Penanganan Stunting 2024 Fokus Pada Lima Sasaran

 
dr Robertus MSi, kepala DPPAKB Kabupaten Katingan.(Media Dayak/Ist)
 
kasongan, Media Dayak 
 
 Penanganan stunting di Kabupaten Katingan tahun 2024 ini, fokus pada lima sasaran. Diantaranya kepada para remaja dengan usia 14 tahun hingga 24 tahun, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui dan bayi di bawah lima tahun (balita). Demikian yang dikatakan kepala Dinas Pemberdayaan, Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana (DPPAKB) Kabupaten Katingan, dr Robertus MSi kepada sejumlah awak media, Senin (6/5/2024) di ruang kerjanya. 
 
Penanganan stunting tersebut menurutnya dibagi dalam dua bagian, diantaranya intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi spesifik artinya penanganan kasus stunting. Maksudnya, siapa saja balita yang terkena stunting wajib ditangani oleh DPPAKB. Mulai dari penanganan gizinya. Dalam penanganan gizi ini bukan hanya memberikan penanganannya atau tindakannya saja, tapi juga memberikan edukasi kepada keluarganya. 
 
Maksudnya edukasi kepada keluarganya agar bisa memberikan makanan yang tinggi protein, bukan hanya daging, ikan dan telur saja, tapi juga masalah pola hidup bersih dan sehat. “Contoh pola hidup bersih dan sehat, yaitu memiliki jamban sehat, makan dan minum harus menggunakan air bersih, lingkungan pun harus tertata bersih dan udara yang sehat dan membiasakan mencuci tangan sebelum makan dan minum,” ujarnya.
 
Kemudian, dalam rangka penanganan stunting tersebut menurutnya bukan hanya menangani masalah gizi saja, melainkan juga lintas sektor. Intinya, semuanya bergerak mulai dari masalah lingkungan, masalah rumah atau tempat tinggalnya apakah layak huni atau tidak dan masalah prilaku hidup sehat. 
 
Selanjutnya dirinya mengingatkan bahwa stunting itu bukan hanya masalah kekurangan gizi saja, tetapi juga akibat penyakit kronis. Kenapa anak bisa menderita penyakit kronis ?. Penyebabnya lantaran pola hidup dan tempat tinggalnya tidak sehat. “Mungkin juga, makan dan minumnya menggunakan air sungai yang agak kotor atau memang kurang layak untuk diminum,” tuturnya. 
 
Sedangkan yang dimaksud pencegahan intervensi sensitif menurutnya adalah, yang terkait dengan pekerjaan, di mana di dalam pekerjaan ini sasarannya adalah para remaja calon pengantin dan ibu yang sedang hamil. Utamanya para ibu hamil. Karena, fisik seorang ibu hamil harus benar-benar menjaga pola hidup sehat. “Sehingga, ketika melahirkan, bayi yang yang lahir nanti tidak mengalami stunting,” harap mantan kepala Dinas Kesehatan ini. (Kas/Lsn)
image_print
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait