Para dewan guru di SMP Negeri 1 Lahei Kecamatan Lahei saat menerima kunjungan Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Dinas Kesehatan serta Kepala Kejaksaan Negeri Barito Utara dalam rangka kegiatan rapat koordinas bidang pendidikan di SMP Negeri 1 Lahei, Sabtu (11/7/2026).(foto:Media Dayak)
Muara Teweh, Media Dayak
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Utara, M. Iman Topik, menekankan pentingnya pendataan guru non-Aparatur Sipil Negara (Non-ASN) yang belum terakomodasi dalam sistem pendidikan nasional, sekaligus memperkuat upaya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.
Hal tersebut disampaikan M. Iman Topik saat memberikan arahan pada Rapat Koordinasi Bidang Pendidikan bersama Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan, kepala sekolah, dan guru se-Kecamatan Lahei di Aula SMP Negeri 1 Lahei, Sabtu (11/7/2026).
Dalam arahannya, M. Iman Topik meminta seluruh satuan pendidikan segera melakukan pendataan guru non-ASN yang diangkat oleh sekolah maupun pemerintah desa namun belum terdaftar dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) atau belum menerima insentif.
“Kami meminta seluruh sekolah segera merekap dan mengusulkan data guru-guru non-ASN yang belum terakomodasi. Data tersebut harus dilengkapi dengan dokumen pendukung, seperti surat keputusan pengangkatan, daftar hadir, serta bukti beban mengajar,” tegasnya.
Menurutnya, data tersebut akan menjadi dasar bagi Dinas Pendidikan untuk menyampaikan kondisi riil di lapangan kepada pimpinan daerah sehingga dapat dicarikan solusi, terutama bagi tenaga pendidik yang bertugas di wilayah pedalaman dengan berbagai keterbatasan.
Selain membahas pendataan guru, M. Iman Topik juga memberikan perhatian khusus terhadap upaya pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan. Ia mengingatkan seluruh kepala sekolah agar tidak mengabaikan persoalan sekecil apa pun yang terjadi di sekolah.
“Kita harus lebih waspada. Jangan sampai kasus perundungan, kekerasan, maupun konflik antarpeserta didik berkembang tanpa penanganan. Semua harus diselesaikan sesuai prosedur sejak dini,” ujarnya.
Ia meminta seluruh sekolah mengaktifkan kembali program penguatan pendidikan karakter, menerapkan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, serta membangun mekanisme pelaporan dan penanganan kasus kekerasan secara cepat dan tepat.
“Tidak ada toleransi terhadap kekerasan di sekolah. Bila ada indikasi kasus, segera laporkan dan lakukan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku,” katanya.
M. Iman Topik juga mengajak sekolah memperkuat kolaborasi dengan orang tua, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak terkait guna menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif.
Menurutnya, pembinaan karakter harus berjalan seiring dengan pengembangan potensi peserta didik melalui kegiatan ekstrakurikuler, pembinaan bakat, dan berbagai aktivitas positif lainnya.
Ia mengakui masih terdapat tantangan pendidikan di wilayah pedalaman, seperti keterbatasan akses internet, kondisi geografis, serta kekurangan tenaga pendidik pada sejumlah mata pelajaran. Namun, ia mengajak seluruh insan pendidikan tetap optimistis dalam memberikan pelayanan terbaik.
“Kita tidak hanya berbicara tentang apa yang ideal, tetapi bagaimana bekerja bersama mencari solusi nyata bagi kemajuan pendidikan Barito Utara,” ungkapnya.
Menutup arahannya, M. Iman Topik menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia memerlukan sinergi seluruh pihak, termasuk sektor pendidikan dan kesehatan, sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat.
“Di garis terdepan pembangunan manusia ada sekolah dan puskesmas. Karena itu keduanya harus terus bersinergi demi mewujudkan masyarakat Barito Utara yang maju, sehat, dan berpendidikan,” pungkasnya.(Lna/Aw)













