KOLAM IKAN-Anggota Komisi II DPRD dan Kepala Dinas Perikanan Tabalong saat melakukan peninjauan kolam ikan milik Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan, saat melakukan kunjungan kerja di daerah setempat, Rabu (8/12).(Media Dayak:Lana)
Muara Teweh, Media Dayak
Saat melaksanakan kunjungan kerja (kunker) ke Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Barito Utara (KPP Barut) anggota Komisi II DPRD Kabupaten Tabalong disuguhkan makanan olahan yang terbuat dari bahan ikan patin.
Olahan makanan atau cemilan yang di cicipi oleh anggota dewan Kabupaten Tabalong beserta staf ini terbuat dari ikan patin diantaranya nugget patin dan pentol patin.
Kadis DKPP Ir Sugeng mengatakan anggota DPRD Tabalong sangat mengapresiasi dengan adanya makanan-makanan tambahan yang bisa dibuat dari ikan lokal terutama pentol dan nugget yang berasal dari ikan patin.
“Ini bisa menambah penghasilan dari pada pengelolaan budidaya perikanan kita, bukan hanya ikan saja yang di jual tetapi dalam bentuk lain untuk komoditi-komoditi unggulan daerah kita,” katanya. Rabu (8/12).
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Tabalong Hj Sumiati mengatakan, disamping pengembangan budidaya ikan lokal, juga ikan yang dipelihara oleh petani nantinya dapat dikembangkan menjadi olahan ikan. “Olahan ikan ini natinya nilai jualnya dapat lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Oleh karena itu Komisi II DPRD Kabupaten Tabalong melaksanakan kunjungan kerja ke Kabupaten Barito Utara ini, sebagaimana nantinya ikan yang dihasilkan oleh petani tidak hanya dijual dalam bentuk ikan segar, tetapi juga diolah agar memiliki nilai ekonomis yang tinggi. “Misalnya dibuat pentolan ikan dan juga dibuatkan nugget,” ujarnya.
Dikatakannya, disaat promosi dengan olahan ikan ini dapat mengandeng dan bekerja sama dengan Disperindak, Koperasi dan UMKM agar mempromosikan bahwa masyarakat tidak lagi membeli makanan berbentuk kemasan yang menggunakan bahan pengawet.
“Oleh karena itu makan yang beragam dan bergizi berimbang dan aman ini yang harus kita sosialisasikan ke masyarakat bagaimana makan itu memenuhi syarat,” katanya.
Dikatakannya, makan yang disuguhkan tadi hanya dapat bertahan selama beberapa hari dengan artian dalam pengawetannya itu tidak digunakan. “Ini apa, yang pertama adalah untuk mengatasi stunting, ada beberapa hal yang tidak dapat kita konsumsi dan harus dibatasi dalam tubuh kita terutama penggunaan zat pengawet dan zat pewarna,” ungkapnya.
Kepala Dinas Perikanan kabupaten Tabalong Muhammad Mugeni mengatakan, ada beberapa yang dapat diambil contoh diantaranya, yakni pengelolaan dalam kelompok, program bantuan sosial, dan ada beberapa yang akan kita tindak lanjuti di Tabalong adalah dalam pengembangan ikan nila dan ikan mas.
“Karena daerah Tabalong dan sekitarnya untuk pembudiyadaan keramba ikan nila dan ikan mas itu dengan setengah stagnan dengan adanya wabah Coy Harvis virus yang berawal dari 2004 sampai sekarang,” katanya.
Wabah Coy Harvis Virus ini adalah penyakit yang menyerang pada insang ikan nila dan ikan mas. “Karena apabila sudah terserang maka ikan akan mati serempak, maka itu merugikan para petani ikan di keramba,” ungkapnya.
Dia menambahkan, Dinas Perikanan Kabupaten Tabalong akan bekerjasama dengan Dinas KPP Kabupaten Barito Utara untuk ikan gurami (kalui), karena ikan gurami ini adalah salah satu ikan lokal Kalimantan pada umumnya dan sekarang sudah mulai digemari oleh masyarakat dan mudah di pelihara.
“Kerja sama yang lain nantinya kita akan mencari idukan ikan lokal seperti pipih dan ikan tapah karena ikan tersebut juga digemari oleh masyarakat kita orang Banjar untuk di Pais,” tukasnya. (lna/Aw)













