Sekda Pimpin Rakor High Level Meeting TPID

MENGIKUTI – Sekda Kalteng Fahrizal Fitri, didampingi pejabat terkait, saat mengikuti sekaligus memimpin Rakor HLM TPID Provinsi Kalteng di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalteng, Jum’at (09/04). (MMC Kalteng/Media Dayak)
Palangka Raya, Media Dayak
Sekda Kalimantan Tengah (Kalteng), Fahrizal Fitri, mewakili Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalteng yang diselenggarakan di Aula Eka Hapakat, Kantor Gubernur Kalteng, Jum’at (09/04).
Dikatakan Sekda, rakor ini sangat strategis, dan merupakan wujud sinergi dan komitmen bersama dalam rangka menjaga tingkat inflasi, sebagai salah satu prasyarat pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkesinambungan dan berkeadilan. Sebagai salah satu langkah untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Kalteng.
“Bersama kita fahami, adanya inflasi dapat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat dan daerah. Bagi masyarakat umum, inflasi menjadi suatu perhatian, karena inflasi berpengaruh terhadap kesejahteraan hidup dan bagi dunia usaha, laju inflasi merupakan faktor yang sangat penting dalam membuat berbagai keputusan,” ungkap Sekda.
Sekda mengutarakan, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus menurun, sehingga berpengaruh terhadap standar hidup masyarakat yang juga mengalami penurunan, dimana yang miskin akan semakin miskin karena efek inflasi yang tinggi.
Selanjutnya, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty), bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan, dari pengalaman yang didapat menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Menurut Sekda, secara garis besar, TPID provinsi Kalteng sendiri telah melakukan terobosan-terobosan dan koordinasi yang intensif, dalam rangka menjaga kestabilan harga, yang fokus utamanya adalah pada komoditas harga pangan bergejolak (Volatile Food).
Sekda mengungkapkan, hal tersebut telah dicapai melalui TPID Provinsi Kalteng dengan program rutinnya secara konsisten yakni melakukan pemantauan harga pasar, sebagai alat check and balance kewajaran harga di pasar, memanfaatkan pasar penyeimbang, kendang penyangga, kolam penyangga, dan suppluchain daging ayam ras beku untuk menjaga kestabilan harga.
“Menjaga ketersediaan stok dan kelancaran distribusi komoditas yang didatangkan dari luar Daerah serta pengendalian ekspektasi masyarakat melalui press release bulanan pada hari ke dua tiap bulannya,” papar Sekda.
Kemudian dijelaskan Sekda, pada tahun 2020, inflasi Kalteng tercatat sebesar 0,71 persen year on year (yoy), lebih rendah dari capaian inflasi Indonesia yakni sebesar 1,68 persen. Diungkapkannya, rendahnya inflasi pada tahun 2020 tersebut, dikarenakan adanya daya beli masyarakat yang tertekan akibat dari dampak pandemi COVID-19 yang melanda. Dalam 5 tahun terakhir ada 3 komoditas bahan pangan yang kerap menjadi penyumbang utama Inflasi Kalteng yaitu daging ayam ras, bawang merah dan cabai rawit.
Lebih lanjut, Sekda mengatakan, sudah menjadi tugas Pemda Provinsi Kalteng, bersama instansi vertikal yang tergabung dalam TPID Provinsi Kalteng, untuk menjaga stabilitas harga dan kelancaran pasokan komoditi pangan di tengah masa pandemi dan menjelang bulan puasa dan hari raya Idul Fitri serta adanya Fenomena La Nina yang membuat curah hujan cukup tinggi akhir-akhir ini.
“Maka diperlukan upaya lebih untuk melakukan koordinasi guna pengendalian inflasi,”pungkas Sekda, membacakan sambutan tertulis Gubernur Kalteng, H Sugianto Sabran. (MMC/YM/Rsn)