Kramat Nyai Balau Dibangun di Tewah

Ritual adat Dayak Kaharingan Kalimantan Kalteng balian mampendeng eka tatu hiang atau Kramat Nyai Balau yang dipimpin 6 orang basir.(Media Dayak/Novri JK Handuran)
Kuala Kurun, Media Dayak
Mengenang dan menghargai kepemimpinan dan perjuangan Nyai Balau (pendekar wanita dari Tewah) dalam membela dan melindungi warga desa Tewah dari serangan musuh, keluarga keturunan Nyai Balau menggelar ritual adat Dayak Kaharingan Kalimantan Tengah (Kalteng) balian mampendeng eka tatu hiang (mendirikan tempat leluhur) atau Kramat Nyai Balau.
Ritual adat balian mampendeng eka tatu hiang (kramat) Nyai Balau digelar mulai Jumat (13/03/2020) dan puncak kegiatannya Minggu (15/03/2020). Lokasi kegiatan di lahan salah satu keluarga keturunan Nyai Balau di jalan Perintis, Kelurahan Tewah, Kecamatan Tewah, Kabupaten Gunung Mas (Gumas).
Keluarga keturunan Nyai Balau melalui juru bicaranya, Nobel Frisco A Tungai usai kegiatan kepada Media Dayak mengatakan, tujuan dibangunnya kramat Nyai Balau oleh keluarga-keluarga keturunan Nyai Balau adalah untuk menegaskan kembali kepada masyarakat Tewah, Gumas dan Kalteng umumnya, bahwa Nyai Balau itu benar-benar ada dan pernah hidup dan berjuang demi kepentingan warga desa Tewah kala itu.
“Adanya tempat sakral ini (kramat) dan juga benda-benda pusaka peninggalan Nyai Balau, kami (keluarga keturunan Nyai Balau) khususnya, dan masyarakat Tewah, Gunung Mas dan Kalteng umumnya, akan selalu mengingat bahwa Nyai Balau pernah hidup di Tewah ini, berjuang membela warga desa Tewah saat itu dari musuh-musuh yang ada,” kata Joe panggilan karib Nobel Frisco A Tungai.

Keluarga keturunan Nyai Balau saat menanam kepala sapi di bawah kramat Nyai Balau.(Media Dayak/Novri JK Handuran)
“Kramat ini juga dapat sebagai tempat kami, masyarakat Tewah, Gunung Mas dan Kalteng umumnya untuk bersyukur kepada leluhur dan dapat juga memohon dukungan hal-hal baik dari leluhur,” sambung Joe.
Menurut Joe, pembangunan kramat Nyai Balau dengan prosesi ritual yang mengiringinya hari pertama hingga berakhir dilakukan 6 orang basir.
“Hewan yang dikorbankan pada ritual ini yakni sapi, babi dan ayam. Tidak hanya keluarga keturunan Nyai Balau yang hadir, warga Tewah bahkan dari luar Tewah pun menyaksikan kegiatan hari pertama hingga terakhir,” ujar Joe.
Yola Asmiranda, salah satu generasi muda dari keluarga keturunan Nyai Balau menegaskan bahwa Nyai Balau itu benar ada.
“Ratusan tahun silam, Nyai Balau hidup, memiliki suami dan anak. Nyai Balau berjuang membela warga desa Tewah saat itu dari musuh-musuh yang ada. Kesaktian Nyai Balau membuatnya ditakuti dan disegani lawan maupun kawan. Selain kecantikannya, Nyai Balau juga pendekar yang berperangai baik, dia sopan dalam tutur kata dan santun dalam perilakunya,” jelas Yola didampingi keluarga lainnya.
Dengan dibangunnya kramat Nyai Balau, Yola berharap generasi muda Tewah, Gumas dan Kalteng umumnya dapat mengenal Nyai Balau, pendekar wanita yang ratusan tahun silam pernah hidup di desa Tewah dan membela harkat dan martabat warga desa Tewah kala itu.
“Ini (kramat) bagian dari adat dan budaya yang harus dilestarikan. Zaman boleh maju, tapi adat dan budaya tetap tidak boleh tergerus,” tegas Yola.(Nov)