Musim Kemarau Tahun 2025 Ini Akan Terjadi Pada Bulan Juni, Juli dan Agustus

Kepala DLH Kabupaten Katingan, Yobie Sandra

Kasongan, Media Dayak

Saat ini curah hujan masih dominan tinggi. Kecuali memasuki bulan Mei 2025 mendatang kian hari semakin menurun. “Pasalnya, di bulan Mei 2025 nanti, merupakan transisi antara musim penghujan ke musim kemarau,” kata kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Katingan Yobie Sandra yang diungkapkannya kepada sejumlah awak media, Kamis (17/4), di ruang kerjanya. 

Meskipun pada bulan Mei 2025 yang akan datang sudah memasuki awal musim kemarau, namun secara garis besar, musim kemarau yang benar-benar kemarau menurut Yobie Sandra, dimulai pada bulan Juni dan berakhir pada akhir Agustus 2025 yang akan datang. “Berdasarkan data tersebut, berarti musim kemarau tahun 2025 ini waktunya agak pendek dari tahun 2024 yang lalu, yaitu hanya sekitar 3 bulan saja, ” terangnya. 

Data ini menurutnya sesuai tupoksi DLH Kabupaten Katingan, sebagai wali data (sumber data) yang didukung dengan peralatan pemantau cuaca yang dipasang di depan halaman kantor DLH setempat. “Kami hanya membuat data saja, sebagai bahan pertimbangan. Sedangkan yang akan mengeksekusinya nanti adalah OPD terkait,” ujarnya. 

Terkait musim kemarau yang akan kita hadapi pada bulan Juni, Juli dan Agustus 2025 yang akan datang, meskipun waktunya agak pendek, namun dirinya mengingatkan kepada kita semua, agar tidak mengabaikan dan menyepelekan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Karena, peluang terjadinya karhutla di musim kemarau dengan waktu yang pendek itu pun, bisa terjadi juga karhutla,” tuturnya 

Selanjutnya, meskipun dalam tempo 1 bulan lagi akan memasuki musim kemarau, namun dalam waktu satu bulan ini jua lah, dirinya meminta kepada seluruh lapisan masyarakat dari wilayah hulu hingga hilir, harus tetap waspada akan datangnya musibah banjir, utamanya bagi masyarakat yang bertempat tinggal di dataran rendah dan yang rentan banjir. 

Masalahnya, lanjutnya, dari 13 Kecamatan yang ada di Kabupaten Katingan ini, semua wilayahnya dari sekarang hingga satu bulan ke depan masih berpeluang turunnya hujan, dengan intensitas yang bervariasi. “Kalau kita perkirakan curah hujan di semua wilayah Kecamatan, rata-rata sekitar 400 milimeter perbulan,” jelasnya, seraya menjelaskan bahwa DLH Kabupaten Katingan bukan penentu hujan, namun hanya sebagai walidata (penyiap data) sebagai bahan pengambilan kebijakan bagi instansi yang berwenang. (Kas/Aw)