikan. Jangan lagi hanya klaim meningkat tanpa data. Meningkat itu dari berapa ke berapa, harus jelas,”seru Efrens.
Lebih jauh, Efrens mengingatkan bahwa persoalan ini bukan hanya tanggung jawab satu instansi, melainkan seluruh jajaran pemerintah daerah. Bahkan, ancaman sanksi dari Kementerian Lingkungan Hidup menjadi alarm keras yang tidak bisa diabaikan.
“Yang kena sanksi itu pemerintah daerah, bukan perorangan. Artinya kita semua harus kompak. Kita harus keluar dari situasi ini, ibaratnya keluar dari ‘penjara’ sanksi,” ujar Efrens dengan nada serius.
Tak hanya itu, Efrens juga menyinggung kemungkinan adanya “sanksi berantai” di internal pemerintahan. Ia meminta agar ada mekanisme teguran atau tindakan bagi OPD yang tidak menunjukkan kinerja dan aksi nyata dalam mendukung pengelolaan sampah di Gumas.
“Saya minta ada ketegasan. Kalau dari kementerian kita bisa kena sanksi, lalu kalau OPD tidak bergerak, apakah tidak ada konsekuensi? Minimal harus ada teguran,” kata Efrens.
Dalam upaya memperkuat edukasi dan kesadaran, Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Perhubungan (DLHKP) Gumas ditugaskan Efren menyiapkan bahan sosialisasi yang komprehensif, baik untuk sekolah, OPD, hingga dukungan publikasi melalui Diskominfosantik.
Namun, Efrensia menekankan bahwa setiap OPD tetap harus memiliki alat ukur keberhasilan masing-masing. Indikator seperti jumlah bank sampah, volume sampah yang terkelola, hingga dampak nyata kegiatan harus menjadi parameter utama.
“Setiap kegiatan harus punya ukuran keberhasilan. Kalau tidak, untuk apa dilakukan?” tegasnya.
Efrens juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran untuk program-program prioritas, seperti pembangunan TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) yang tidak hanya memilah,tapi juga menghasilkan nilai tambah.
Salah satu solusi yang mengemuka adalah penggunaan teknologi pirolisis, yakni mesin yang mampu mengolah sampah organik maupun plastik menjadi bahan bakar setara solar.
“Kalau hanya memilah, lalu mau dibawa ke mana? Harus ada hasilnya. Teknologi seperti pirolisis ini bisa jadi solusi, karena menghasilkan produk yang bisa dimanfaatkan,” pungkas Efrens.
Rapat koordinasi yang dipimpin Asisten II Setda Gumas Baryen itu menjadi titik tekan bahwa pengelolaan sampah di Gumas tidak bisa lagi berjalan biasa-biasa saja. Dibutuhkan kerja cepat, terukur, dan terintegrasi agar Gumas bisa keluar dari bayang-bayang sanksi sekaligus mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.(Nov/Aw)












