Pulang Pisau, Media Dayak
Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia Tahun 2026, Desa Anjir Pulang Pisau menggelar lomba olahraga tradisional Manyipet (menyumpit) dan domino dengan mengusung tema “Lestarikan Budaya dan Junjung Tinggi Sportivitas”. Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Kantor Desa Anjir Pulang Pisau, Sabtu (1/8).
Kegiatan ini dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Pulang Pisau, Tandean Indra Bella, Camat Kahayan Hilir Endra Setiawan, serta masyarakat dan para pendukung yang memadati arena pertandingan untuk memberikan semangat kepada para peserta.
Antusiasme peserta terlihat begitu tinggi. Sebanyak 86 peserta putra dan putri ambil bagian dalam lomba Manyipet. Mereka datang dari berbagai daerah, di antaranya Kota Palangka Raya, Kabupaten Lamandau, Kuala Kapuas, Banjarmasin, Tapin, hingga Kelurahan Pulang Pisau sebagai tuan rumah.
Ketua Panitia, Eldi Purnama, mengatakan bahwa penyelenggaraan lomba ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan RI, tetapi juga sebagai upaya nyata melestarikan budaya dan kearifan lokal Kalimantan Tengah, khususnya tradisi masyarakat Dayak.
“Melalui kegiatan ini kami ingin memperkenalkan sekaligus menjaga agar olahraga tradisional manyipet tetap dikenal dan dicintai oleh generasi muda. Selain menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga mengedepankan nilai sportivitas,” ujarnya.
Eldi menjelaskan, pertandingan dibagi ke dalam kategori putra dan putri. Peserta diwajibkan menembakkan sumpit ke arah papan sasaran dari jarak yang telah ditentukan dengan posisi berdiri maupun jongkok. Pemenang ditentukan berdasarkan akumulasi nilai tertinggi yang diperoleh dari hasil tembakan ke papan target.
Ia juga menjelaskan bahwa sipet atau sumpit merupakan senjata tradisional masyarakat Dayak yang sejak dahulu digunakan untuk berburu, mempertahankan diri, hingga berperang. Peralatan tersebut terdiri atas sipet berupa pipa panjang dari kayu sebagai alat peniup, damek atau anak sumpit yang terbuat dari bambu maupun lidi, serta pelimping yang berfungsi sebagai penyeimbang di ujung damek dan umumnya dibuat dari kertas atau daun palawi.
Menurutnya, melalui perlombaan ini diharapkan kemampuan para peserta dalam menggunakan olahraga tradisional tersebut dapat terus diasah, sekaligus menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang warisan budaya leluhur Dayak yang memiliki nilai sejarah tinggi.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilaksanakan setiap tahun agar budaya menyumpit tetap lestari, dikenal luas, dan menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya generasi muda,” pungkas Eldi.(Alp/Aw)











