Kabar Gembira, Prevalensi Stunting di Gumas 12,9 Persen

Fokus Group Discussion dalam Rangka Kajian Faktor Sosio-Ekonomi dan Demografi Serta Dukungan Pemerintah Daerah pada Keluarga dengan Balita Stunting di Aula Bapperida, Jumat (14/6). (Media Dayak/Ist)

Kuala Kurun, Media Dayak

Bacaan Lainnya

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) sumber Kementrian Kesehatan tahun 2023, prevalensi stunting Indonesia sebesar 21,5 persen, Kalimantan Tengah (Kalteng) 23,5 persen dan Kabupaten Gunung Mas (Gumas) 12,9 persen.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Gumas Yantrio Aulia membacakan sambutan Sekretaris Daerah (Sekda) Gumas Richard pada kegiatan Fokus Group Discussion (FGD) dalam Rangka Kajian Faktor Sosio-Ekonomi dan Demografi Serta Dukungan Pemerintah Daerah pada Keluarga dengan Balita Stunting di Aula Bapperida, Jumat (14/6).

“Upaya percepatan penurunan stunting diarahkan untuk target prevalensi Indonesia, Kalimantan Tengah dan Kabupaten Gunung Mas,”ujar Incha,sapaan akrabnya.

Menurutnya, Kabupaten Gumas cukup berbangga.Dengan kerja keras selama ini data prevalensi stunting Kabupaten Gumas terendah dibanding angka nasional dan provinsi.

“Upaya yang kita lakukan selama ini bukan semata tentang penurunan angka prevalensi,melainkan juga tentang meningkatkan kualitas sumber daya manusia,”sebut dia.

“Upaya yang kita lakukan dalam penurunan stunting akan menentukan mutu generasi penerus bangsa, yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan dan pembangunan Kabupaten Gunung Mas di masa depan,”tandasnya.

Incha menegaskan,dengan mempertimbangkan kerja keras, kerja cerdas dan kerja kolaboratif yang selama ini didorong, Pemkab Gumas berharap tren penurunan stunting juga akan berlanjut pada tahun yang akan datang.

“Kepala instansi/dinas, kolaborasi yang telah ada dengan para camat,kepala desa dan lurah akan lebih lagi ditingkatkan untuk koordinasi dan kolaborasi pelaksanaan program penurunan stunting di lingkup kewenangannya,” harap Incha.

Dia berharap kajian yang dilakukan tim peneliti dari institusi pendidikan Poltekes Palangka Raya dapat memberikan gambaran apa saja hal-hal yang selama ini terlewatkan dan belum optimal yang dilaksanakan sehingga menjadi bahan masukan untuk kebijakan lebih lanjut.

Ketua tim peneliti Poltekes Palangka Raya Nila Susanti pada sambutannya menyampaikan stunting merupakan masalah kesehatan yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang komprehensif dari berbagai aspek, termasuk aspek sosio-ekonomi, demografi dan dukungan pemerintah.

“Melalui diskusi ini, para peserta dapat saling berbagi pengalaman, pengetahuan dan ide-ide inovatif untuk meningkatkan pemahaman

dan upaya dalam penanggulangan stunting di Indonesia khususnya di Kabupaten Gunung Mas,” ucapnya.

Ia berujar, mari kita bersama-sama mencari solusi terbaik untuk memberikan perlindungan dan perhatian yang lebih baik kepada balita yang mengalami stunting, serta mendukung keluarga-keluarga yang membutuhkan bantuan. (Nov/Aw)

image_print
Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait