Jangan Sekedar Seremoni! Bupati Jaya Minta Satgas Karhutla Bergerak Cepat, Targetkan Gumas Bebas Asap 2026

Bupati Gumas Jaya Samaya Monong bersama unsur Forkopimda melakukan pengecekan dan percobaan langsung kesiapan peralatan pendukung pemadaman karhutla yang akan menjadi garda terdepan dalam menghadapi musim kemarau 2026. (Media Dayak/Novri J H)
Kuala Kurun,Media Dayak
Pemerintah Kabupaten Gunung Mas (Pemkab Gumas) menegaskan komitmennya menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga akhir September 2026. Komitmen tersebut ditandai dengan pelaksanaan Apel Gelar Pasukan dan Pengecekan Sarana Prasarana Siaga Bencana Karhutla di Halaman Kantor Bupati Gunung Mas, Rabu (22/7/2026) pagi.
Apel dipimpin langsung Bupati Gumas Jaya Samaya Monong, didampingi Sekretaris Daerah Richard, Dandim 1018/Gunung Mas Letkol Arm Danang Wahyu Utomo, Kapolres Gunung Mas AKBP Arum Sari Puspita Dewi, Kajari Gunung Mas Nugroho Wisnu Pujoyono, Ketua Pengadilan Negeri Kuala Kurun Kelas II Galih Bawono, Kalaksa BPBD Gumas, Karya, Korwil BINDA wilayah Gumas Huge, para kepala perangkat daerah, Plt Camat Kurun, serta unsur TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar, Tagana, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Dalam amanatnya, Bupati Jaya menegaskan bahwa apel tersebut bukan sekedar agenda rutin tahunan, melainkan langkah strategis untuk memastikan seluruh personel, peralatan, serta sistem koordinasi benar-benar siap menghadapi potensi bencana karhutla.
Menurutnya, kesiapsiagaan seluruh unsur yang tergabung dalam Satgas Karhutla menjadi kunci utama agar penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi ketika terjadi kebakaran.
“Apel ini bertujuan memastikan Kabupaten Gunung Mas benar-benar siap menghadapi ancaman karhutla. Seluruh instansi dan stakeholder harus memastikan kesiapan personel, sarana, prasarana, hingga sumber daya yang dimiliki agar mampu bergerak cepat ketika dibutuhkan,” tegas Jaya.
Ia meminta seluruh unsur, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Dinas Pemadam Kebakaran, Tagana hingga relawan Masyarakat Peduli Api terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi di lapangan.
“Seluruh pihak harus saling bahu-membahu dalam upaya pencegahan maupun penanggulangan karhutla. Target kita jelas, mewujudkan Kabupaten Gunung Mas bebas asap pada tahun 2026 ini dengan mengedepankan langkah-langkah pencegahan,” ujarnya.
Bupati juga mengingatkan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Gumas akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026, sehingga seluruh jajaran diminta meningkatkan kewaspadaan sejak dini.
Data yang dipaparkan menunjukkan ancaman tersebut tidak bisa dianggap remeh. Dalam kurun tujuh bulan terakhir, tercatat 242 titik panas (hotspot) dengan estimasi luas lahan terbakar mencapai 121 hektare.
Angka tersebut, kata Jaya, menjadi peringatan serius agar seluruh pihak tidak lengah menghadapi potensi meningkatnya kebakaran pada musim kemarau.
Ia menegaskan bahwa apel kesiapsiagaan harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan personel, peralatan, hingga strategi penanganan di lapangan.
“Apel ini bukan sekedar seremoni. Yang terpenting adalah memastikan seluruh alat, perangkat, dan personel benar-benar siap menghadapi kemungkinan eskalasi karhutla dalam beberapa minggu hingga akhir September nanti,” tegas Jaya denganĀ suara lantang.
Jaya menekankan bahwa prioritas utama pemerintah adalah mencegah terjadinya kebakaran. Namun apabila kebakaran mulai muncul, tindakan cepat menjadi faktor penentu agar api tidak meluas.
“Satgas darat harus segera melakukan pemadaman ketika api baru muncul. Jangan sampai kebakaran berkembang menjadi lebih luas karena penanganannya akan jauh lebih sulit. Pencegahan dan respons cepat adalah kunci utama,” tandasnya.
Untuk memperkuat upaya mitigasi,Jaya menginstruksikan seluruh instansi terkait agar terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya karhutla, meningkatkan patroli rutin, memetakan wilayah rawan kebakaran, memasang spanduk imbauan larangan membakar hutan dan lahan, serta mendirikan pos komando di daerah-daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Ia menegaskan, sinergi lintas sektor harus terus diperkuat agar potensi karhutla dapat ditekan semaksimal mungkin, sehingga kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan akibat kabut asap, serta dampak ekonomi yang selama ini ditimbulkan dapat dicegah.
“Kita ingin hutan tetap lestari, lingkungan tetap terjaga, dan masyarakat terlindungi. Pencegahan karhutla bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama demi masa depan Gunung Mas dan Indonesia,”pungkasnya.
Usai apel, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan pasukan oleh Bupati Gumas bersama unsur Forkopimda, serta pengecekan langsung kesiapan kendaraan, peralatan, dan sarana-prasarana pendukung pemadaman karhutla yang akan menjadi garda terdepan dalam menghadapi musim kemarau 2026.(Nov/Lsn)