Peneliti UPR Kaji Potensi PLTB untuk Solusi Energi Masa Depan

Palangka Raya, Media Dayak
Provinsi Kalimantan Tengah terus bergerak maju dalam memanfaatkan sumber daya alamnya untuk memenuhi kebutuhan energi. Potensi angin di wilayah pesisir menjadi sorotan utama dalam kajian yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Provinsi Kalimantan Tengah bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Palangka Raya (UPR).
Kajian ini merupakan bagian dari kerja sama strategis antara dua lembaga tersebut untuk mendukung pengembangan energi terbarukan berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.
Pada Kamis, 31 Juli 2025, bertempat di Lantai 6 Gedung Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut UPR, hasil kajian “Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) di Wilayah Pesisir Pantai Provinsi Kalimantan Tengah” diekspose kepada para pemangku kepentingan. Acara ini dihadiri oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, pejabat dari tiga kabupaten yang menjadi lokasi penelitian (Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kotawaringin Barat), serta para akademisi dan ahli.
Kajian ini dipimpin oleh Dr. Ricky Zulfauzan, S.Sos., M.IP selaku ketua tim peneliti, bersama dengan para anggota peneliti lainnya yaitu Yorgen Kaharap, S.Sos., M.Si., Wilson Jefriyanto, S.Si., M.Si., Yunus Pebriyanto, S.Pd., M.Si., dan Dr. Sidik Rahman Usop, MS. Tim ini merupakan gabungan lintas keilmuan yang memiliki keahlian dalam bidang fisika instrumentasi, sosial, lingkungan dan energi terbarukan, serta pemerintahan daerah.
Dalam paparannya, ketua tim peneliti Dr. Ricky Zulfauzan, S.Sos., M.IP menjelaskan bahwa kebutuhan energi listrik yang stabil dan berkelanjutan sangat mendesak, terutama di wilayah terpencil. Ia menyoroti PLTB sebagai solusi aplikatif dan ramah lingkungan, sejalan dengan prinsip Pembangunan Berkelanjutan. Kajian ini menunjukkan bahwa wilayah pesisir Kalimantan Tengah menyimpan potensi kecepatan angin yang berada pada kisaran operasional ideal untuk turbin skala kecil hingga menengah, yakni antara 4,5 hingga 5,5 m/s.
“Wilayah pesisir di Indonesia memiliki kecepatan angin yang memenuhi syarat minimum operasi PLTB skala kecil, yaitu antara 5-10 m/s,” ujar Dr. Ricky. “Khususnya di Kalimantan Tengah, zona pesisir memiliki potensi substansial yang tidak hanya bisa menopang kebutuhan energi regional, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada energi fosil.”
Kajian ini berfokus pada tiga lokasi pesisir, yaitu Pantai Ujung Pandaran (Kotawaringin Timur), Pantai Bakau (Seruyan), dan Pantai Kubu (Kotawaringin Barat). Masing-masing lokasi menunjukkan potensi angin yang menjanjikan, dengan rata-rata kecepatan angin tahunan berkisar antara 4,0 hingga 5,5 m/s.
Data tersebut diperoleh melalui pemetaan spasial menggunakan Global Wind Atlas serta pengukuran dengan instrumen seperti anemometer. Meskipun demikian, tim juga mencatat karakteristik unik dan tantangan di setiap lokasi. Misalnya, vegetasi mangrove di Pantai Bakau dapat menjadi hambatan, yang memerlukan penyesuaian teknologi turbin. Dalam hal ini, penggunaan model turbin yang sesuai, seperti turbin sumbu horizontal yang efisien pada kecepatan angin sedang, menjadi pertimbangan penting.
Lebih dari sekadar sumber energi, hasil kajian juga menyoroti dampak positif multidimensi dari pembangunan PLTB. Dari aspek ekonomi, PLTB berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan membuka peluang ekonomi baru, seperti pariwisata berkelanjutan dan ekonomi kreatif berbasis produk lokal. Di Ujung Pandaran, misalnya, tradisi lokal seperti upacara simah laut dapat diintegrasikan sebagai daya tarik wisata, sekaligus menjadi bentuk integrasi antara energi dan kearifan lokal.
Secara sosial, kehadiran PLTB diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui akses listrik yang lebih baik, mengurangi kesenjangan pembangunan, dan memberdayakan masyarakat melalui pelatihan dan pengembangan industri rumahan. Kajian mencatat bahwa pengembangan PLTB mampu menciptakan peluang kerja baru di bidang konstruksi, operasional, dan pemeliharaan turbin. Dr. Ricky juga menyoroti pentingnya pendekatan partisipatif yang disesuaikan dengan budaya lokal, seperti konsep Babari Laut di Pantai Kubu, sebagai modal sosial untuk pembangunan.
Tak hanya itu, PLTB juga diproyeksikan berdampak positif pada sektor pendidikan dan kesehatan di wilayah pesisir, melalui tersedianya listrik untuk sekolah, fasilitas kesehatan, dan kegiatan ekonomi skala kecil. Hal ini dinilai sejalan dengan pilar pembangunan berkelanjutan yang mencakup dimensi ekonomi, sosial, dan lingkungan secara terpadu.
Dukungan Kuat dari Pemangku Kepentingan
Respon para peserta terhadap hasil kajian ini sangat positif. Beberapa OPD bahkan menyatakan minat untuk menjalin kerja sama penelitian lebih lanjut. Sementara itu, pemangku kepentingan dari tiga kabupaten yang dikaji menyatakan dukungannya penuh jika kelak akan dibangun PLTB, baik dalam skala besar maupun kecil.
Dr. Ricky menekankan bahwa keberhasilan proyek PLTB ini akan sangat bergantung pada dukungan kebijakan pemerintah daerah, termasuk pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Energi Terbarukan sebagai payung hukum dan skema insentif fiskal untuk menarik investasi. Dari aspek kelembagaan, keterlibatan semua pihak (pemerintah, akademisi, masyarakat, dan swasta) perlu diwujudkan melalui skema kolaborasi seperti Public-Private-Community Partnership (PPCP) agar proyek tidak hanya layak secara teknis, tapi juga inklusif secara sosial.
“Pengembangan teknologi turbin lokal skala kecil dan program pelatihan teknis bagi masyarakat juga menjadi kunci untuk meningkatkan kemandirian dan keberlanjutan proyek ini,” pungkas Dr. Ricky.
Ekspose hasil kajian ini menjadi langkah awal yang strategis bagi Kalimantan Tengah untuk menyongsong masa depan energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan merata, sejalan dengan visi pembangunan yang ramah lingkungan dan pro-rakyat. Dengan pemetaan potensi yang detail, pendekatan ilmiah, dan dukungan kebijakan yang kuat, Kalimantan Tengah berpeluang menjadi model transisi energi terbarukan berbasis lokal di Indonesia.(Ist/ Lsn)