Ketua Komisi III DPRD Gumas, Iceu Purnamasari.(Media Dayak/Novri J H)
Kuala Kurun, Media Dayak
Komitmen Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas) mempersiapkan Napak Tilas Penjanjian Damai Tumbang Anoi Tahun 2028 mendapat dukungan penuh dari Ketua Komisi III DPRD Gumas, Iceu Purnamasari. Namun, Iceu mengingatkan agar seluruh rencana besar tersebut tidak berhenti sebagai konsep di atas kertas, melainkan diwujudkan melalui kerja nyata, pembangunan infrastruktur yang terukur, serta keberpihakan terhadap masyarakat Tumbang Anoi.
Menurut Iceu, Napak Tilas Tumbang Anoi bukan sekedar agenda peringatan sejarah, tetapi merupakan momentum strategis untuk mengangkat martabat budaya Dayak sekaligus mempercepat pembangunan wilayah pedalaman Gumas.
“Begini ya. Ini bukan hanya tentang sebuah kegiatan seremonial semata. Napak Tilas Tumbang Anoi adalah momentum sejarah yang harus mampu menjadi pintu masuk percepatan pembangunan, penguatan identitas budaya Dayak, peningkatan ekonomi masyarakat, hingga pengembangan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal,” tegas Iceu, Selasa (14/7/2026)
Politisi Golkar itu menilai langkah Pemkab membentuk Steering Committee dan Organizing Committee merupakan keputusan yang tepat. Namun, Iceu menegaskan seluruh tahapan harus disertai target yang jelas, jadwal yang terukur, dan pengawasan yang ketat agar setiap program benar-benar terlaksana sesuai rencana.
Iceu juga menaruh perhatian serius terhadap rencana menjadikan Betang Damang Batu sebagai Cagar Budaya Nasional. Menurutnya, status tersebut akan menjadi kebanggaan masyarakat Dayak sekaligus membuka peluang besar masuknya dukungan pemerintah pusat bagi pembangunan kawasan bersejarah tersebut.
“Kalau targetnya Cagar Budaya Nasional, maka semua persyaratan harus dipenuhi sejak sekarang. Infrastruktur, penataan kawasan, fasilitas pendukung, hingga pelestarian nilai sejarahnya harus dipersiapkan secara serius. Jangan menunggu mendekati tahun 2028 baru bergerak,” ujarnya.
Iceu menegaskan Komisi III DPRD Gumas siap mengawal seluruh proses persiapan, terutama yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, fasilitas publik, akses jalan, jaringan listrik, telekomunikasi, hingga sarana pendukung pariwisata yang menjadi kebutuhan utama kawasan Tumbang Anoi.
Menurutnya, keberhasilan Napak Tilas Tumbang Anoi akan diukur bukan hanya dari kemeriahan acara, tapi dari manfaat jangka panjang yang dirasakan masyarakat setempat.
“Jangan sampai setelah kegiatan selesai, masyarakat kembali tidak merasakan dampaknya. Justru yang harus diwariskan adalah infrastruktur yang lebih baik, ekonomi masyarakat yang tumbuh, UMKM berkembang, serta budaya Dayak semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional,” katanya Iceu.
Iceu juga mengapresiasi rencana Pemkab yang akan melibatkan masyarakat dalam penyediaan homestay, promosi produk unggulan daerah, hingga penguatan ketahanan pangan desa. Menurutnya, keterlibatan masyarakat merupakan kunci agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan secara langsung.
Lebih lanjut, ia berharap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dapat bekerja secara terpadu dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan mewujudkan Tumbang Anoi sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya unggulan di Kalimantan Tengah.
“DPRD tentu akan memberikan dukungan sesuai kewenangan kami. Tetapi kami juga akan menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal agar seluruh perencanaan benar-benar direalisasikan. Harapan kita, tahun 2028 nanti dunia tidak hanya mengenal Tumbang Anoi sebagai lokasi perjanjian damai bersejarah, tetapi juga sebagai kawasan budaya yang maju, tertata, dan menjadi kebanggaan masyarakat Dayak serta Kabupaten Gunung Mas,” tandas Iceu.(Nov/Aw)













