IMS Harus Di Cegah

Pembukaan seminar akhir pencegahan IMS oleh Wakil Wali Kota Palangka Raya, Hj Umi Mastikah, selasa (19/11) lalu. (Media Dayak/Darmawanto)

Palangka Raya, Media Dayak

Wakil Wali Kota Palangka Raya, Hj. Umi Mastikah membuka seminar akhir kajian pengembangan model pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang diselenggarakan oleh Balitbang Kota Palangka Raya.

IMS terjadi bila seseorang sering melakukan hubungan dengan berganti-ganti pasangan dan untuk mencegah penyebaran penularannya, maka harus memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait bahaya IMS.

Seminar yang diselenggarakan di ruang rapat PK 1 diikuti oleh perwakilan puskesmas di kota Palangka Raya dengan nara sumber dari STIKES Palangka Raya, Suryagustina, Selasa (19/11).

Dalam sambutan Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin yang dibacakan Wawali Hj.Umi Mastikah mengatakan Kota Palangka Raya adalah sebuah kota yang mempunyai tiga (3) wajah yaitu perkotaan, pedesaan dan wajah hutan. Cakupan luasan wilayah mencapai 2.000 lebih memberikan tantangan tersendiri dalam membangun kota.

Selain tantangan dalam pembangunan, juga dihadapkan dengan bagaimana mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu menghadapi perkembangan, perubahan dan tekhnologi yang terjadi di sekitar masyarakat.

Penelitian yang dilakukan merupakan entry point suatu program pembangunan yang sistematis dan terencana serta merupakan bagian yang strategis. Oleh itu penelitian yang dilakukan oleh kelitbangan harus solutif terhadap masalah yang berkembang dan dimanfaatkan sebagai masukan dalam perumusan program pemerintah.

Kasus IMS merupakan salah satu pintu masuk atau tanda-tanda adanya kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acqurie Symdrome (AIDS) di negara secara umum dan kasus IMS adalah masalah global dan terus-menerus meningkat, ujarnya.

Dengan adanya kajian pengembangan model pencegahan IMS ini diharapkan mengetahui efektivitas pengembangan pencegahan IMS di Kota Palangka Raya dan masyarakat, tutupnya.  

Sementara itu menurut Umi, bahwa saat ini yang perlu pencegahan penyebaran melalui tekhnologi dan media sosial, karena bagi yang ‘melek’ (tahu) dan paham serta tidak ‘gatek’, bisa menjadi sumber penyebaran IMS, ucapnya.

“Yang diwaspadai saat ini adalah penyebaran lewat media sosial, bagi yang tak paham tekhnologi masih bisa di pantau tapi mana ada jaman sekarang tidak paham tekhnologi. Paling tidak mereka paham memakainya, nach inilah yang perlu diawasi penyebarannya,” terangnya.

Lanjutnya lagi dengan adanya seminar ini, maka puskesmas yang ada akan dapat mengetahui bagaimana penanganannya dan cara mencegahnya.(Dmt/Lsn)