Foto : Duwel Rawing
Palangka Raya, Media Dayak
Jajaran Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), melaksanakan kunjungan Kerja (Kunker) ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), dimana agenda kali ini berkaitan dengan pengelolaan asrama sekolah, yang ada di wilayah tersebut.
Menurut ketua Komisi III DPRD Kalteng, yang membidangi Kesejahteraan Rakyat (Kesra), meliputi Pendidikan, Kesehatan dan Kepariwisataan Duwel Rawing, Banjarbaru memiliki sekolah dengan pengelolaan asrama yang terbaik dan menjadi percontohan se Kalsel.
Sehingga, dengan adanya kuker ke Banjarbaru tersebut, dapat menjadi gambaran bagaimana pengelolaan asrama itu bisa diterapkan di sekolah-sekolah yang ada di Bumi Tambun Bungai.
“Saya rasa memang beberapa sekolah di Kalteng ini memerlukan asrama, untuk menampung siswa dari berbagai daerah yang jauh. Maka dari itu, pengelolaan asrama yang baik saya nilai perlu untuk dipelajari,” ucap Duwel Rawing, saat dikonfirmasi Mediadayak.id, melalui pesan Whatsapp, Jumat (24/7).
Wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, meliputi Kabupaten Katingan, Gunung Mas dan Kota Palangka Raya ini juga mencontohkan, salah satunya SMK di Desa Tumbang Manggu, Kecamatan Sanaman Mantikei di Kabupaten Katingan. Tidak sedikit para pelajar yang ada di sekolah tersebut berasal dari desa yang letaknya jauh. Sehingga para siswa tersebut pulang pergi ke sekolah setiap hari dengan transportasi dan infrastruktur yang serba sulit.
“Di desa itukan susah sekali mencari rumah kontrakan, kalaupun ada itu pasti mahal, nah salah satu solusi untuk anak-anak dari desa yang jauh itu ya adanya asrama di sekolah. Karena pulang pergi setiap hari menempuh jarak yang jauh kan makan biaya dan waktu juga, itu tentu memberatkan siswa tersebut,” ujarnya.
Dengan adanya asrama di sekolah, sambung Duwel, maka siswa yang berasal dari daerah yang jauh itu tidak perlu lagi pulang pergi setiap hari ataupun menyewa tempat tinggal dengan harga mahal. Skema ini dinilainya akan meringankan siswa dan orang tua siswa tersebut, sehingga dapat melanjutkan pendidikan hingga selesai.
“Kalau kita membicarakan kota ya tentu tidak sulit mencari tempat tinggal, namun kalau di desa harus diperhatikan keberadaan tempat tinggal untuk siswa. Dalam hal ini, asrama dapat meringankan biaya yang dikeluarkan oleh siswa. Ini artinya, sekolah dengan dukungan sarana asrama tidak harus berada di perkotaan, namun di desa-desa yang memerlukan fasilitas tersebut. Hal ini juga sebagai bentuk dorongan agar masyarakat yang berada di desa dapat tetap melanjutkan pendidikan yang akan berdampak pada peningkatan sumber daya manusia (SDM),” tandasnya.
Bahkan menurutnya, pola pengelolaan asrama sekolah yang baik tentu harus diperhatikan oleh berbagai pihak. Seperti memprioritaskan penempatan asrama untuk siswa yang kurang mampu ataupun skema lain yang dapat menarik minat agar siswa tersebut tetap melanjutkan pendidikan.
“Kalau pengelolaannya bagus, tentu ini bisa menjadi magnet bagi siapapun yang bersekolah di tempat itu. Yang dibicarakan bukan hanya asramanya saja, tetapi juga bagaimana dampaknya terhadap peningkatan pendidikan yang berimbas pada peningkatan kualitas SDM kita,” pungkas Politisi dari Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan ini.(Nvd)











