Partisipasi Sekolah di Katingan Mendaftar K Merdeka Sudah Sangat Bagus

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Katingan, Feriso SE

Kasongan, Media Dayak

Bacaan Lainnya

Partisipasi sekolah di Kabupaten Katingan dalam mendaftar Kurikulum Merdeka (K Merdeka), baik di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah sangat bagus.

Demikian dikatakan, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Katingan, Feriso SE kepada sejumlah awak media, Rabu pagi (05/04), di ruang kerjanya.

Hal ini, kata Feriso, berdasarkan data yang disampaikan oleh sumber data yang berasal dari Balai Guru Penggerak (BGP) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tanggal 28 Maret 2023 yang lalu, Katingan berada di peringkat pertama. “Bahkan, Katingan merupakan sekolah pertama dalam mendaftar K Merdeka,” kata Feriso, seraya menyebutkan bahwa Katingan merupakan sekolah terbanyak yang sudah mendaftar K Merdeka dimaksud. 

Dengan K Merdeka dimaksud menurut Feriso, semacam bentuk perubahan pembelajaran, meskipun tidak merubah total Kurikulum sebelumnya atau Kurikulum tahun 2013 (K 13). 

Intinya, lanjut Feriso, di dalam K Merdeka ini, yang ditonjolkan adalah sistem belajarnya saja, sehingga para siswa dalam belajar terlihat menyenangkan. Mereka diberikan kemerdekaan untuk berinovasi sendiri dan menalar tentang pelajaran atau ilmu yang diberikan oleh guru-gurunya di sekolah. 

Begitu pula, tambahnya, tentang beberapa hal terkait bakat siswa itu sendiri. Siswa dipersilahkan memilih bakatnya masing-masing. Misalnya siswa tersebut memiliki seni dan budaya, maka pihak sekolah harus mengarahkan siswa tersebut ke seni dan budaya. “Sehingga pembelajarannya pun akan lebih efesien,” terangnya

Selanjutnya, terkait dengan K Merdeka ini, para guru tidak harus mengikuti pelatihan-pelatihan. Karena, media K Merdeka ini sudah ada melalui media digital. Sedangkan aksi nyata K Merdeka ini bisa terlihat di Platplfon Merdeka Mengajar (PMM). Misalnya si Pulan bin Pulan adalah seorang guru yang sudah melalui proses pemahaman dan pengerjaan bagaimana tentang materi pembelajaran untuk mengajar siswa. “Sedangkan aksinya itu bisa dalam bentuk makalah  atau karya tulis yang didokumentasikan,”sebutnya.

Hal-hal seperti itu, jelas Feriso, yang dimasukan ke dalam PMM, untuk diverifikasi, yang selanjutnya diberikan pengakuan. “Jika sudah diakui, maka karya tulis tersebut bisa dijadikan salah satu bahan pembelajaran yang akan diajarkan kepada para siswa,”pungkasnya. (Kas/Rsn)

 

image_print
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait