Kepala KPw BI Kalimantan Tengah, Wuryanto saat memberikan paparan pada acara Talk Show akselerasi pertumbuhan ekonomi Kalteng melalui sumber pertumbuhan ekonomi baru, Selasa (9/7) di Palangka Raya.(Media Dayak/Asep)
Palangka Raya, Media Dayak
Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah merekomendasikan tiga sektor ekonomi untuk memacu akselerasi sekaligus membuat kondisi lebih stabil bagi pertumbuhan ekonomi di daerah setempat.
Kepala KPw BI Kalimantan Tengah, Wuryanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi provinsi Kalimantan Tengah seperti Roller Coaster karena bergantung pada sumber daya alam yang dipengaruhi kondisi ekonomi global.
“Provinsi Kalimantan Tengah perlu menemukan sumber pertumbuhan ekonomi baru agar lebih stabil. Ada tiga sektor yang dapat lebih dioptimalkan, yaitu industrialisasi, pariwisata dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM),” katanya saat Talk Show akselerasi pertumbuhan ekonomi Kalteng melalui sumber pertumbuhan ekonomi baru, Selasa (9/7) di Palangka Raya.
Wuryanto menjelaskan, sumbangan sektor jasa (tersier) terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalteng masih relatif kecil dibandingkan sektor SDA (primer). Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pangsa industri di Kalteng hanya berkontribusi 16,67 persen terhadap produk PDRB.
Secara umum, industri di Kalteng terkonsentrasi di pabrik kelapa sawit dengan produk turunan yang masih tergolong sederhana. Padahal, kata Wuryanto, ekspor komoditas industri di Kalteng didominasi oleh kelompok minyak nabati dengan pangsa sebesar 41,68 persen.
Kepala KPw BI Kalteng ini menyatakan, masih terkonsentrasinya industri di Kalteng oleh industri pengolahan kelapa sawit menyebabkan kinerja industri di Kalteng mengalami perlambatan akibat terkena dampak dari lemahnya harga CPO global pada awal tahun 2019 yang terjadi karena perang dagang antara Tiongkok dan USA.
“Sektor pertambangan di Kalteng memang mengalami peningkatan, tapi hal itu terjadi karena pelaku usaha di Kalteng meningkatkan kuantitas produksi dan bukan karena bertambahnya pelaku usaha pertambangan,” terangnya.
Untuk mengoptimalkan sektor industrialisasi di Kalteng, Wuryanto mengatakan, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu perbaikan produktivitas bahan baku, perbaikan kualitas sumber daya manusia (SDM) di level teknis. “Pemerintah juga perlu memberikan insentif bagi pelaku usaha untuk berinvestasi di sektor hilir, dan mendorong perbaikan infrastruktur khususnya keberadaan pelabuhan laut dalam dan akses jalan,” katanya.
Adapun alasan sektor pariwisata dapat dijadikan sumber pertumbuhan ekonomi baru, Wuryanto menyatakan, sumbangan sektor jasa (tersier) terhadap PDRB Kalteng masih relatif kecil dibandingkan sektor SDA (primer) karena hanya menyumbangkan Rp2,07 Triliun atau 8,11 persen PDRB pada akhir triwulan I 2019.
Menurut Wuryanto, sektor pariwisata yang bertujuan mengundang wisatawan dari luar Kalteng harus didorong untuk meningkatkan kontribusi sektor jasa di Kalteng. Pasalnya, berdasarkan hasil liaison Bank Indonesia tahun 2018-2019, lebih kurang 80 persen hunian hotel merupakan agenda pemerintah daerah.
Upaya mengoptimalkan sektor pariwisata dapat dilakukan dengan cara pengembangan (3A2P) atau attraction, accessibility, amenities, promotion, dan people.Attraction maksudnya adalah pengembangan keunikan lokal berbasis budaya dan alam serta penempatan obyek wisata unggulan sebagai pintu distribusi ke objek lain. Accessibility artinya adalah Pengembangan infrastuktur aksesibilitas pada kota pelayanan utama sebagai gerbang utama pariwisata. Amenitiesartinya adalah Pemenuhan fasilitas pokok kota pusat pelayanan kepariwisataan melalui penarikan investasi.
Sedangkan promotion maksudnya adalah Pengembangan citra pariwisata Kalteng sebagai destinasi ekowisata dibantu dengan aplikasi teknologi informasi. Dan people maksudnya adalah Pengembangan SDM melalui pendidikan formal maupun informal yang diarahkan pada pengembangan etos kerja dan kompetensi.
“Indikator kesuksesan sektor pariwisata adalah kepuasan wisatawan. Kalau wisatawan puas, maka akan datang lagi dan memberi promosi dari mulut ke mulut. Kalau wisatawan kapok, maka tidak datang lagi dan memberikan citra buruk bagi Kalteng,” ucapnya.
Adapun alasan UMKM dapat dijadikan sumber pertumbuhan ekonomi baru karena peran UMKM terhadap PDRB Kalteng masih kecil, yaitu 14,9 persen terhadap PDRB Kalteng dan masih dapat dioptimalkan lagi.
Berdasarkan data pemetaan tahun 2018 Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Dan Menengah (KUKM) Kalteng, jumlah UMKM di daerah setempat sebanyak 34.906 unit yang terdiri dari 91,72 persen usaha mikro, 7,43 persen usaha kecil, dan 0,85 persen usaha menengah. Kondisi tersebut hanya menyerap 2,69 persen Tenaker, sehingga masih memiliki potensi besar untuk diberdayakan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Untuk mengakselerasi daya saing UMKM agar menjadi sumber kekuatan baru dalam perekonomian, Wuryanto menyatakan, terobosan dan strategi baru (Game Changer) perlu diterapkan.
“Pendekatan baru dalam memberdayakan UMKM perlu dibangun dengan memperkuat strategi dan kerangka pemikiran saat ini yang disesuaikan dengan perubahan kondisi ekonomi digital,” tegasnya.
Ada empat hal yang direkomendasikan Wuryanto agar UMKM di Kalteng dapat berperan lebih optimal dalam pertumbuhan ekonomi di daerah setempat. Pertama, kebijakan pemerintah dalam rangka mengakselerasi pengembangan UMKM harus bersifat akomodatif. Selain itu, pemerintah perlu memberikan kemudahan dalam pengurusan perizinan UMKM.
Kedua, penyiapan SDM profesional karena akselerasi pertumbuhan ekonomi perlu didukung dengan pengembangan pemenuhan SDM yang tepat jumlah dan profesional. Pengembangan SDM dapat dilakukan dengan meningkatkan utilisasi pelatihan dan bimbingan teknis termasuk kegiatan vocational UMKM Digital/berorientasi ekspor dengan bekerjasama dengan sekolah maupun universitas.
Ketiga adalah Needs atau pemberian bantuan kepada pelaku UMKM perlu disesuaikan dengan needs/kebutuhan, agar pemberian bantuan tepat manfaat. Keempat adalah pembiayaan atau perluasan kanal pembiayaan bagi UMKM untuk meningkatkan akses pembiayaan kepada pelaku UMKM meliputi: perbankan, peer-to-peer lending, dan pembiayaan fintech lainnya.
“Apabila sektor industrialisasi, pariwisata dan UMKM di Kalteng dapat lebih dioptimalkan sehingga menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, saya yakin pertumbuhan ekonomi di Kalteng dapat lebih stabil dan tidak mudah dipengaruhi kondisi ekonomi global,” tutup Wuryanto.(aw)











