Salah satu kandang peternakan burung puyuh milik warga Kasongan.(Media Dayak/Ist)
Kasongan, Media Dayak
Udin ST, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Katingan berharap kepada Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Katingan agar mengalihkan bantuan stimulant kepada masyarakat dari ternak sapi ke peternakan burung puyuh. Harapannya ini diungkapkannya kepada sejumlah media, Jumat (9/11).
Pasalnya, disamping modalnya jauh lebih murah (kecil) jika dibanding dengan beternak sapi, keuntungan (laba) yang dihasilkan oleh masyarakat (peternak) juga lebih cepat dan sangat menjanjikan.
“Kalau kita memelihara sapi, hasilnya masih menunggu dua tahun lagi. Kalau sudah dikawinkan dengan jantan, sapi tersebut hanya melahirkan satu ekor saja. Kemudian, menunggu hasilnya satu tahun lagi baru bisa dijual,” terangnya.
Udin menjelaskan, jika bantuan hanya 1 ekor sapi/orang, maka dalam dua tahun ternak tersebut hanya menghasilkan 1 ekor sapi dewasa. kalau dijual maka peternak yang bersangkutan hanya memperoleh hasil sekitar Rp20 juta/dua tahun. Karena, harga sapi dewasa rata-rata sekitar Rp20 juta/ekor.
Tapi, jika masyarakat diberikan bantuan ternak puyuh, dengan dana bantuan sekitar Rp200 juta, menurutnya dapat dibagikan untuk 20 orang peternak. Atau masing-masing bisa mendapatkan bantuan sekitar Rp10 juta. Dari Rp 10 juta itu dapat memelihara 500 ekor burung puyuh yang sudah berusia 2 bulan atau sudah masa bertelur, lengkap dengan pembuatan kandang dan pakannya.
Dari 500 ekor puyuh dewasa tersebut, menurutnya sudah dipastikan menghasilkan 80 persen telur atau minimal sekitar 400 biji/hari atau sekitar 12.000 biji telur. Kalau dijual 12.000 biji x Rp 500,-/biji = Rp 6.000.000,- . Sedangkan modalnya dalam 1 bulan masa pemeliharaan diantaranya harga pakan untuk 500 ekor puyuh itu = 5 Kg x Rp 8.000,- = 40.000,-/hari atau sekitar Rp 1.200.000,-/bulan.
“Kesimpulannya, jika harga pakan sekitar Rp 1.200.000,- dan hasilnya penjualan telurnya Rp 6.000.000/bulan, maka keuntungan (laba) yang diperoleh oleh peternak tersebut sudah mencapai Rp 4.800.000,-/bulan,” jelas politisi Partai Amanat Nasionalk (PAN) ini.
Sedangkan pemasaran telur puyuh di Kabupaten Katingan menurutnya bukan hanya laris manis saja, tapi juga sangat menjanjikan dan bahkan punya prospek luar biasa. Karena, selama 17 tahun Katingan menjadi Kabupaten, telur puyuh selalu mendatangkan dari kota Palangka Raya dan Banjarmasin. Sedangkan pembelinya selain pemilik rumah makan juga ribuan pedagang bakso.
“Artinya, jika ternak puyuh ini dikembangkan di bumi Penyang Hinje simpei ini, saya yakin bukan hanya ekonomi daerah saja yang meningkat, tapi penghasilan ribuan masyarakat kita juga ikut meningkat,” ucap anggota dewan asal dapil Katingan I yang meliputi wilayah kecamatan Katingan Hilir, Tewang Sangalang Garing dan Pulau Malan ini. (Kas)











