SUNGAI BARITO SURUT-Rendahnya curah hujan di hulu Barito membuat DAS Barito mengalami penurunan debit air, Minggu (25/1/2026).(Media Dayak/ist)
Muara Teweh, Media Dayak
Rendahnya curah hujan di wilayah Kabupaten Murung Raya dan Barito Utara berdampak pada terus menurunnya debit air Sungai Barito. Kondisi ini mengganggu aktivitas transportasi sungai, khususnya pelayaran kapal dan tongkang bertonase besar.
Kelompok Tenaga Teknis (KTT) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Barito Utara, Sunardi, mengatakan curah hujan di dua kabupaten yang berada di hulu Sungai Barito tersebut masih tergolong di bawah normal meski saat ini masih berada dalam musim hujan.
“Curah hujan di Murung Raya hingga 20 Januari 2026 tercatat 184 milimeter dengan enam hari hujan. Angka ini lebih rendah dibandingkan kondisi normal yang berkisar antara 218 hingga 381 milimeter,” kata Sunardi di Muara Teweh, Minggu (25/1/2026).
Sementara itu, di Kabupaten Barito Utara hingga 25 Januari 2026, curah hujan tercatat sekitar 132,7 milimeter dengan 13 hari hujan. Padahal, pada periode yang sama, curah hujan normal mencapai 335 hingga 347 milimeter.
Ia menambahkan, hujan yang turun di Muara Teweh pada Minggu siang hanya tercatat 13,4 milimeter setelah wilayah tersebut tidak diguyur hujan selama sepekan terakhir. Meski demikian, berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Murung Raya dan Barito Utara pada Februari 2026 masih berada dalam musim hujan dengan kategori menengah.
“Potensi kebakaran hutan dan lahan relatif kecil, namun tetap perlu diwaspadai. Musim kemarau diperkirakan mulai Juli, dan biasanya pada Juni hingga Agustus masyarakat mulai membuka lahan untuk menanam padi ladang,” jelas Sunardi.
Penurunan debit air Sungai Barito tersebut berdampak langsung pada sektor transportasi sungai. Kepala Dinas Perhubungan Barito Utara Mihrab Buanapati melalui petugas pelabuhan UPTD Dermaga Muara Teweh, Syamsu Rizal, mengatakan ketinggian air sungai terus mengalami penurunan dalam sepekan terakhir.
“Ketinggian air Sungai Barito pada skala tinggi air (STA) Muara Teweh siang ini berada di angka 2,00 sentimeter, turun dibandingkan pagi hari yang mencapai 2,10 sentimeter. Kondisi ini tidak aman bagi pelayaran kapal bertonase besar,” ujar Syamsu Rizal.
Ia menyebutkan sejumlah tongkang bermuatan maupun kosong terpaksa bersandar, bahkan ada yang kandas di kawasan Teluk Siwak, Kecamatan Montallat. Beberapa kapal tunda dan tongkang yang sebelumnya aktif berlayar kini tidak dapat melanjutkan perjalanan akibat cepatnya penurunan debit air sungai.
Selain itu, kapal angkutan penumpang jenis bis air yang melayani rute Muara Teweh–Banjarmasin juga tidak dapat beroperasi. Namun, angkutan sungai menggunakan kapal kecil seperti speedboat masih berjalan normal untuk rute Muara Teweh–Buntok serta ke sejumlah desa di sepanjang Sungai Barito.(lna/Lsn)









