Oleh : Jodi Mahendra )* Indonesia kembali menunjukkan kiprahnya di panggung diplomasi global dengan menjadi tuan rumah Konferensi ke-19 Parliamentary Union of the OIC Member Selengkapnya
Oleh : Rio Kriswana, S.AP., M.M., CRGP., CRM Adanya Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50% menjadi salah satu kebijakan ekonomi yang paling mengejutkan pasar. Di tengah ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap bertahan, keputusan ini mengirimkan sinyal bahwa Bank Indonesia melihat adanya risiko yang perlu segera diantisipasi. Bagi sebagian masyarakat, kenaikan suku bunga identik dengan naiknya bunga kredit, cicilan yang lebih mahal, dan potensi perlambatan ekonomi. Sementara bagi pelaku pasar, keputusan ini dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mempertahankan kepercayaan investor. Melihat hal itu, juga mendapat perhatian dari Ekonom Kalteng, Rio Kriswana, S.AP., M.M., CRGP., CRM, yang mana melihat lebih dalam mengenai BI Rate naik atau turun, dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi sehingga Bank Indonesia merasa perlu mengambil langkah tersebut. “Tentu hal ini menjadi perhatian kita bersama. Melihat lebih jauh apa yang terjadi. Perlu kajian kajian mendalam terutama dalam potensi perubahan ekonomi nasional hingga lokal,” katanya. Dijelaskan ekonom muda asal Pangkalanbun, Kobar ini, dimana dunia sedang Berubah Lebih Cepat dari yang disadari. Dimana saat ini perekonomian global berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian. Konflik geopolitik di berbagai kawasan, potensi gangguan rantai pasok dunia, fluktuasi harga energi, hingga penguatan dolar Amerika Serikat telah menciptakan tekanan terhadap banyak negara berkembang. Dalam kondisi seperti ini, investor global cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman. “Akibatnya terjadi perpindahan modal dari negara berkembang menuju instrumen yang dianggap memiliki risiko lebih rendah. Tekanan tersebut kemudian berdampak pada nilai tukar, arus modal, hingga stabilitas pasar keuangan domestic,” katanya. Melihat situasi global ini, tambah pria yang juga Alumni Lemhanas Angkatan II tahun 2024 ini, Bank Indonesia berusaha bertindak lebih cepat melalui instrumen suku bunga, dengan BI menaikan Rate. Dari analisi itulah, tambah Rio, secara sederhana, kenaikan BI Rate bertujuan untuk Menjaga stabilitas rupiah, Menahan tekanan inflasi, Menjaga kepercayaan investor, Menstabilkan pasar keuangan. “Logikanya cukup sederhana. Ketika suku bunga naik, Deposito menjadi lebih menarik. Obligasi menjadi lebih menarik. Investor lebih tertarik menempatkan dananya di Indonesia. Tekanan terhadap rupiah dapat berkurang. Inflasi impor dapat lebih terkendali. Dari sudut pandang stabilitas jangka pendek, langkah ini dapat dipahami,” sebut Rio. Namun pertanyaannya, lanjut Rio, Apakah ini solusi atau hanya penahan guncangan sementara? Rio mengatakan, fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat, namun juga Jika melihat data makro secara umum, Indonesia sebenarnya masih memiliki fondasi ekonomi yang cukup baik, dimana Pertumbuhan ekonomi relatif stabil, Inflasi masih terkendali, Perbankan nasional masih sehat, pehitungan Cadangan devisa masih cukup kuat, Konsumsi rumah tangga masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi. “Indonesia juga memiliki modal besar berupa sumber daya alam, bonus demografi, dan program hilirisasi yang terus berjalan. Namun fundamental yang kuat tidak berarti kebal terhadap tekanan eksternal. Meskipun demikian, Masalah utama yang masih menjadi perhatian adalah tingginya sensitivitas pasar terhadap arus modal global dan sentimen investor internasional. Artinya, meskipun kondisi ekonomi domestik cukup baik, tekanan dari luar negeri tetap dapat memberikan dampak yang signifikan, sehingga juga dampaknya terhadap IHSG, “sebutnya. Ditegaskan pria yang memiliki sertifikasi penguji perbankan tersebut, kenaikan BI Rate biasanya menjadi sentimen yang kurang disukai pasar saham dalam jangka pendek. Ketika bunga naik, Biaya pinjaman perusahaan meningkat, Ekspansi bisnis menjadi lebih mahal, Konsumsi masyarakat berpotensi melambat, Investor memiliki alternatif investasi yang lebih menarik di deposito atau obligasi. “Akibatnya, IHSG sering kali mengalami tekanan sesaat setelah kenaikan suku bunga diumumkan. Namun penting dipahami bahwa pasar saham dan ekonomi riil tidak selalu bergerak searah. IHSG bergerak berdasarkan ekspektasi. Sedangkan ekonomi riil bergerak berdasarkan produktivitas. Selengkapnya
BERITA UTAMA
Kategori: OPINI
Tunjangan Guru Honorer Bentuk Kepedulian Pemerintah Dalam Dunia Pendidikan
Oleh: Ivan Aditya )* Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun masa depan bangsa yang berkualitas. Dalam ekosistem pendidikan, guru memiliki peran sentral sebagai ujung tombak Selengkapnya
Mengapresiasi Gerak Cepat Pemerintah Respons Kebijakan Tarif Impor Trump
Oleh: Farhan Farisan )* Pemerintah menunjukkan respons cepat dan strategis dalam menghadapi dampak kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kebijakan Selengkapnya
Pertumbuhan Indonesia Lebih Baik Dari Negara G20, Buktikan Ekonomi Tak Melemah
Oleh: Alfin Prasetya* Di tengah dinamika ekonomi global yang tidak menentu, Indonesia kembali menunjukkan resiliensinya. Pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 4,87% secara tahunan (year-on-year) pada Selengkapnya
Tutup Celah Judi Daring, Pemerintah Serukan Kolaborasi Nasional
Oleh : Kenzo Malik )* Judi daring atau judi online tidak lagi sekadar menjadi persoalan moral, tetapi telah menjelma sebagai ancaman serius terhadap ketahanan sosial Selengkapnya
Mendukung Kelancaran Pemungutan Suara Ulang Secara Kondusif dan Transparan
Oleh: Bara Winatha*) Pemungutan Suara Ulang (PSU) merupakan bagian dari mekanisme demokrasi yang dirancang untuk menjamin keadilan dan integritas dalam proses pemilihan umum. Dalam praktiknya, Selengkapnya
RUU KUHAP Tegaskan Komitmen Negara Lindungi HAM dalam Proses Hukum
Oleh: Fikri Setiawan )* Pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam mereformasi sistem peradilan pidana dengan mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP). Selengkapnya
Sinergi Kebijakan Fiskal dan Perdagangan untuk Menghadapi Tarif Trump
Oleh: Sidya Wiratma )* Pemerintah Indonesia menunjukkan kesiapan menghadapi kebijakan proteksionis Amerika Serikat melalui pendekatan yang mengintegrasikan kebijakan fiskal dan diplomasi perdagangan secara strategis. Dalam Selengkapnya
Pemerintah Aktif Awasi Program Makan Gizi Gratis Demi Jaga Kualitas
Oleh : Astrid Widia )* Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah secara nasional menunjukkan keseriusan dalam upaya meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah Selengkapnya
Prabowo Resmikan Terminal Khusus Haji dan Umroh Ibadah Makin Lancar
Oleh: Moeini Syakir *) Momentum peresmian Terminal Khusus Haji dan Umrah di Terminal 2F Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada 4 Mei 2025, menandai tonggak penting Selengkapnya











