Harta Karun Genetik Kalteng Terkuak: Tim Peneliti UPR Petakan Strategi Unggulan

Palangka Raya, Media Dayak 

Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyimpan kekayaan alam luar biasa yang selama ini belum terkelola secara optimal. Potensi Sumber Daya Genetik Tanaman (SDGT) yang melimpah dan unik, terutama yang beradaptasi di wilayah pesisir, kini mendapat sorotan serius.

Bacaan Lainnya

Pada 31 Juli 2025, sebuah ekspose hasil kajian berjudul “Pengelolaan Sumber Daya Genetik Tanaman Kalimantan Tengah” digelar di Gedung Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut Universitas Palangka Raya (UPR). Acara ini mempertemukan berbagai pihak, mulai dari OPD terkait, pejabat pemangku kepentingan dari tiga kabupaten penelitian, hingga para akademisi.

Kajian ini merupakan bentuk kerja sama antara Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Provinsi Kalimantan Tengah dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan hasil riset akademik ke dalam kebijakan pembangunan daerah yang berbasis pada potensi lokal dan keberlanjutan lingkungan.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Jhon Retei Alfri Sandi, S.Sos., M.Si. bersama anggota timnya, Dr. M. Fadhil A. Sudomo, S.P., MP., Dr. Yosep, S.Hut., M.Si., Marvy Ferdian Agusta Sahay, S.A.P., MPA, dan Glory Kriswantara, S.Pd., M.Pd., memaparkan hasil kajian yang berfokus pada zona transisi darat dan laut di Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kotawaringin Barat. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi SDGT, menganalisis model pengelolaannya, dan menilai dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat lokal.

Dalam paparannya, Dr. Jhon menegaskan pentingnya menjaga warisan hayati ini. “Ini adalah kekayaan hayati yang luar biasa, warisan alam yang harus kita jaga dan manfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat kita,” ungkap Dr. Jhon. “Kami melihat potensi besar pada Padi Siam Epang yang adaptif dan produktif, serta Nipah dan Kelapa Dalam yang tidak hanya memiliki fungsi ekologis, tapi juga nilai ekonomi tinggi.”

Paparan tim peneliti mengungkap beragam potensi SDGT yang strategis. Di Kotawaringin Timur, ditemukan varietas Padi Siam Epang yang adaptif terhadap genangan dan tanah masam, dengan produktivitas tinggi mencapai 7–8 ton per hektare. Di Seruyan dan Kotawaringin Barat, tanaman Nipah (Nypa fruticans) memiliki peran ekologis vital dalam ekosistem mangrove serta nilai ekonomi tinggi dari nira yang diolah menjadi gula merah. Kotawaringin Barat juga menonjolkan varietas lokal unggulan seperti Alpukat (PB 001, 002, 003) dan Semangka sebagai komoditas hortikultura prospektif. “Potensi Alpukat dan Semangka sebagai komoditas hortikultura di Kotawaringin Barat juga sangat menjanjikan untuk dikembangkan,” tambah Dr. Jhon, menyoroti diversifikasi potensi pertanian di wilayah tersebut.

Namun, kajian ini juga menyoroti tantangan serius yang dihadapi. Fragmentasi kelembagaan menjadi salah satu temuan utama, di mana belum ada institusi yang menjadi koordinator tunggal dalam pengelolaan SDGT. Ancaman konversi lahan, intrusi air laut, dan kurangnya dokumentasi terhadap pengetahuan tradisional turut memperburuk kondisi pelestarian plasma nutfah lokal. Ketimpangan partisipasi masyarakat juga ditemukan, dengan tingkat keterlibatan tinggi di Kotawaringin Timur dan Barat, namun masih rendah di Seruyan.

Menjawab berbagai tantangan tersebut, tim peneliti merumuskan strategi pengelolaan komprehensif. Rekomendasi yang diajukan mencakup penunjukan focal point pengelolaan SDGT di tingkat daerah, pembangunan sistem data terintegrasi berbasis GIS, serta pengembangan kebun plasma nutfah dan bank benih komunitas. Strategi konservasi berbasis ekosistem, seperti zonasi wilayah konservasi nipah dan rehabilitasi mangrove, juga menjadi prioritas.

Aspek pemberdayaan masyarakat juga mendapat perhatian serius. Kajian ini merekomendasikan pelatihan teknologi pengolahan hasil tani lokal, pemberian insentif ekonomi kepada pelestari SDGT, serta pengembangan ekowisata berbasis kearifan lokal dan keanekaragaman hayati seperti wisata lahan padi lokal dan kawasan nipah. Hal ini diyakini mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat kesadaran ekologis.

Selain itu, pemerintah daerah di beberapa lokasi telah menunjukkan respons positif. Kotawaringin Timur, misalnya, telah mengintegrasikan aspek SDGT ke dalam RPJMD dan RTRW, serta menjalin MoU dengan BRMP Kalimantan Tengah. Kotawaringin Barat melalui DLH dan Dinas Pertanian aktif mengembangkan program KEHATI. Sementara di Seruyan, dukungan dari NGO seperti Kaleka membuka jalan untuk inovasi pemanfaatan SDGT, meski diperlukan penguatan dukungan pemerintah daerah.

Kajian ini tidak hanya memberikan data, tetapi juga menjadi peta jalan strategis yang diharapkan mampu memperkuat kebijakan pembangunan berbasis sumber daya lokal. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan SDGT yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara BAPPERIDA dan LPPM Universitas Palangka Raya ini, Kalimantan Tengah diharapkan mampu menjaga kekayaan genetiknya sebagai warisan hayati yang bernilai untuk masa depan yang lebih lestari dan sejahtera.(Ist/Lsn)

image_print

Pos terkait