Yudo Herlambang
Palangka Raya, Media Dayak
Bank Indonesia melakukan serangkaian kebijakan moneter dalam rangka menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan sebagai respons dari merebaknya COVID-19 yang berdampak terhadap perekonomian Nasional.
Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Kalteng, Yudo Herlambang mengatakan, kebijakan yang ditempuh BI adalah; Memperkuat intensitas kebijakan triple intervention (Spot, Domestic Non Deiliverable Forward (DNDF), Pembelian SBN di Pasar Sekunder), Menurunkan rasio Giro Wajib Minimun valuta asing, Memperluas underlying transaksi bagi investor asing, dan (Penggunaan bank kustodi global dan domestik untuk kegiatan investasi.
“Keempat kebijakan ini merupakan upaya yang ditempuh oleh Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar uang dan sistem keuangan Nasional, untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, yang saat ini tengah bergejolak dampak dari pelepasan portofolio asing dari Indonesia,” katanya, Selasa (07/04/2020).
Yudo mengatakan, pelepasan portofolio asing yang saat ini masih terjadi secara masif dikarenakan ketidakpastian ekonomi yang berlangsung di negara emerging market, yang merupakan dampak dari merebaknya COVID-19 secara global sehingga berpengaruh terhadap melambatnya aktivitas perekonomian nasional.
“Sebagaimana yang kita ketahui, pelemahan nilai tukar dapat mempengaruhi stabilitas harga untuk sejumlah komoditas yang didatangkan dari Luar Negeri. Namun demikian dampak langsung dari pelemahan nilai tukar di Kalimantan Tengah, relative masih rendah. Hal ini nampak dari inflasi Kalimantan Tengah yang masih terjaga hingga bulan Maret 2020,” terangnya.
Terjaganya stabilitas harga di Kalimantan Tengah di tengah pandemi yang sedang terjadi tidak terlepas dari masih terjaganya ekspektasi masyarakat dalam berbelanja, dan pasokan yang lancar dan terkendali.
“Kedepan Bank Indonesia bersama dengan TPID Se-Kalimantan Tengah akan terus memantau pergerakan harga sejumlah komoditas, khususnya bahan makanan agar pasokannya tetap terjaga dan harganya tetap terkendali,” demikian Yudo Herlambang.(aw)











