Lestarikan Cagar Budaya Rumah Betang Tumbang Gagu

H.Hairis Salamad
Sampit, Media Dayak
Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), H.Hairis Salamad meminta pemerintah daerah untuk memelihara dan melestarikan cagar budaya yang saat ini masih ada terutama rumah betang atau rumah panjang milik suku Dayak di Desa Tumbang Gagu, Kecamatan Antang Kalang.
“Kami meminta pemerintah daerah untuk dapat melestarikan cagar budaya yang ada di daerah ini terutama rumah betang Tumbang Gagu, sehingga menjadi daya tarik para wisatawan untuk berkunjung ke daerah tersebut,” kata Hairis.
Dirinya mengatakan, cagar budaya rumah Betang Tumbang Gagu didirikan suku Dayak yang sudah berumur ratusan tahun itu merupakan aset daerah dan sekaligus sebagai obyek wisata yang perlu di pelihara keberadaannya, seharusnya pemerintah harus konsisten memperhatikan serta mempertahankan kebudayaan lokal yang bersejarah peninggalan nenek moyang.
“Saat saya melakukan kunjungan kesana dan bertemu langsung dengan ahli waris penunggu rumah betang tersebut mereka bersedia menyerahkan rumah betang tersebut sebagai aset daerah, dan mereka berharap pemerintah daerah bisa melakukan pembenahan atau merehap rumah betang tersebut sehingga rumah tersebut bisa dijadikan obyek wisata yang terkenal di Kabupaten Kotim ini,” sampai Hairis.
Politisi Partai Amanat Nasional ini juga mengatakan selain perehapan rumah betang tersebut akses jalan menuju desa tersebut juga harus dilakukan, karena selama ini untuk sampai kedesa tersebut harus meliwati jalur sungai sebab akses jalan darat sampai saat ini belum dapat dilalui oleh kendaraan roda empat.
“Kami juga meminta pemerintah daerah dapat membangun jalan menuju Tumbang Gagu tersebut karena sampai saat ini akses jalan darat menuju ke rumah Betang itu masih belum bisa dilalui dengan kendaraan roda empat dan masih malalui jalur sungai saja,” terang Hairis Salamad.
Dirinya juga menambahkan kalau jalur darat nantinya sudah bagus, maka bisa dipastikan obyek wisata rumah betang Tumbang Gagu akan menjadi perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara, dan berharap agar pemerintah daerah dapat mengalokasikan anggaran khusus untuk pemugaran atau rehabilitasi aset budaya itu. (Em/Lsn)