Masyarakat Putus Sekolah Didominasi Permasalahan Ekonomi

Hj. Siti Nafsiah
Palangka Raya, Media Dayak
Berbagai ragam keinginan dan harapan masyarakat disampaikan kepada kalangan DPRD Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Sektor yang kerap mendapat perhatian adalah pendidikan di pedesaan yang kerap terkendala Sarana Prasarana (Sarpras) hingga minimnya jumlah guru.
Menurut Wakil Ketua Komisi III, yang membidangi kesejahteraan rakyat (Kesra), meliputi Pendidikan, kesehatan dan kepariwisataa, Hj Siti Nafsiah, usulan semacam itu diserap pihaknya ketika melaksanakan kunjungan kerja dalam daerah belum lama ini.
“Permasalahan seperti ini kerap terjadi diwilayah pelosok, misalnya di Kecamatan Mendawai Kabupaten Katingan, yang mengharapkan jenjang pendidikan dari SD bisa ditingkatkan menjadi SMP satu atap. Mereka menginginkan anaknya melanjutkan ke SMP, karena apabila tanpa adanya itu banyak siswa yang bisa putus sekolah,” ucap Siti Nafsiah, saat dibincangi Mediadayak.id, di Gedung Dewan, jalan S.Parman, Jumat (14/8).
wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (Dapil) I, meliputi Kabupaten Katingan, Gunung Mas dan kota Palangka Raya ini juga megungkapkan, persoalan tidak dilanjutkannya jenjang pendidika, kerap ditemui di pedesaan pinggiran sungai.
Bahkan saat menggelar diskusi bersama masyarakat, persoalan ekonomi masih menjadi mendominasi terutama dalam memaksimalkan pendidikan. Mengingat sampai sekarang, warga yang anaknya menginginkan lanjut ke jenjang SMP, maka harus mengecap pendidikan tersebut ke kecamatan ataupun kabupaten.
Sayangnya, tidak semua dari warga di wilayah tersebut, bisa mewujudkan keinginan melanjutkan pendidikan ke SMP. Pasalnya hanya mereka yang mampu, untuk bisa mewujudkan harapan tersebut. Sementara yang mengalami persoalan ekonomi atau belum mampu, terpaksa harus putus sekolah.
“Kondisi ini yang cukup memprihatikan, maka kita berharap digencarkanya program pendidikan gratis di pedesaan. Ini sangat penting, anak-anak di desa juga memiliki hak dalam mengecap pendidikan,” ujarnya. Selain itu yang juga harus dilihat keinginan serta antuasias anak-anak untuk bersekolah di wilayah itu sangat tinggi.
“Artinya akan sangat disayangkan apabila persoalan semacam ini tidak mendapat tindaklanjuti positif, dalam upaya menunjang pendidikan anak-anak di pelosok pedesaan. Ironisnya keinginan tersebut terkadang kandas bahkan terkendala faktor ekonomi yang mendera sebagian masyarakatnya, dalam memperoleh pendidikan,” pungkas Politisi dari Partai Golongan Karya (Golkar) ini. (Nvd/aw)