*) Oleh : Andi Mahesa Perang terhadap kejahatan siber, khususnya praktik judi daring, kembali menunjukkan hasil konkret dan membanggakan. Baru-baru ini, Kepolisian Republik Indonesia melalui Selengkapnya
Oleh : Rio Kriswana, S.AP., M.M., CRGP., CRM Adanya Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50% menjadi salah satu kebijakan ekonomi yang paling mengejutkan pasar. Di tengah ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap bertahan, keputusan ini mengirimkan sinyal bahwa Bank Indonesia melihat adanya risiko yang perlu segera diantisipasi. Bagi sebagian masyarakat, kenaikan suku bunga identik dengan naiknya bunga kredit, cicilan yang lebih mahal, dan potensi perlambatan ekonomi. Sementara bagi pelaku pasar, keputusan ini dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mempertahankan kepercayaan investor. Melihat hal itu, juga mendapat perhatian dari Ekonom Kalteng, Rio Kriswana, S.AP., M.M., CRGP., CRM, yang mana melihat lebih dalam mengenai BI Rate naik atau turun, dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga Bank Indonesia merasa perlu mengambil langkah tersebut. “Tentu hal ini menjadi perhatian kita bersama. Melihat lebih jauh apa yang terjadi. Perlu kajian kajian mendalam terutama dalam potensi perubahan ekonomi nasional hingga lokal,” katanya. Dijelaskan ekonom muda asal Pangkalanbun, Kobar ini, dimana dunia sedang Berubah Lebih Cepat dari yang disadari. Dimana saat ini perekonomian global berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. Konflik geopolitik di berbagai kawasan, potensi gangguan rantai pasok dunia, fluktuasi harga energi, hingga penguatan dolar Amerika Serikat telah menciptakan tekanan terhadap banyak negara berkembang. Dalam kondisi seperti ini, investor global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. “Akibatnya terjadi perpindahan modal dari negara berkembang menuju instrumen yang dianggap memiliki risiko lebih rendah. Tekanan tersebut kemudian berdampak pada nilai tukar, arus modal, hingga stabilitas pasar keuangan domestic,” katanya. Melihat situasi global ini, tambah pria yang juga Alumni Lemhanas Angkatan II tahun 2024 ini, Bank Indonesia berusaha bertindak lebih cepat melalui instrumen suku bunga, dengan BI menaikan Rate. Dari analisi itulah, tambah Rio, secara sederhana, kenaikan BI Rate bertujuan untuk Menjaga stabilitas rupiah, Menahan tekanan inflasi, Menjaga kepercayaan investor, Menstabilkan pasar keuangan. “Logikanya cukup sederhana. Ketika suku bunga naik, Deposito menjadi lebih menarik. Obligasi menjadi lebih menarik. Investor lebih tertarik menempatkan dananya di Indonesia. Tekanan terhadap rupiah dapat berkurang. Inflasi impor dapat lebih terkendali. Dari sudut pandang stabilitas jangka pendek, langkah ini dapat dipahami,” sebut Rio. Namun pertanyaannya, lanjut Rio, Apakah ini solusi atau hanya penahan guncangan sementara? Rio mengatakan, fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat, namun juga Jika melihat data makro secara umum, Indonesia sebenarnya masih memiliki fondasi ekonomi yang cukup baik, dimana Pertumbuhan ekonomi relatif stabil, Inflasi masih terkendali, Perbankan nasional masih sehat, pehitungan Cadangan devisa masih cukup kuat, Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi. “Indonesia juga memiliki modal besar berupa sumber daya alam, bonus demografi, dan program hilirisasi yang terus berjalan. Namun fundamental yang kuat tidak berarti kebal terhadap tekanan eksternal. Meskipun demikian, Masalah utama yang masih