Agustus 2019, Kalteng Inflasi 0,29 Persen

Wakil Ketua Harian TPID Kalteng, Setian (kanan) didampingi Kepala Biro Administrasi Ekonomi Setda Provinsi Kalteng, Lubis Rada Inin yang mewakili Asisten II Setda Provinsi Kalteng, Nurul Edy saat gelar Press Release TPID di ruang rapat  Setda Kalteng, kantor Gubernur Kalteng, Selasa (3/9). (Media Dayak/Yanting).

Palangka Raya, Media Dayak

      Pada Agustus 2019 Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami deflasi 0,29 persen month to month (mtm) sedikit lebih dalam dari Juli 2019 yang mengalami deflasi 0,25 persen mtm. Kelompok administered price dan volatile food menjadi kelompok penyumbang deflasi di Kalteng.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Harian Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalteng, Setian didampingi Kepala Biro Administrasi Ekonomi Setda Provinsi Kalteng, Lubis Rada Inin mewakili Asisten II Nurul Edy Setda Provinsi Kalteng, saat gelar Press Release TPID, di ruang rapat Setda Kalteng, kantor Gubernur Kalteng, Selasa (3/9).

Disampaikan, Inflasi bulanan pada Agustus 2019 Kalteng mengalami deflasi sebesar 0,29 persen (mtm) sedikit lebih dalam dibandingkan Juli 2019 yang mengalami deflasi sebesar 0,25 (mtm). Menurut pihaknya capaian ini lebih rendah dibandingkan capaian pada bulan Agustus 2018 yang tercatat mengalami inflasi sebesar 0,02 persen (mtm).

“Capaian inflasi Kalteng juga lebih rendah dibandingkan dengan nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,12 persen (mtm), deflasi Agustus 2019 disebabkan oleh kelompok harga yang ditetapkan pemerintah dan harga bergejolak,” ujarnya.

Secara spesial, IHK di Palangka Raya pada Agustus 2019 tercatat deflasi sebesar 0,37 persen (mtm), sedangkan Sampit tercatat deflasi sebesar 0,15 persen (mtm) atau lebih rendah dibandingkan Juli 2019 yang mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,24 persen dan 0,26 persen (mtm).

Pihaknya menyebut, pada bulan Agustus 2019 sebagian besar kota sampel inflasi di pulau Kalimantan mengalami deflasi, “Kota Sampit dan kota Palangka Raya mengalami deflasi yang cukup dalam. Deflasi di Kalteng merupakan yang tertinggi ke-3 se-Kalimantan,” bebernya.

Wakil Ketua TPID Kalteng juga menyebutkan prospek kedepan yang akan di perhatikan oleh pihaknya adalah, komoditas angkutan udara perlu dipantau dalam sebulan kedepan mempertimbangkan kebijakan jangka panjang tiket pesawat terbang yang akan dirilis bulan September 2019.

Isu kenaikan iuran BPJS juga ditenggarai dapat mempengaruhi tekanan inflasi ke depan. Selain itu, terindikasi tren kenaikan harga emas dunia akibat ketidakpastian ekonomi global dan harga emas diprediksi tetap mengalami kenaikan harga selama beberapa bulan ke depan.

“Musim kemarau yang diprediksi akan berlangsung hingga bulan Oktober akan cukup mempengaruhi produksi bahan pangan di Sentra produksi,” katanya.

Adapun beberapa komoditas yang perlu diperhatikan selama sebulan ke depan adalah cabe rawit yang harganya masih belum turun, meskipun harga cabe lain sudah mulai turun kemudian. Komoditas bawang putih yang perlu pemantauan selama 1 bulan ke depan mengingat harganya mulai sedikit naik meskipun belum tentu terlalu signifikan.

Pasokan elpiji hingga akhir tahun 2019 terpantau aman dan tercatat sebanyak 46.526 megaton elpiji 3 kg untuk distribusi ke seluruh Kalteng. sedangkan kelanjutan dari program penyaluran LPG oleh Bumdes masih berproses di Pertamina.

“Ketersediaan stok beras CBP/PSO di gudang Bulog tercatat sebanyak 8000 Ton dan cukup untuk kebutuhan 8 bulan kedepan stok barang lainnya juga aman,” terang Setian.(YM)