Disdik Harus Punya Inovasi Selain BTP

Gimmak Bulingan S Sos, anggota DPRD Kabupaten Katingan.(Media Dayak/Ist)
 
Kasongan, Media Dayak 
 

Kalau di situasi pandemi covid-19 yang kian meningkat saat ini semua sekolah tidak bisa melaksanakan Belajar Tatap Muka (BTP). Dengan demikian Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Katingan harusnya punya inovasi lain selain BTP. Demikian yang diungkapkan Gimmak Bulingan, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Katingan kepada sejumlah media, Jum’at pagi (9/7/2021) tadi, via telpon selulernya.
Sebab, para orang tua di Kabupaten Katingan, khususnya yang bertempat tinggal di sejumlah wilayah kecamatan bagian hulu Katingan, terdapat puluhan desa, yang tidak terjangkau jaringan internet. “Sehingga, jika pelaksanaan proses belajar mengajar melalui darring, bukan hanya tidak efektif lagi, tapi memang tidak bisa sama sekali,” ujar Gimmak.
Kalau dari orang tua (wali murid) di sejumlah desa bagian hulu, saat sekolah berencana membuka BTP yang dimulai pada tahun ajaran 2021/2022, mereka tadinya mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Pemkab Katingan dan Disdik setempat. “Sebab, selama lebih satu tahun ajaran ini selama itu pula, anak didik baik yang jenjang sekolahnya di SD maupun di SMP nyaris tidak ada yang membuka-buka buku pelajarannya,” ujarnya.
Hal ini menurutnya, belajar dengan sistem darring, jaringannya tidak terjangkau, sedangkan BTP sudah jelas tidak diperbolehkan. “Oleh karena kelamaan tidak mengikuti proses belajar mengajar, bagaimana nasib SDM anak bangsa kita yang di bagian hulu Katingan ini,” tanya anggota dewan asal dapil Katingan III yang meliputi wilayah kecamatan Katingan Tengah hingga Bukit Raya ini.
Menjawab pertanyaan media, dirinya menyebutkan sejumlah sekolah yang ada di desa-desa kecamatan Bukit Raya, kecamatan Katingan Hulu dan di kecamatan Petak Malai, serta sebagian desa di kecamatan Sanaman Mantikei dan Katingan Tengah, yang belum memiliki jaringan internet, sehingga mereka sebagian besar tidak bisa mengikuti proses belajar mengajar. 
Kesimpulannya, jika lewat darring tidak bisa dan dengan sistem BTP juga masih ditunda sampai kapan waktunya, dirinya mencoba untuk menawarkan solusi lainnya. Bagaimana kalau para gurunya di masing-masing bidang memberikan beberapa buku kepada masing-masing siswanya ke rumah siswanya, untuk dibaca dan dipelajari. Sepekan kemudian, siswa tersebut diberi soal yang harus dijawab oleh siswa tersebut. “Sehingga mereka selalu berada di rumah untuk memperhatikan sekolahnya, terkecuali hari libur,” saran legislator PDI Perjuangan ini. (Kas/ Lsn)