Pendeta 74 Tahun Ini Sulap Lahan Jadi Kebun Sayuran dan Kolam Ikan Demi Ketahanan Pangan

Pendeta (Pdt) Diun F Nusan (74) saat berada di lahan miliknya,dimana ia telah membangun kolam dan keramba ikan secara mandiri serta menaman sayuran seperti jagung dan mentimun.(Media Dayak/Novri J Handuran)
Kuala Kurun,Media Dayak
Di tengah gencarnya program ketahanan pangan nasional, sosok seorang pendeta di Kabupaten Gunung Mas (Gumas), Kalimantan Tengah (Kalteng), justru memberi teladan nyata yang menginspirasi. Bukan hanya berkhotbah dari mimbar gereja, Pendeta (Pdt) Diun F Nusan (74), Gembala Sidang Gereja Pantekosta Tabernakel (GPT) Mawar Saron Jalan Pelita I, Desa Tewang Pajangan, Kecamatan Kurun, turun langsung mengolah lahan miliknya menjadi kebun sayuran dan kolam budidaya ikan.
Dengan penuh semangat, pendeta yang menggembalakan ratusan jemaat itu memanfaatkan lahan seluas sekitar satu hektare di samping gereja untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat sekitar.
“Tujuan saya menanam sayuran,seperti jagung pulut,mentimun dan sayuran lainnya, serta memelihara ikan di kolam ini,untuk mendukung program ketahanan pangan serta memanfaatkan lahan yang ada agar tidak kosong, tetapi bisa memberi manfaat ekonomi bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat,” ungkap Diun saat ditemui, Rabu (27/5/2026), di Desa Tewang Pajangan.
Di usia yang tak lagi muda, semangat Diun justru tak surut. Bersama sang istri, Nuriyati (68), ia membangun keramba ikan secara mandiri menggunakan modal pribadi. Di atas lahan sederhana itu kini berdiri kolam budidaya ikan yang diharapkan mampu menjadi sumber pangan dan penghasilan tambahan.
“Ini tanah milik saya sendiri. Kolam ikan sudah dibuat, dan dinas terkait juga bersedia membantu bibit ikan serta pakan untuk dibudidayakan di sini. Keramba ikan yang ada saya bangun sendiri dengan biaya pribadi,” tutur Diun.
Ayah tujuh anak tersebut berharap Pemerintah Kabupaten Gunung Mas melalui dinas terkait dapat memberikan dukungan lebih lanjut, terutama bantuan bibit ikan, pakan, bibit jagung, serta tanaman sayuran lainnya agar program ketahanan pangan berbasis masyarakat dapat berkembang lebih maksimal.
Bagi Diun, ketahanan pangan bukan sekedar urusan pertanian atau ekonomi. Ia menegaskan bahwa upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat juga merupakan bagian dari panggilan iman dan tanggung jawab spiritual seorang umat percaya.
“Sebagai hamba Tuhan, saya sangat mendukung program ketahanan pangan karena hal itu selaras dengan nilai-nilai Alkitab, terutama tentang kerja keras, pengelolaan ciptaan Tuhan, kepedulian terhadap sesama, dan tanggung jawab menjaga keberlangsungan hidup masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, dalam perspektif Kekristenan, ketahanan pangan merupakan bentuk nyata kepedulian agar manusia dapat hidup layak dan tidak mengalami kelaparan. Ia pun mengaitkan program tersebut dengan sejumlah ajaran Alkitab.
Diun menjelaskan, dalam Kejadian 1:29, Tuhan memberikan tumbuh-tumbuhan dan hasil bumi kepada manusia untuk dipelihara serta dimanfaatkan secara bertanggung jawab. Kemudian Amsal 12:11 menekankan pentingnya bekerja mengolah tanah agar memperoleh kecukupan pangan. Sementara kisah Yusuf di Mesir dalam Kejadian 41 menjadi contoh nyata tentang perencanaan pangan jangka panjang menghadapi masa krisis dan kelaparan.
“Terima kasih kepada istri saya dan seluruh jemaat GPT Mawar Saron yang telah mendukung apa yang saya lakukan dalam mendukung program ketahanan pangan ini,” pungkas Diun.(Nov/Lsn)