Pendidikan Pedalaman Gumas Masih Berjuang! Sekolah Rusak, Akses Sulit, Internet Terbatas, Disdikpora Tancap Gas Lakukan Terobosan

Kasdisdikpora Gumas, Aprianto.(Media Dayak/Novri J Handuran)
Kuala Kurun, Media Dayak
Potret pendidikan di wilayah pedalaman dan terpencil Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Kalimantan Tengah (Kalteng), masih dihadapkan pada berbagai persoalan mendasar yang menjadi tantangan serius dalam upaya menciptakan pemerataan kualitas pendidikan. Mulai dari kondisi infrastruktur sekolah yang memprihatinkan, keterbatasan akses internet, hingga hambatan geografis yang menyulitkan mobilitas guru dan siswa, menjadi pekerjaan rumah besar yang terus dihadapi pemerintah daerah.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Gumas, Aprianto, mengungkapkan bahwa meskipun Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas) terus berupaya memperluas akses pendidikan hingga ke pelosok, kesenjangan mutu pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil masih cukup terasa.
“Pemerintah Kabupaten Gunung Mas terus berupaya memperluas akses pendidikan. Namun, disparitas kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan seperti Kuala Kurun dengan desa-desa terpencil masih menjadi tantangan yang harus terus kita benahi bersama,” ujar Aprianto kepada mediadayak.id, Rabu (3/6/2026) di ruang kerjanya.
Menurut Apri, salah satu persoalan utama yang masih membayangi dunia pendidikan di pedalaman adalah minimnya infrastruktur pendidikan yang memadai. Hingga saat ini masih terdapat sejumlah sekolah dasar maupun sekolah lanjutan yang mengalami kerusakan berat dan membutuhkan penanganan segera.
Tidak hanya itu, fasilitas pendukung seperti ruang kelas tambahan, sarana sanitasi, serta rumah dinas yang layak bagi kepala sekolah dan tenaga pendidik di wilayah terpencil juga masih sangat terbatas.
“Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap kenyamanan dan efektivitas proses belajar mengajar. Karena itu, peningkatan infrastruktur pendidikan menjadi salah satu prioritas yang terus kami dorong,” jelasnya.
Selain persoalan fisik sekolah, tantangan geografis juga menjadi hambatan besar. Banyak sekolah yang berada di wilayah pedalaman hanya dapat dijangkau melalui jalur dengan kondisi jalan yang terbatas, bahkan pada musim tertentu sulit dilalui.
Situasi tersebut berdampak langsung terhadap mobilitas tenaga pendidik maupun peserta didik, sehingga berpotensi mengganggu kelancaran kegiatan belajar mengajar.
Di era transformasi digital saat ini, tantangan lain yang tidak kalah penting adalah keterbatasan jaringan internet dan pasokan listrik. Kondisi tersebut menyebabkan program digitalisasi pendidikan yang menjadi agenda nasional belum dapat diterapkan secara maksimal di seluruh wilayah pedalaman Gumas.
“Program e-learning maupun pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran masih menghadapi kendala besar karena keterbatasan jaringan internet dan listrik di sejumlah wilayah,” kata Apri.
Meski demikian, Disdikpora Gumas tidak tinggal diam. Berbagai langkah strategis terus dilakukan untuk memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga hingga ke pelosok daerah.
Salah satunya melalui penguatan sistem pengawasan pendidikan dengan mengoptimalkan peran koordinator wilayah (Korwil), pengawas sekolah, serta kunjungan rutin dari jajaran Disdikpora ke sekolah-sekolah.
“Kami terus menekankan pentingnya pengawasan agar proses pembelajaran tetap berjalan optimal dan disiplin tenaga pendidik dapat terjaga,” tegas Apri.
Disdikpora juga terus mengoptimalkan peran Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKS), dan Kelompok Kerja Guru (KKG) sebagai wadah berbagi pengalaman, inovasi pembelajaran, serta peningkatan kompetensi tenaga pendidik.
Kabar menggembirakan juga datang dari sejumlah wilayah pedalaman seperti Ujung Miri dan Kahayan. Pemanfaatan teknologi komunikasi berbasis satelit melalui perangkat Starlink mulai diterapkan di beberapa sekolah sehingga akses informasi dan komunikasi dapat berjalan lebih baik.
“Penggunaan Starlink sudah mulai dimanfaatkan di sejumlah sekolah pedalaman. Ini menjadi langkah maju untuk membuka keterisolasian informasi dan mempercepat transformasi digital pendidikan di daerah,”ungkapnya.
Tak hanya itu, Disdikpora saat ini juga tengah mengembangkan sistem pemantauan daring guna meningkatkan disiplin dan kehadiran tenaga pendidik secara lebih efektif dan transparan.
Di sisi lain,hadirnya Program Sekolah Rakyat (SR) yang merupakan program pemerintah pusat turut memberikan harapan baru bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah pedalaman Gunung Mas. Program tersebut dirancang sebagai jalur pendidikan alternatif yang inklusif untuk menekan angka putus sekolah dan memperluas kesempatan belajar bagi seluruh anak bangsa.
“Melalui Sekolah Rakyat, kami berharap semakin banyak anak-anak di pedalaman yang tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak sehingga tidak ada lagi yang tertinggal hanya karena faktor ekonomi maupun keterbatasan wilayah,” pungkas Apri.
Dengan berbagai tantangan yang masih membelit pendidikan di wilayah pedalaman, komitmen pemerintah daerah untuk terus memperkuat infrastruktur, meningkatkan digitalisasi, serta memperluas akses pendidikan menjadi kunci penting dalam mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas bagi seluruh masyarakat Kabupaten Gumas.(Nov/Aw)