32 Tahun Pengabdian Hardeman Berakhir di Purnatugas, Jejak Sunyi Sang Penjaga Keuangan Gunung Mas!

Kepala BKAD Gunung Mas Hardeman diwawancara mediadayak.id.(Media Dayak/Ist)

Kuala Kurun, Media Dayak

Langit pengabdian itu akhirnya sampai di ufuk senja. Kamis (30/4/2026), menjadi hari terakhir Hardeman mengenakan atribut Aparatur Sipil Negara (ASN). Tepat sehari berselang, Jumat (1/5/2026), Kepala BKAD Kabupaten Gunung Mas itu resmi memasuki masa purnatugas (pensiun), menutup perjalanan panjang lebih dari tiga dekade dalam dunia birokrasi.

“Ya benar, hari ini terakhir saya sebagai ASN. Besok Jumat (1/5/2026) saya sudah pensiun,” ucapnya tenang, namun sarat makna saat diwawancara mediadayak.id, Kamis (30/4/2026) di ruang kerjanya. Kalimat sederhana itu menyimpan jejak panjang pengabdian sejak 1 Maret 1994, sebuah perjalanan yang dimulai dari status CPNS di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), tepatnya di Kecamatan Dusun Hilir.

Lahir 6 April 1966 di Desa Tumbang Lapan, Kecamatan Rungan (kini Rungan Hulu), Hardeman bukan sekedar saksi sejarah birokrasi, ia adalah bagian dari denyut perubahan itu sendiri. Dari era Orde Baru yang serba sentralistik, bergeser ke euforia reformasi yang penuh dinamika, hingga kini memasuki zaman digital yang serba cepat dan transparan.

“Dulu kami kerja pakai mesin tik. Kalau mau gandakan dokumen, pakai stensil. Sekarang semua sudah digital. Itu perubahan luar biasa yang kami rasakan,” kenangnya dengan mata tampak berkaca-kaca, seakan membuka lembaran nostalgia lama yang kini terasa begitu jauh.

Sejak 1999, jauh sebelum Kabupaten Gunung Mas resmi berdiri, Hardeman telah mengabdi di wilayah yang kini menjadi bagian dari daerah tersebut. Saat Kecamatan Rungan masih berada di bawah Kabupaten Kapuas, ia sudah lebih dulu menapakkan kaki pengabdian di sana. Hingga akhirnya, setelah pemekaran tahun 2002, ia menjadi bagian dari sejarah awal berdirinya Gunung Mas dan pindah ke Kantor Bupati pada Januari 2003.

Cerita tentang Gunung Mas di awal berdiri bukanlah kisah gemerlap pembangunan, melainkan perjuangan dari titik nol. “Dulu hampir semua desa belum beraspal. Bahkan di Kuala Kurun pun jalan masih bercampur batu. Kalau ke Kahayan Hulu Utara, kami harus naik perahu,” ungkapnya.

Kini, kondisi itu telah berubah. Jalan darat mulai menghubungkan kecamatan, pembangunan terus merangkak meski di tengah keterbatasan. Bagi sebagian orang, perkembangan itu mungkin biasa saja. Namun bagi mereka yang menjalaninya sejak awal, seperti Hardeman, perubahan itu terasa luar biasa.

“Gunung Mas ini berkembang. Walaupun tertatih-tatih, tapi kita bersyukur bisa sampai di titik ini. Kritik itu penting, justru itu yang membangun,” katanya, menunjukkan kedewasaan seorang birokrat yang ditempa waktu.

Selama kariernya, Hardeman telah mengabdi di bawah empat kepemimpinan Bupati Gunung Mas. Ia tak membandingkan, apalagi menilai. Baginya, setiap pemimpin memiliki karakter dan zamannya sendiri. “Tugas kami sebagai ASN adalah menyesuaikan dan mendukung visi misi pimpinan. Itu prinsipnya,” tegas Hardeman sembari menyeruput teh di gelasnya.

Menutup masa baktinya, Hardeman menyampaikan pesan sederhana namun tajam bagi para ASN yang masih aktif. Ia menekankan pentingnya inovasi dan kemampuan beradaptasi, terutama di era teknologi saat ini.

“ASN sekarang harus melek teknologi. Jangan sampai gaptek. Kalau tidak bisa mengikuti perkembangan, pasti tertinggal,” pesannya lugas.

Tak ada ambisi muluk untuk masa pensiun. Setelah puluhan tahun berkutat dengan angka dan administrasi keuangan daerah, Hardeman justru ingin kembali ke akar kehidupannya,tanah dan alam.

“Saya ini awalnya petani. Mungkin kembali lagi jadi petani. Saya punya pondok di Kurun Seberang, ke arah Sei Hanyo. Di situlah nanti saya lebih banyak menghabiskan waktu,” tuturnya dengan senyum tipis sembari menyeka peluh di keningnya.

Dari mesin tik ke layar digital, dari desa terpencil ke pusat pemerintahan, dari hiruk-pikuk birokrasi ke sunyi ladang, perjalanan Hardeman adalah potret utuh pengabdian yang tak banyak bersuara, namun meninggalkan jejak yang nyata.(Nov/Aw)