SPBU Kuala Kurun Diserbu Antrean Mengular, Stok BBM Dipangkas Separuh! Operator Ngaku Sempat Diintimidasi Orang Bawa Parang!

Andrian, staf administrasi atau PAC SPBU Kuala Kurun Jalan Pangeran Diponegoro,saat menerima inspeksi mendadak (sidak) dari anggota DPRD Gumas Herbert Y Asin, Rayaniatie Djangkan dan Singong,didampingi Plt.Sekretaris Disperindag Gumas Yestati Agave, Kamis (7/5/2026) pagi.(Media Dayak/Novri J K H)
Kuala Kurun, Media Dayak
Selepas menerima inspeksi mendadak (sidak) dari anggota DPRD Gunung Mas (Gumas), Kamis (7/5/2026), pihak SPBU Kuala Kurun akhirnya buka suara terkait kisruh antrean panjang BBM yang belakangan terus dikeluhkan masyarakat.
Andrian, staf administrasi atau PAC SPBU Kuala Kurun di Jalan Pangeran Diponegoro, menegaskan bahwa antrean mengular yang terjadi hampir setiap hari bukan disebabkan permainan pihak SPBU, melainkan akibat keterbatasan stok dan distribusi BBM yang dinilai tidak lagi stabil.
Menurutnya, kondisi saat ini jauh berbeda dibanding sebelumnya. Dulu, setiap pemesanan BBM selalu terpenuhi tanpa jeda distribusi. Namun kini, permintaan BBM kerap tidak sesuai dengan suplai yang dikirim pihak Pertamina.
“Dulu suplai stabil, tidak ada gap hari. Misalnya hari ini kami pesan Pertamax, ya dikirim Pertamax. Sekarang kami pesan Pertamax malah tidak dikirim. Akhirnya ada kekosongan sehari dan masyarakat yang tidak kebagian menumpuk di hari berikutnya. Itu yang menyebabkan antrean panjang,” ungkap Andrian kepada awak media.
Andrian menjelaskan, kondisi semakin parah setelah kuota BBM untuk SPBU reguler satu-satunya di Kabupaten Gumas itu dipangkas drastis. Jika sebelumnya SPBU bisa menerima hingga 10 KL atau 10 ribu liter per hari, kini pasokan hanya sekitar 5 KL atau 5 ribu liter.
“Kalau cuma 5 KL itu jelas tidak cukup untuk kebutuhan satu kabupaten. Saat stok habis, masyarakat yang tidak kebagian kembali antre di hari berikutnya. Besoknya terulang lagi seperti itu,” tegasnya.
Tak hanya jumlah stok yang berkurang, jenis BBM yang dikirim juga disebut Andrian sering tidak sesuai pesanan. Andrian mencontohkan, ketika pihaknya memesan Pertalite dan Pertamax, justru yang datang hanya Dexlite.
“Jadi ada kekosongan produk. Gap sehari saja sudah membuat antrean membludak karena kebutuhan masyarakat sangat tinggi,” katanya.
Andrian juga menyebut sejak pengaturan distribusi diambil alih SBM Pertamina Kalteng, pihak SPBU hanya bisa menyesuaikan dengan perencanaan distribusi yang telah ditentukan.
“Sekarang kami tidak bisa mengintervensi. Setiap kami tanyakan, jawabannya karena keterbatasan stok dan ada penyesuaian distribusi,” ujarnya.
Menjawab sorotan masyarakat terkait pengaturan jalur antrean yang dinilai semrawut, Andrian mengaku pihak SPBU sebenarnya pernah mencoba membuka seluruh jalur berdasarkan jenis BBM. Namun kebijakan itu justru memicu kemacetan lebih parah hingga akses keluar masuk SPBU lumpuh.
“Kami pernah coba buka semua jalur, tapi keluhan di lapangan malah banyak. Jalan jadi tertutup dan kendaraan di dalam SPBU tidak bisa keluar,” bebernya.
Bahkan untuk mengurai situasi, pihak SPBU mengaku telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian sejak jauh sebelum masa pandemi Covid-19.
Di tengah polemik antrean BBM, Andrian juga membantah keras tudingan bahwa SPBU lebih mengutamakan pelangsir dibanding masyarakat umum.
“Tidak benar itu!” tegasnya dengan nada tinggi.
Ia menekankan bahwa aturan dari BPH Migas secara jelas melarang pengisian BBM berulang. Namun di tengah situasi panic buying, pihaknya kerap menemukan kendaraan pribadi hingga mobil pegawai melakukan pengisian berkali-kali.
“Kami juga bingung mendefinisikan pelangsir itu seperti apa. Karena saat panic buying, motor kecil, mobil pribadi bahkan mobil pegawai juga ada yang mengisi berulang,” katanya.
Situasi panas di lapangan bahkan disebut sempat memicu intimidasi terhadap operator SPBU. Andrian mengungkapkan salah satu operator pernah mendapat ancaman dari seseorang yang membawa parang karena tidak diperbolehkan mengisi BBM penuh.
“Bukan saya yang diancam, tapi operator kami. Orang itu mau isi full tank, sementara kami punya kebijakan internal karena stok terbatas,” ujarnya.
Menurut Andrian, saat operator menolak permintaan tersebut, oknum itu langsung terpancing emosi.
“Dia bilang, ‘Kamu jangan sok suci’. Ada intimidasi dan provokasi seperti itu,” bebernya.
Meski demikian, Andrian menegaskan pihak SPBU tidak gentar menghadapi tekanan di lapangan dan tetap berkoordinasi dengan aparat kepolisian demi menjaga keamanan serta pelayanan kepada masyarakat.
“Saya tidak takut atau gemetar menghadapi situasi seperti itu. Kami koordinasi dengan kepolisian dan tetap bekerja seperti biasa,” tandasnya menutup.(Nov/Aw)