Desa Malawaken selama 25 tahun tak Nikmati Penerangan Listrik

WARGA MALAWAKEN III-Warga Malawaken III hanya bisa sabar dan menunggu, kapan jaringan listrik dari PLN bisa masuk ke wilayah mereka.(Media Dayak: Diskominfosandi Barut)

Muara Teweh, Media Dayak

       Selama 25 tahun tepatnya tahun 1994 hingga kini, desa Malawaken, kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara (Barut) tidak pernah menikmati penerangan lampu listrik dari PLN. Padahal sudah mengusulkan jaringan listrik ke wilayah mereka. Di desa ini hanya dihuni sekitar 200 Kepala Keluarga (KK), mereka hanya pasrah, saat malam tiba desa ini terlihat gelap gulita.

 Padahal jarak wilayah ini dengan ibukota kabupaten Barito Utara, hanya sekitar 40 km atau ditempuh perjalanan 45 menit. Malawaken III merupakan bagian dari desa Malawaken, biasa disebut juga Malawaken Luar, berada di jalur strategis jalan negara Muara Teweh-Simpang Jingah-Benangin-Lampeong-Batas Kaltim, tepatnya mulai dari Km 1 sampai dengan Km 24.

Warga RT 08, Tampung Bungo, Malawaken III, Memey membeberkan, warga setempat belum menikmati aliran listrik sejak Dusun Malawaken III dibuka sekitar era 1994-an.

“Warga hanya mengandalkan lampu tempel (lampu teplok) atau bagi yang punya uang memasang listrik tenaga surya. Memasang listrik tenaga surya pakai uang sendiri, harga alatnya Rp2,2 juta, ada yang lebih murah dan lebih mahal, tergantung daya,” ujar wanita yang sering disapa Mama Reza ini.

Warga RT 08 lainnya bernama Kasrini mengatakan, berkali-kali usulan disampaikan kepada pemerintah maupun pihak PLN, namun belum ada realisasi pemasangan listrik. Wilayah yang belum mendapatkan pelayanan listrik adalah RT 05, 06, 07, dan 08 di Malawaken.

Sedangkan warga Malawaken I (Teluk Mayang) dan Malawaken II (Dalam) di RT 01, 02, 03, dan 04 yang berada di pinggir Sungai Barito sudah lama menikmati listrik.

Ketua RT 08 Kampung Tampung Bungo, Mihin membenarkan bahwa warga di RT ini berjumlah sekitar 56 KK sudah tiga kali mengusulkan pemasangan jaringan listrik kepada PLN.

“Pertama kami mengusulkan pada tahun 2015, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjut sampai tahun 2019,” kata Mihin.

Akibat tidak ada aliran listrik, pekerjaan merekap hasil ulangan dan kegiatan SDN 8 Malawaken harus diselesaikan di Muara Teweh, meskipun sekolah sudah mempunyai komputer.

“Jalur jalan negara ini tembus sampai ke jalan masuk desa Sabuh, Liang Naga, Panaen, Gandring, dan Liang Buah Naga, sampai ke kecamatan Teweh Timur dan Gunung Purei. Semua daerah ini perlu listrik,” kata Mihin lagi.

Warga bernama Sri Utari mengatakan, sejak 2017 dirinya mengajukan pemasangan aliran listrik untuk rumah pribadi. Lalu disusul dengan daftar nama warga dari Km 01 sampai dengan Km 04 ke PLN Muara Teweh. Tetapi tidak ada tanggapan.

“Saya selalu diminta bersabar dan tunggu, sehingga saya kembali ajukan ke PLN Cabang Kuala Kapuas. Eh, malah saya kena marah dari pihak terkait,” sebut wanita yang juga ASN guru ini. (lna)