Direktur Perumdam Maruang Duhung Kabupaten Gumas Hendra Toendan.(Media Dayak/Novri J Handuran)
Kuala Kurun,Media Dayak
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) memberikan tekanan besar terhadap operasional Perumdam Maruang Duhung Kabupaten Gunung Mas (Gumas). Meski beban biaya produksi melonjak tajam hingga mencapai 50–60 persen, perusahaan daerah penyedia air bersih itu masih menahan kenaikan tarif bagi pelanggan.
Direktur Perumdam Maruang Duhung Kabupaten Gumas Hendra Toendan, mengungkapkan bahwa dampak kenaikan BBM sangat terasa terutama pada sektor operasional pengolahan air bersih dan distribusi kebutuhan penunjang lainnya.
“Ya jelas berpengaruh, terutama pada operasional pengolahan. Biaya angkut bahan kimia dan asesoris seperti perpipaan ikut naik. Harga tawas, kaporit, pipa, dan berbagai asesoris lainnya juga mengalami kenaikan sekitar 50 sampai 60 persen,” ungkap Hendra saat diwawancarai mediadayak.id beberapa waktu lalu.
Lonjakan biaya tersebut membuat ongkos produksi air bersih semakin tinggi. Namun di tengah tekanan itu, PDAM Gumas masih berupaya menjaga agar masyarakat tidak terbebani dengan kenaikan tarif air.
Hendra menjelaskan, saat ini tarif yang dibayar pelanggan berada di kisaran Rp 6.600 per meter kubik. Padahal, biaya produksi riil mencapai sekitar Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per meter kubik.
“Tarif yang dijual ke masyarakat sekarang sekitar Rp 6.600 per kubik, sementara nilai produksinya mencapai sekitar Rp 12 ribu per kubik. Artinya PDAM masih memberikan subsidi sendiri kepada masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, wacana penyesuaian tarif sebenarnya sudah pernah diajukan kepada Pemerintah Kabupaten Gunung Mas. Bahkan komunikasi dengan pemerintah daerah dan Dewan Pengawas telah dilakukan untuk mencari strategi terbaik, termasuk kemungkinan subsidi tarif.
Namun kondisi efisiensi anggaran dan situasi keuangan daerah yang juga terdampak secara nasional membuat rencana tersebut sementara ditunda.
“Untuk sementara masih belum ada rencana kenaikan tarif, karena harus ada persetujuan pemerintah daerah dan DPRD Gunung Mas. Secara lisan sudah ada jawaban dari pemda melalui Dewan Pengawas untuk sementara ditunda dulu,” kata Hendra.
Di tengah tantangan berat akibat lonjakan biaya operasional, kabar menggembirakan datang dari sisi kinerja perusahaan. Hendra memastikan kondisi PDAM Gumas kini berada dalam status sehat berdasarkan hasil audit terbaru.
Ia menyebut, audit kinerja yang dilakukan pada tahun 2025 menempatkan PDAM Gumas dalam kategori sehat, setelah sebelumnya sempat berada dalam kondisi kurang sehat selama periode 2022 hingga 2024.
“Puji Tuhan, tahun 2025 kondisi PDAM Gunung Mas sudah sehat. Untuk audit keuangan kita juga mendapatkan opini WTP. Bahkan sejak tahun 2022 audit keuangan kita sudah WTP,” ujarnya.
Capaian tersebut menjadi sinyal positif bahwa di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan biaya operasional, Perumdam Maruang Duhung tetap mampu menjaga tata kelola dan pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Gunung Mas.(Nov/Lsn)













