Legislator Pantau Persiapan Tiwah Tumbang Rahuyan

Anggota DPRD Punding S Merang di depan balai tiwah massal Kelurahan Tumbang Rahuyan. (Media Dayak/Novri JK Handuran)

Kuala Kurun, Media Dayak

Bacaan Lainnya

Anggota DPRD Gunung Mas (Gumas) Punding S Merang memantau pendirian bangunan berbentuk rumah yang dinamakan Balai, yang dibangun sehari sebagai persiapan awal upacara Tiwah massal di Kelurahan Tumbang Rahuyan, Kecamatan Rungan Hulu, Senin (17/4).

“[Balai] Sebagai tempat menyimpan alat musik Garantung dan alat musik tradisional Dayak Kalteng (Kalimantan Tengah) lainnya yang menjadi pengiring penting dalam upacara tiwah nantinya,” ujar Punding.

“Juga tempat Basir [rohaniawan dalam agama Hindu Kaharingan] menyampaikan pujian dan doa dalam memimpin upacara tiwah,” lanjutnya.

Setelah pendirian balai, dilanjutkan pendirian Sangkairaya pada 5 Mei 2023. Sangkairaya merupakan tempat menyimpan persembahan untuk Ranying Hatalla Langit, berdampingan dengan Sapundu, patung yang diukir berbentuk manusia tempat mengikat hewan kerbau dan sapi yang akan dikorbankan.

Puncak ritual tiwah yang disebut tabuh, digelar Juni 2023. Pada ritual tersebut dilakukan penombakan hewan korban kerbau atau sapi. 

Diantara arwah yang ditiwahkan terdapat orang tua Punding S Merang, ipar dan beberapa saudara lainnya.

“Bahwa kematian perlu disempurnakan melalui ritual tiwah dalam agama Hindu Kaharingan, bertujuan mengantar arwah [liaw] orang tua dan keluarga menuju lewu tatau [sorga] bersama Ranying Hatalla Langit,” tutur Punding.

Politikus  Golkar itu menyatakan puncak ritual tiwah nantinya akan dihadiri Bupati Gumas Jaya S Monong bersama unsur Forkompimda, kepala perangkat daerah dan undangan lainnya.

“Pendanaan kegiatan [tiwah massal] didukung Pemerintah Daerah Kabupaten Gunung Mas melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” terang Punding.

Legislator tiga periode daerah pemilihan (dapil) dua wilayah Kecamatan Rungan Hulu, Rungan, Rungan Barat, Manuhing dan Manuhing Raya itu berharap rangkaian ritual tiwah dari awal hingga puncak ritual berjalan aman dan lancar.

Ritual tiwah dapat terus terpelihara dengan baik, karena mampu menarik perhatian masyarakat luas, apalagi ritual tiwah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah pusat melalui kementrian terkait.

Terpisah, ketua panitia Udie Gerson menjelaskan, setelah pendirian balai, dilanjutkan ritual manenung, meminta petunjuk Ranying Hatalla Langit guna mencari basir yang akan memimpin ritual tiwah.

Dilanjutkan manenung sahur, memohon perlindungan Ranying Hatalla Langit agar pelaksanaan ritual tiwah berjalan selamat, sehat, aman dan lancar.

Manenung mali, menjaga pantangan [hal yang dilarang] selama kegiatan berlangsung. Setelah manenung, dilanjutkan pendirian Sangkairaya, tabuh dan balian balaku untung [meminta keuntungan].

“Ritual tabuh di lakukan bulan Juni. Tanggal pelaksanaan masih belum ditentukan karena masih harus dirapatkan bersama pihak keluarga yang mengikuti tiwah,” ujar Udie.

Pendirian balai dilakukan secara bergotong royong, menggunakan bahan kayu sungkai dengan atap dari daun buhu. Warga bersama pihak keluarga yang mengikuti tiwah beramai-ramai menganyam daun buhu menjadi atap. Daun buhu dipilih karena dingin dan tahan lama. (Nov/Aw)

image_print

Pos terkait