FASILITASI EMPAT KOPERASI DAN AGU-Kepala Dinas Pertanian Barito Utara Syahmiludin A Surapati memfasilitasi pertemuan antara 4 koperasi pelaksana peremajaan sawit rakyat (PSR) dengan pihak PT Antang Ganda Utama (AGU/DSN) dan Bank Mandiri terkait skema pembiayaan untuk tahap pemeliharaan TBM sampai tanaman sawit siap dipanen, diruang rapat Distan setempat, Jumat (1/10).(Media Dayak/Distan Barut)
MUARA TEWEH, Media Dayak
Dinas Pertanian Kabupaten Barito Utara (Distan Barut) memfasilitasi pertemuan antara 4 (empat) koperasi pelaksana peremajaan sawit rakyat (PSR) dengan pihak PT Antang Ganda Utama (AGU/DSN) dan Bank Mandiri terkait skema pembiayaan untuk tahap pemeliharaan TBM sampai tanaman sawit siap dipanen.
Kepala Dinas Pertanian Barito Utara Syahmiludin A Surapati mengatakan program PSR yang seluruh kegiatannya didanai dari pembiayaan yang bersumber dari BPDPKS (Non APBN) telah membantu pekebun yang ikut dalam program PSR sampai ke tahap PO (Tumbang Chiping, penyiapan lahan, penyiapan bibit hingga penanaman) sementara untuk tahap P1 dan P2 harus dicarikan skema pembiayaannya.
“Hal ini harus dilakukan agar keberhasilan program ini dapat terjamin. Memang tidak mudah bagi pihak lembaga keuangan dalam memfasilitasi pemberian kredit untuk jenis usaha dibidang perkebunan dengan bunga lunak yang memerlukan waktu pengembalian yang cukup lama dibanding kredit komersial lainnya,” kata Syahmiludin, Jumat (1/10) usai pertemuan di Distan setempat.
Namun kata dia patut disyukuri bahwa program PSR ini merupakan proyek strategis nasional yang langsung diluncurkan oleh Presiden Jokowi pada tanggal 13 Oktober 2017 dari Kabupaten Musi Banyuasin, Sumsel memang harus mendapat dukungan dari semua pihak.
Bupati Barito Utara H Nadalsyah secara khusus meminta agar Program ini dapat terlaksana dengan baik di wilayah Kabupaten Barito Utara.Karena kata Syahmiludin program ini diharapkan mampu mengembalikan bahkan meningkatkan produksi dan produktivitas TBS/CPO yang ada. “Kita dapat memahami harapan beliau agar pohon pohon sawit yang saat ini sudah berusia antara 25 – 30 tahun tersebut sudah tidak menguntungkan lagi untuk di usahakan karena tingginya cost yang di keluarkan pekebun dibanding hasil yang didapat,” kata Kadis Pertanian.
Dikatakannya, kalau cuma mengandalkan kemampuan para petani untuk melakukan peremajaan, tentunya banyak yang tidak dapat karena faktor biaya yang cukup besar dalam peremajaan sawit ini.
“Program PSR ini memang patut didukung dalam kerangka pemulihan ekonomi nasional, mengembalikan produksi dan produktivitas sawit serta meningkatkan taraf hidup pekebun di daerah ini,” pungkasnya.(lna/Lsn











