Gereja di Garda Depan Pendidikan Gumas, Lawan Narkoba, Bentengi Generasi, dan Pastikan Anak Tak Putus Sekolah

Ketua Majelis Jemaat GKE Sion Kuala Kurun, Pdt. Sri Apedensi, S.Th.(Media Dayak/Novri JK Handuran)

Kuala Kurun, Media Dayak

Peran gereja dalam pembangunan pendidikan di Kabupaten Gunung Mas (Gumas) bukan sekedar pelengkap, melainkan menjadi salah satu pilar penting yang terus bergerak di akar rumput. Hal ini ditegaskan Ketua Majelis Jemaat GKE Sion Kuala Kurun, Pdt. Sri Apedensi, S.Th, yang menilai bahwa gereja memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk karakter dan masa depan generasi muda.

Menurut Sri, kontribusi gereja dimulai dari hal paling mendasar, yakni pembinaan rohani yang konsisten kepada jemaat melalui penyampaian Firman Tuhan. Upaya ini bukan hanya bersifat ritual,tapi diarahkan untuk membangun pemahaman iman yang kuat, sehingga jemaat,khususnya generasi muda,memiliki fondasi moral yang kokoh dalam menjalani kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan.

Namun, jalan tersebut tidak selalu mulus. Sri mengakui bahwa tantangan terbesar gereja saat ini adalah membangkitkan keterpanggilan anak muda untuk aktif dalam kegiatan rohani. Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, minat generasi muda terhadap aktivitas keagamaan cenderung mengalami penurunan.

“Ini menjadi pekerjaan besar bagi gereja, bagaimana menghadirkan pendekatan yang relevan dan menarik, agar mereka merasa memiliki dan mencintai persekutuan,” ujarnya saat dibincangi mediadayak.id, Senin (4/5/2026).

Di sisi lain, menurut Sri, peran gereja dalam mendukung program Pemerintah Kabupaten Gunung Mas dinilai sangat signifikan. Gereja tidak berjalan sendiri, melainkan menyelaraskan programnya dengan kebijakan pemerintah, khususnya dalam sektor pendidikan. Sinergi ini diwujudkan dengan memasukkan agenda-agenda pembangunan pendidikan ke dalam program kerja gereja.

Lebih jauh, Sri yang dikenal tegas itu, menegaskan bahwa Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) selama ini konsisten mengusung konsep gereja ramah anak. Salah satu implementasi nyata adalah komitmen untuk mendorong anak-anak jemaat agar tidak putus sekolah. Nilai ini terus ditanamkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menciptakan generasi yang cerdas dan berdaya saing.

Namun, ancaman nyata tetap membayangi generasi muda di Gumas. Sri secara tegas menyebut narkoba dan pergaulan bebas sebagai dua tantangan serius yang harus dihadapi bersama. Menurutnya, gereja tidak boleh tinggal diam, melainkan harus proaktif menciptakan metode pelayanan yang lebih kreatif, khususnya dalam ibadah remaja dan pemuda.

“Gereja harus mampu bertransformasi, menghadirkan ruang yang bukan hanya mendidik secara rohani, tetapi juga menjadi tempat yang dirindukan oleh anak muda,” tegas Sri.

Dengan peran yang terus diperkuat, Sri menandaskan gereja diharapkan tidak hanya menjadi pusat pembinaan iman, tapi juga benteng moral dan motor penggerak pendidikan di Gumas, menjaga generasi dari ancaman, sekaligus mengarahkan mereka menuju masa depan yang lebih cerah.(Nov/Aw)