Permintaan Masyarakat Kalteng Menurun Selama Kabut Asap

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah, Rihando sebelah kanan.

Palangka Raya, Media Dayak

       Permintaan atau demand masyarakat Kalteng mengalami penurunan selama bencana kabut asap yang berlangsung sejak Juli hingga akhir September 2019. Menurunnya permintaan masyarakat membuat Kalteng mengalami deflasi selama bencana kabut asap.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah, Rihando menyatakan, terjadinya gangguan kabut asap menghambat pendistribusian sejumlah komoditas ke Kota Palangka Raya, dan secara teori hal ini dapat berdampak terhadap kenaikan harga.

“Di saat yang bersamaan kabut asap memberikan dampak berkurangnya permintaan, yang tercermin dari menurunnya jumlah masyarakat yang datang ke Pasar Tradisional. Hal tersebut menyebabkan pedagang tidak dapat menaikkan harga barang,” kata Rihando melalui keterangan tertulis yang diterima di Palangka Raya, Minggu (6/10).

Kepala KPw BI Kalteng ini mengungkapkan, berdasarkan informasi dari responden survei Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), terdapat penurunan pengunjung yang datang ke pasar tradisional dan berdampak pada penurunan pendapatan penjual sekitar 20-30 persen.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kata Rihando, penurunanpermintaan membuat stok komoditas kebutuhan pokok masyarakat saat ini masih dalam level yang cukup dengan harga yang relatif stabil.

Terjaganya harga kebutuhan pokok masyarakat tercermin pada deflasi yang terjadi di Kalimantan Tengah secara bulanan (month to month) pada bulan Juli, Agustus, dan September. Deflasi pada tiga bulan tersebut berturut-turut adalah sebesar -0,25 persen, -0,29 persen, dan -0,07 persen (mtm).

Deflasi didorong oleh kelompok komoditas harga pangan bergejolak (volatile food) yang mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,71 persen, -0,70 persen, dan -1,03 persen (mtm) pada bulan Juli, Agustus, dan September.

“Deflasi yang terjadi pada kelompok volatile food pada tiga bulan terakhir dimana terjadinya kabut asap mengkonfirmasi bahwa harga kebutuhan pokok relatif terjaga atau bahkan cenderung menurun. Penurunan harga ini sejalan dengan pola musiman, dimana terjadi normalisasi harga pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) hingga 3-4 bulan setelah Idulfitri,” terangnya.

Rihando mengungkapkan, hal serupa terjadi pada sektor perhotelan. Menurut informasi dari sejumlah hotel yang ada di Palangka Raya, kabut asap berdampak terhadap penurunan penjualan sekitar 25 persen untuk pemesanan individual, dan 50 persen untuk pemesanan grup dibandingkan dengan kondisi normal di bulan bulan sebelumnya.

Demikian pula dengan sektor penerbangan dari/dan ke Palangka Raya yang mengalami keterlambatan, dan pengalihan melalui Banjarmasin. Bahkan aktivitas di Bandara Tjilik Riwut sempat nyaris terhenti pada tanggal 15-17 September. Berdasarkan informasi dari Angkasa Pura II Bandara Tjilik Riwut, hanya terdapat 2-4 penerbangan dari 24 penerbangan dari dan ke Palangka Raya pada tiga hari tersebut.

Dari sektor pertanian tanaman bahan makanan, menurut informasi dari Dinas terkait, produksi beras mengalami gangguan sejak terjadinya bencana asap. Sejak kualitas udara semakin memburuk beberapa minggu terakhir, produksi beras harian tercatat menurun.

Untuk tanaman hortikultura, produksi juga terganggu, terutama komoditas bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Akibat asap, tanaman tidak tumbuh dengan baik, daun-daunnya menjadi mengering dan keriting. Selain itu, asap yang menutupi sinar matahari membuat tanaman-tanaman ini kekurangan suplai sinar matahari, sehingga lebih rentan terserang OPT (Organisme Pengganggu Tanaman).

“Dari sektor pertanian tanaman perkebunan, menurut informasi dari sejumlah pelaku usaha kelapa sawit, terjadinya kabut asap menyebabkan beberapa perusahaan harus mengalihkan sejumlah SDM-nya untuk ikut memadamkan titik api disekitar perkebunan agar tidak masuk ke dalam kebun perusahaan,” kata Rihando.

Di samping itu, lanjut Rihando, hari kerja pegawai juga mengalami penurunan, karena banyaknya pegawai yang sakit dan tidak masuk karena kabut asap. Hal ini menyebabkan terdapat buah matang yang tidak ataupun telat untuk dipanen, dan berdampak terhadap turunnya tonase produksi.

Kabut asap juga mengganggu kelangsungan hidup hewan penyerbuk, hal ini berpotensi memberikan dampak terhadap banyak bunga betina sawit yang tidak terpolinasi dengan baik, dan dapat mempengaruhi produksi pada bulan bulan berikutnya.

Di sisi lain, sektor jasa kesehatan terjadi permintaan alat-alat kesehatan yang meningkat tajam sejak bencana asap terjadi, seperti masker, oksigen murni, dan multivitamin. Namun demikian harganya cenderung stabil dan terjaga karena harga barang yang sudah ditetapkan dari apotek pusat bagi apotek ritel cabang, dan adanya penetapan harga eceran tertinggi untuk beberapa jenis obat dan multivitamin.

Selain itu, berdasarkan pemantauan, ditemukan pula pedagang yang justru memberi diskon pada masker dan tabung oksigen murni, dengan potongan harga atau promo pemberian masker gratis setelah pembelian masker/tabung oksigen dalam jumlah tertentu.

“Pedagang mengutarakan keinginannya untuk tidak terlalu mencari untung dari kejadian bencana asap yang menyusahkan masyarakat. Diperkirakan bahwa dalam waktu dekat, tidak ada kenaikan harga atas barang-barang dimaksud,” terang Rihando.

Dari sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR), Untuk sektor perdagangan (departement store), terjadinya kabut asap justru berdampak positif terhadap pertumbuhan penjualan. Dari sisi traffic customer juga mengalami peningkatan.

“Meningkatnya traffic customer disinyalir merupakan perilaku masyarakat yang melakukan kunjungan ke toko untuk mendapatkan udara yang lebih segar dengan ketersediaan air conditioner di toko. Sementara dari sisi inventori, tidak terdapat hambatan dalam pengiriman barang via laut baik dari Jakarta maupun Surabaya,” demikian Rihando mengakhiri.(aw)