Pembangunan Perbaikan Jaringan Irigasi di Tiga Kecamatan Dikerjakan Swakelola

TINJAU PERBAIKAN IRIGASI – Kepala Dinas Pertanian Barito Utara, Ir Setia Budi, saat meninjau perbaikan saluran irigasi di Desa Baliti Kecamatan Gunung Timang beberapa waktu lalu. (Media Dayak:Dinas Pertanian Barut)
Muara Teweh, Media Dayak
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Utara (Barut) melalui program Dinas Pertanian (Distan) setempat pada tahun anggaran 2020 ini melaksanakan perbaikan jaringan irigasi sekitar 800 hektar di tiga Kecamatan di daerah ini yang dikerjakan secara swakelola oleh kelompok (Poktan) dari petani untuk petani.
Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Barito Utara (Barut), Ir Setia Budi, Jum’at (9/10) di Muara Teweh, mengatakan, proyek kegiatan pembangunan perbaikan jaringan irigasi di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Teweh Selatan, Kecamatan Gunung Timang dan Kecamatan Montallat dengan sasaran perbaikan jaringan irigasi 800 hektar itu dikerjakan secara swakelola (dari petani untuk petani).
“Jadi, Dinas Pertanian hanya meminjamkan alat berat dan biayanya semua ditanggung oleh petani. Kemudian juga ada bantuan mobilisasi alat berat dari Bupati Barito Utara H Nadalsyah,”kata Setia Budi.
Perbaikan jaringan irigasi ini juga, kata Setia Budi, merupakan dorongan dari Bupati Barito Utara, H Nadalsyah dalam rangka bagaimana Kabupaten Barito Utara ini mencapai target swasembada beras.
“Jadi selama ini, proyek-proyek yang dikerjakan secara swakelola dikerjakan tanpa ada papan proyek, karena tidak menggunakan kontraktor, rekanan dan kemudian volume kegiatan juga harus sesuai dengan RAB,”katanya.
Sebagai contoh katanya di Desa Trahean Kecamatan Teweh Selatan, perbaikan jaringan irigasi kita targetkan sepanjang 1.200 meter ternyata terbangun 5.000 meter. Kemudian di Desa Majangkan 900 meter terbangun hampir 2.200 meter saluran irigasi.
“Jadi yang namanya pekerjaan yang dilakukan secara swakelola dikerjakan para petani untuk petani. Kalau kita menggunakan rekanan atau kontraktor sangat jelas volume yang dikerjakan. Dan anggaran untuk itu langsung dikelola oleh kelompok taninya, bukan di dinas pertanian. Dan tidak dalam bentuk faktual,”jelas Setia Budi.
Lebih lanjut dijelaskan, Setia Budi, kalau program kegiatan perbaikan jaringan irigasi di tiga kecamatan ini ada yang mengatakan pekerjaan atau proyek siluman, artinya yang bersangkutan tidak memahami tata cara pengelolaan anggaran.
“Jadi kalau ada yang mengatakan pekerjaan perbaikan irigasi ini proyek siluman tanpa ada papan proyek, saya pikir yang bersangkutan tidak mengerti tata pengelolaan anggaran saja, karena swakelola ini tidak menggunakan perusahaan (rekanan),”jelasnya.
Dalam kegiatan itu, kelompok tani juga dibantu RAB gambar dari pendamping dari Dinas Pertanian. Kegiatan perbaikan jaringan irigasi di tiga kecamatan ini dinamakan “OPLASERASI” (Optimalisasi Lahan, Selamatkan Rawa, Sejahterakan Petani).
“OPLASERASI ini, adalah kegiatan perbaiakan jaringan saluran irigasi dari Desa Majangkan, Desa Baliti, Desa Ketapang, Desa Rarawa, Montallat, Tumpung Laung, Desa Pepas yang menggunakan alat berat dari Dinas yang dikerjakan secara swakelola dari petani untuk petani,” kata Setia Budi.(lna/rsn)