menjadi perhatian adalah tingginya sensitivitas pasar terhadap arus modal global dan sentimen investor internasional. Artinya, meskipun kondisi ekonomi domestik cukup baik, tekanan dari luar negeri tetap dapat memberikan dampak yang signifikan, sehingga juga dampaknya terhadap IHSG, “sebutnya. Ditegaskan pria yang memiliki sertifikasi penguji perbankan tersebut, kenaikan BI Rate biasanya menjadi sentimen yang kurang disukai pasar saham dalam jangka pendek. Ketika bunga naik, Biaya pinjaman perusahaan meningkat, Ekspansi bisnis menjadi lebih mahal, Konsumsi masyarakat berpotensi melambat, Investor memiliki alternatif investasi yang lebih menarik di deposito atau obligasi. “Akibatnya, IHSG sering kali mengalami tekanan sesaat setelah kenaikan suku bunga diumumkan. Namun penting dipahami bahwa pasar saham dan ekonomi riil tidak selalu bergerak searah. IHSG bergerak berdasarkan ekspektasi. Sedangkan ekonomi riil bergerak berdasarkan produktivitas. Selengkapnya
BERITA UTAMA
Kategori: OPINI
Pemerintah Siapkan Langkah Strategis Cegah Pelemahan Ekonomi
Oleh: Dhita Karuniawati )* Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, pemerintah Indonesia menunjukkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi pelemahan ekonomi. Faktor eksternal seperti Selengkapnya
Pemerintah Dorong Himbara Optimalkan Pemberdayaan Koperasi Merah Putih
Oleh : Ricky Rinaldi )* Di tengah fokus pemerintah dalam memperkuat ekonomi kerakyatan, lahirnya inisiatif pembentukan Koperasi Desa Merah Putih atau Kopdes Merah Putih menjadi Selengkapnya
Pemerintah Libatkan Masyarakat dalam Pembentukan Koperasi Merah Putih untuk Bangun Pedesaan
Oleh : Naura Astika )* Pembangunan Indonesia dari desa ke kota bukan sekadar slogan belaka. Pemerintah semakin menyadari bahwa kekuatan ekonomi bangsa tidak hanya bertumpu Selengkapnya
Swasembada Pangan Bukti Konkret Pemerintah Wujudkan Kemandirian Bangsa
Oleh : Doni Laksana )* Swasembada pangan merupakan salah satu tonggak utama dalam mewujudkan kemandirian suatu bangsa. Di Indonesia dengan kekayaan alam melimpah dan potensi Selengkapnya
Membangun Generasi Sehat Papua Lewat Makan Bergizi Gratis
Oleh: Frans Nawipa* Pemeriqntah menunjukkan komitmen kuat dalam menyejahterakan rakyat melalui kebijakan strategis, salah satunya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah tantangan geografis dan Selengkapnya
Meningkatkan Transparansi Koperasi Merah Putih: Langkah Pengawasan Efektif untuk Keberlanjutan
Oleh: Indriani Nova )* Transparansi menjadi salah satu fondasi utama dalam tata kelola kelembagaan yang sehat dan berkelanjutan, termasuk dalam badan usaha berbasis keanggotaan seperti Selengkapnya
Pemerintah Blokir 5.011 Rekening Senilai Rp 633 Miliar, Bongkar Jaringan Judi Daring Terorganisir
*) Oleh : Andi Mahesa Pemerintah melalui Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) kembali menunjukkan ketegasannya dalam memerangi praktik judi online (judol) yang semakin Selengkapnya
Apresiasi Pendekatan Diplomasi Kebijakan Tarif Trump Jaga Kerja Sama Dagang Indonesia–AS
Oleh : Andika Pratama )* Pemerintah menunjukkan ketangguhan dan kecermatan dalam menyikapi dinamika kebijakan perdagangan global, termasuk kebijakan tarif proteksionis yang kembali digaungkan oleh mantan Selengkapnya
RUU KUHAP Mendukung Proses Hukum yang Transparan
Oleh: Indira Sari )* Pemerintah terus meneguhkan komitmennya dalam membangun sistem peradilan pidana nasional yang adil, modern, dan transparan. Salah satu wujud konkret dari langkah Selengkapnya












