NASIHAT DALAM “PALI DAYAK NGAJU”

Katmie, S.Pd.,M.Pd

Dalam keseharian, khususnya masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah, masih banyak yang mengetahui adanya beberapa pamali/ pantangan atau mitos. Memang antara pamali dan mitos hanya beda tipis. Masyarakat Dayak Ngaju Kalimantan Tengah menyebut mitos atau pamali itu dengan kata “pali,” yang artinya pantangan/ pamali.

            Untuk kali ini, yang akan diulas adalah tentang “sapulun” yaitu mencicipi makanan atau minuman. Contohnya, jika ada tamu yang datang saat empunya rumah sedang memasak. Kemudian menawarkan tamu untuk makan atau minum, maka seharusnya tamu tersebut menerima tawaran empunya rumah. Setidaknya sang tamu harus “sapulun,” yaitu menyentuh/ memegang ataupun mencicipi makanan dan minuman tersebut. Jika tidak, maka akan dikatakan bahwa nantinya, sang tamu bisa mengalami musibah.

            Salah satu pamali atau mitos yang masih ada sampai sekarang yaitu, jika empunya rumah menawarkan minuman (kopi atau teh), dan nasi goreng, maka tamu tidak boleh menolak. Karena yang dianggap paling berbahaya yaitu menolak tawaran kopi atau teh, nasi goreng dan nasi ketan.

            Berdasarkan pengalaman penulis dari orang-orang terdekat, ada beberapa kejadian musibah yang dihubungkan dengan pamali atau mitos tersebut. Ketika ada kejadian musibah, tidak lama muncul cerita, bahwa sebelumnya yang bersangkutan ada ditawari makan atau minum. Tetapi yang mengalami musibah tersebut tidak melakukan “sapulun.” Maka akhirnya yang bersangkutan mengalami musibah.

            Jika dicermati, sebenarnya kejadian tersebut adalah akibat dari“sugesti.”
Saat tamu ditawari makanan atau minuman tetapi menolak untuk sekadar mencicipi, maka ketika melanjutkan pekerjaannya sebenarnya sang tamu terbawa pikiran. Memikirkan makanan atau minuman yang ditawarkan tadi, tetapi tidak sempat dinikmati, akhirnya tidak fokus. Sehingga ketika terjadi musibah, akhirnya masyarakat akan menghubungkannya dengan “sapulun.”
            Orang yang mengalami musibah karena tidak melakukan “sapulun” tersebut dikatakan terkena “pahuni,” karena melanggar “pali.”

Akhirnya berkembanglah pamali atau mitos, yaitu jika mau bepergian, kalau tidak sempat makan atau minum, “pali” jika tidak melakukan “sapulun” karena bisa terkena “pahuni.”

            Makna yang dapat diambil dari nasihat melakukan “sapulun” adalah, sebaiknya jika ditawari untuk makan atau minum, maka hargailah dan hormatilah tawaran tersebut. Setidaknya dengan cara menyentuh atau mencicipi sebagai rasa terima kasih.

            Ini adalah cerita keseharian yang masih ada terbawa sampai sekarang. Kisah ini tidak akan mungkin terhapus begitu saja, karena sudah merupakan bagian dari tradisi atau budaya dan kepercayaan. Tergantung kepada masing-masing pribadi. Karena yang pasti adalah, jika mau melakukan pekerjaan atau bepergian, terlebih dulu berserah dalam do’a pada Yang Maha Kuasa.

            Beberapa pamali/ pantangan yang masih berlaku dalam keseharian adalah:

  • Jika sedang makan malam, jangan sampai piring makanan ketutup bayangan badan. Karena itu bisa membuat celaka pada keesokan harinya.
  • Saat telungkup, pamali jika menekukkan kedua kaki ke atas, katanya bisa membuat cepat menjadi anak yatim piatu.
  • Pamali kalau membuang tulang ikan/ daging sisa makanan malam hari, bisa kedatangan hantu.
  • Pantang membeli jarum malam hari, bisa membawa sial.
  • Jika bepergian menggunakan jalur sungai, pamali membawa telur dan ketan, karena bisa didatangi oleh buaya penunggu sungai.
  • Pantang membawa makanan yang dimasak dari rumah jika melakukan perjalanan darat, katanya akan diikuti oleh hantu/ setan selama perjalanan.

            Mungkin pembaca banyak yang pernah mendengar atau mengetahui pamali/ pantangan yang lain, selain yang sudah diulas di sini. Kisah tentang pamali ini semata-mata hanya untuk mengingat kembali, tradisi leluhur atau nenek moyang yang secara lisan turun temurun disampaikan.

            Kata “pali” atau pamali yang selalu diucapkan oleh orang tua zaman dulu adalah sebagai peringatan atau nasihat untuk anaknya. Apalagi zaman dulu kehidupan di pedesaan.

            Masyarakat sehari-hari dekat dengan alam dan hutan. Oleh karena itu, masyarakat Dayak Ngaju sangat menghormati alamnya.  Jadi jika zaman dulu orang tua menggunakan kata “pali” bukan tanpa alasan. Mengapa selalu dihubungkan dengan akibat yang sangat menakutkan?  Tujuannya adalah agar anak-anak mematuhinya.  Orang tua zaman dulu mungkin belum bisa menjelaskan secara ilmiah.

            Memang ada beberapa yang jika dilanggar, akan benar terjadi. Kita tidak bisa menyangkal karena yang namanya nasihat orang tua, artinya mereka sudah pernah tahu sebelumnya. Pamali atau pantangan yang disampaikan oleh orang tua sebenarnya nasihat yang bagus. Yang membuat anak zaman sekarang sulit menerima adalah, kalimat-kalimat akibat yang akan terjadi.  Karena orang tua menggunakan kalimat yang mengandung bahaya besar jika tidak dipatuhi.

            Seandainya masih ada orang tua zaman sekarang yang menerapkan pamali/ pantangan, tidak salahnya dihormati dan dibicaran dengan baik.  Karena saat orang tua memberi nasihat, itu pertanda mereka sangat peduli pada anaknya. Kalau bisa menjelaskan secara ilmiah, mungkin orang tua pasti akan menjelaskan dengan detail.

            Sekali lagi, ulasan tentang pamali/ pantangan atau mitos ini adalah untuk mengingatkan dan menambah wawasan.  Masalah percaya atau tidak, itu kembali kepada pribadi masing-masing pembaca.  Kita semua memiliki keyakinan, bahwa segala sesuatu yang terjadi dengan perjalanan hidup sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.

Bumi Tambun Bungai, 23 Juni 2020

Penulis, Adalah tenaga Pendidik di SMAN 6 Palangka Raya