Data Covid-19 Berbeda-Beda, Ini Penyebabnya

Wakil Bupati Mura, Rejikinoor. S,Sos didampingi Sekda Mura Drs. Hermon, M.Si saat pers rilis kasus Covid-19.(Media Dayak/Lulus Riadi)

Puruk Cahu, Media Dayak
 
Wakil Ketua Umum Satgas Covid-19 Kabupaten Murung Raya (Mura), Rejikinoor, mengatakan penyebab data kasus Covid-19 di Murung Raya kerap berbeda dengan yang diumumkan Satgas Covid-19 Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Seperti yang terjadi pada Selasa 17 Agustus kemarin, data sebaran pasien Covid-19 Provinsi Kalteng yang mengejutkan dan menjadi pertanyaan dari seluruh kalangan masyarakat terkait dengan penambahan pasien Covid-19 sebanyak 266 orang di Kabupaten Mura. Padahal nyatanya, catatan Satgas penambahan kasus hanya 33 warga terkonfirmasi positif, bukan 266 orang.

“Data kita yang sebenarnya untuk jumlah kasus penambahan 33 orang dengan total jumlah positif sebanyak 174 pasien, sedangkan yang telah sembuh 9 orang dengan total kesembuhan sebanyak 2017 dan yang meninggal dunia bertambah 1 pasien dengan total 35 pasien. Sehingga jumlah keseluruhan kasus hingga saat ini sebanyak 2225 kasus Covid-19,” ujar Rejikinoor didampingi Sekda saat pers release di Aula Gedung A Setda Mura, Selasa malam (17/8/2021).

Apaun rincian pasien yang terkonfirmasi positif yakni untuk Kecamatan Murung 120 pasien, Kecamatan Laung Tuhup 19 pasien, Kecamatan Tanah Siang 18 pasien, Kecamatan Tanah Siang Selatan 7 pasien, Kecamatan Sumber Barito 1 pasien, Kecamatan Barito Tuhup Raya 1 pasien, Kecamatan Seribu Riam 1 pasien, Kecamatan Permata Intan 2 pasien, Kecamatan Sungai Babuat 1 pasien, Kecamatan Uut Murung 1 pasien.

Atas permasalahan data tersebut, Wakil Bupati Mura meminta agar Dinas Kesehatan (Dinkes) Mura segera melakukan sinkronisasi terhadap data sebaran ini agar tidak ada tumpukan data yang masuk kepada Satgas Covid-19 Provinsi Kalteng dengan berkoordinasi dengan baik.

Kemudian, Rejikinoor berikan jawaban terkait dengan kasus meninggal dunia yang mengalami peningkatan bahwa ada beberapa tudingan yang disampaikan terkait tingginya angka meninggal karena kekurangan oksigen.

“Kami pastikan itu tidak benar, Satgas Covid-19 di Mura terus berupaya memberikan penanganan terbaik, tingginya kasus meninggal disebabkan ketika adanya pasien yang sudah mengalami gejala berat baru dibawa ke RSUD Puruk Cahu,” tutupnya.

Sementara Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Mura, Suwirman Hutagalong menyampaikan perbedaan data tersebut ketika yang dilaporkan pihak Satgas Mura tidak terinput di Satgas Provinsi Kalteng.

“Permasalahan yang terjadi ketika kita tidak bisa menginput data ke all record, yang boleh hanya pihak laboraturium Doris Sylpanus atas data-data terkonfirmasi yang ada di Kalteng,” beber Suwirman.

Ia mengakui bahwa perbedaan data terjadi selama dua bulan lebih terakhir, hal ini sudah sering mereka sampaikan ke pihak Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng.

“Sejak awal kita khawatir terjadinya data yang membengkak, buktinya sekarang terjadi. Data yang disampaikan ini bentuk komulatif yang terjadi sejak tahun 2020 lalu, terutama data dari karyawan perusahaan yang tidak terkonfirmasi ke pihaknya,” pungkasnya.(Lus/Lsn)